Saro-Saro Ternate Diakui KIK, Tradisi Gotong Royong Pecahkan Rekor di Busua
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 117
- print Cetak

Perayaan di Desa Busua menjadi bukti bahwa tradisi lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah modernisasi. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Simbol Solidaritas dan Kearifan Lokal
Bagi masyarakat Maluku Utara, khususnya suku Makian dan Ternate, Saro-Saro bukan sekadar seremoni adat. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong, solidaritas, dan kepedulian sosial yang kuat.
Perayaan di Desa Busua menjadi bukti bahwa tradisi lokal tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di tengah modernisasi. Bahkan, tradisi ini mampu menciptakan momen bersejarah yang membanggakan masyarakat setempat.
Dengan telah diakuinya Saro-Saro sebagai KIK, diharapkan tradisi ini semakin terlindungi sekaligus terus dilestarikan sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Lebih dari sekadar ritual makan bersama atau pemberian hadiah, Saro-Saro menegaskan bahwa pernikahan dalam budaya Ternate adalah peristiwa sosial yang menyatukan keluarga, memperkuat nilai spiritual, dan membangun harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
- Penulis: Redaksi Nulondalo

Saat ini belum ada komentar