Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 137
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin sempit, sementara tuntutan untuk sukses datang dari mana-mana. Akhirnya, persoalan pengangguran sering berubah menjadi saling sindir antar-generasi, seolah masalah utamanya cuma soal mentalitas. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.
Sulit rasanya mengatakan pengangguran hanya lahir karena individu malas atau kurang berusaha. Banyak orang hari ini punya pendidikan, punya keterampilan, bahkan punya pengalaman organisasi yang baik, tetapi tetap kesulitan mendapat pekerjaan layak. Ada sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, ada lulusan kampus yang bertahun-tahun menganggur, ada pula yang bekerja penuh waktu tetapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk hidup tenang.
Kupikir kita atau terkhusus penyelenggara negara perlu jujur melihat bahwa masalah pengangguran bukan semata persoalan individu. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermasalah: struktur ekonomi dan arah pembangunan kita sendiri.
Giddens menjelaskan bahwa manusia memang punya kebebasan bertindak, tetapi kebebasan itu selalu dibatasi oleh struktur sosial tempat ia hidup. Sederhananya, orang bisa berusaha sekeras apa pun, tetapi ketika akses pekerjaan, distribusi ekonomi, dan kesempatan hidup sudah timpang sejak awal, maka tidak semua orang memulai dari garis yang sama.
Karena itu, narasi yang terlalu sibuk menyalahkan anak muda sering kali hanya menutupi kegagalan negara membaca masalah secara lebih mendasar.
Setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana. Pendidikan terus dipromosikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi pertanyaannya: apakah sistem ekonomi kita benar-benar siap menampung mereka?
Di banyak daerah, jawabannya belum tentu.
Lapangan kerja terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Industri tumbuh tidak merata. Sektor pertanian makin ditinggalkan, sementara pekerjaan formal semakin kompetitif. Akibatnya, banyak anak muda akhirnya masuk ke pekerjaan informal yang serba tidak pasti. Mereka bekerja sebagai pengemudi online, pekerja kontrak, freelance tanpa perlindungan, atau bahkan terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.
Ironisnya, keadaan seperti ini sering dianggap normal. Padahal pendidikan dalam masyarakat modern pun sering kali tidak benar-benar menciptakan kesetaraan, melainkan justru mereproduksi ketimpangan. Mereka yang punya akses ekonomi, koneksi sosial, dan lingkungan yang mendukung akan lebih mudah memperoleh peluang. Sementara mereka yang berasal dari kelas bawah harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama.
Itulah sebabnya ijazah hari ini tidak selalu menjamin apa-apa. Banyak orang akhirnya hidup dalam kecemasan yang panjang. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi karena sistem memang tidak menyediakan cukup ruang hidup yang layak. Kita hidup di zaman ketika orang dituntut terus produktif, terus berkembang, terus “upgrade diri”, tetapi negara sendiri tidak mampu memastikan apakah setelah semua usaha itu mereka benar-benar akan hidup lebih baik.
Dalam logika ekonomi kapitalistik, situasi ini sebenarnya bukan hal baru. Karl Marx sejak lama menyebut adanya reserve army of labour, yaitu cadangan tenaga kerja menganggur yang selalu tersedia dalam sistem kapitalisme. Kehadiran banyak pengangguran membuat posisi pekerja menjadi lemah. Upah bisa ditekan, kontrak kerja bisa dipermudah, dan perusahaan selalu punya pilihan untuk mengganti pekerja kapan saja.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar