Petuah yang Disangka Mantra
- account_circle Suaib Prawono
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 188
- print Cetak

Ilustrasi suasana masyarakat Mandar yang sedang mendengarkan petuah leluhur di tengah lanskap alam pedesaan, menggambarkan keterhubungan manusia dengan alam, adat, dan kehidupan sosial.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Petuah ini sesungguhnya menyampaikan pesan tentang akuntabilitas. Bukan akuntabilitas birokrasi atau instansi, melainkan akuntabilitas pribadi manusia terhadap Tuhan, alam, sesama, dan dirinya sendiri. Nilai ini menjadi laku hidup orang Mandar dalam relasi mereka dengan dunia.
Darmawan Mas’ud menafsirkan petuah tersebut sebagai pengetahuan tentang pentingnya menginternalisasi nilai kebaikan. Relasi vertikal manusia dengan alam melahirkan manusia yang mampu menempatkan diri secara wajar, sekaligus mengenal tata krama kosmos. Relasi horizontal dengan masyarakat melahirkan manusia yang mengenal dirinya dan tata krama sosial.
Jika keduanya digabungkan, lahirlah manusia yang mampu mengenal aturan sosial kemasyarakatan secara benar. Inilah inti dari makna ungkapan “alawe membolong di akkeadang, akkeadang membolong di alawe”.
Sumber Pengetahuan
Dalam kosmologi masyarakat lokal Mandar, alam bukan sekadar materi, melainkan sumber pengetahuan dan pedoman hidup. Banyak istilah sosial dan adat menggunakan diksi alam sebagai analogi, seperti “buttu tandi ra’bai ” (gunung yang tak boleh dieksploitasi) atau “wai tandi polong” (air yang tak terpotong) yang menunjukkan bagaimana alam dijadikan landasan nilai. Bahkan, pada masa lalu, kesuksesan seorang pemimpin kerap dibaca melalui tanda-tanda alam.
Cara pandang seperti ini hampir ada dalam setiap kosmologi masyarakat lokal. Mereka meyakini alam dapat menjadi alarm kepemimpinan. Di Mandar, sebelum mara’dia (raja) dinobatkan sebagai pemimpin, tingkah laku mereka diamati dan dikaitkan dengan tanda-tanda alam: makanan melimpah, ikan berlimpah, hingga ketiadaan penyakit menular di masyarakat.
- Penulis: Suaib Prawono

Saat ini belum ada komentar