Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pengangguran, Ketimpangan, dan Ruang Hidup yang Kian Menyempit

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
  • visibility 320
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pengangguran agaknya dijadikan media Reproduksi Ketimpangan, alih alih fokus pada Transformasi yang menyentuh Struktur. Belakangan ini, pembicaraan soal pengangguran kembali ramai. Ada yang menyebut anak muda sekarang terlalu pemilih, terlalu banyak gengsi, atau tidak tahan proses. Di sisi lain, generasi muda merasa hidup mereka memang sedang tidak baik-baik saja: biaya hidup naik, lapangan kerja makin sempit, sementara tuntutan untuk sukses datang dari mana-mana. Akhirnya, persoalan pengangguran sering berubah menjadi saling sindir antar-generasi, seolah masalah utamanya cuma soal mentalitas. Padahal persoalannya tidak sesederhana itu.

Sulit rasanya mengatakan pengangguran hanya lahir karena individu malas atau kurang berusaha. Banyak orang hari ini punya pendidikan, punya keterampilan, bahkan punya pengalaman organisasi yang baik, tetapi tetap kesulitan mendapat pekerjaan layak. Ada sarjana yang akhirnya bekerja serabutan, ada lulusan kampus yang bertahun-tahun menganggur, ada pula yang bekerja penuh waktu tetapi penghasilannya bahkan tidak cukup untuk hidup tenang.

Kupikir kita atau terkhusus penyelenggara negara perlu jujur melihat bahwa masalah pengangguran bukan semata persoalan individu. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang bermasalah: struktur ekonomi dan arah pembangunan kita sendiri.

Giddens menjelaskan bahwa manusia memang punya kebebasan bertindak, tetapi kebebasan itu selalu dibatasi oleh struktur sosial tempat ia hidup. Sederhananya, orang bisa berusaha sekeras apa pun, tetapi ketika akses pekerjaan, distribusi ekonomi, dan kesempatan hidup sudah timpang sejak awal, maka tidak semua orang memulai dari garis yang sama.

Karena itu, narasi yang terlalu sibuk menyalahkan anak muda sering kali hanya menutupi kegagalan negara membaca masalah secara lebih mendasar.

Setiap tahun kampus meluluskan ribuan sarjana. Pendidikan terus dipromosikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Tetapi pertanyaannya: apakah sistem ekonomi kita benar-benar siap menampung mereka?
Di banyak daerah, jawabannya belum tentu.

Lapangan kerja terkonsentrasi di kota-kota tertentu. Industri tumbuh tidak merata. Sektor pertanian makin ditinggalkan, sementara pekerjaan formal semakin kompetitif. Akibatnya, banyak anak muda akhirnya masuk ke pekerjaan informal yang serba tidak pasti. Mereka bekerja sebagai pengemudi online, pekerja kontrak, freelance tanpa perlindungan, atau bahkan terjebak dalam pekerjaan yang tidak sesuai dengan kemampuan mereka.

Ironisnya, keadaan seperti ini sering dianggap normal. Padahal pendidikan dalam masyarakat modern pun sering kali tidak benar-benar menciptakan kesetaraan, melainkan justru mereproduksi ketimpangan. Mereka yang punya akses ekonomi, koneksi sosial, dan lingkungan yang mendukung akan lebih mudah memperoleh peluang. Sementara mereka yang berasal dari kelas bawah harus bekerja jauh lebih keras hanya untuk mencapai titik yang sama.

Itulah sebabnya ijazah hari ini tidak selalu menjamin apa-apa. Banyak orang akhirnya hidup dalam kecemasan yang panjang. Bukan karena mereka tidak mau bekerja, tetapi karena sistem memang tidak menyediakan cukup ruang hidup yang layak. Kita hidup di zaman ketika orang dituntut terus produktif, terus berkembang, terus “upgrade diri”, tetapi negara sendiri tidak mampu memastikan apakah setelah semua usaha itu mereka benar-benar akan hidup lebih baik.

Dalam logika ekonomi kapitalistik, situasi ini sebenarnya bukan hal baru. Karl Marx sejak lama menyebut adanya reserve army of labour, yaitu cadangan tenaga kerja menganggur yang selalu tersedia dalam sistem kapitalisme. Kehadiran banyak pengangguran membuat posisi pekerja menjadi lemah. Upah bisa ditekan, kontrak kerja bisa dipermudah, dan perusahaan selalu punya pilihan untuk mengganti pekerja kapan saja.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    Ekonom NU Soroti Dampak Penunjukan Deputi Gubernur BI terhadap Kepercayaan Pasar

    • calendar_month Rabu, 4 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 283
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Penunjukan Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) menuai beragam tanggapan dari kalangan akademisi dan pelaku pasar. Salah satu kritik datang dari intelektual Nahdlatul Ulama sekaligus ekonom, Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak, yang menilai dinamika tersebut memunculkan kekhawatiran terkait independensi lembaga moneter. Dalam tulisan opininya yang berjudul; “Pasar Masuk Angin” tayang di […]

  • Ritual Mappeca Sure (Bubur Asyura); Tak Sekedar Memperingati Tragedi

    Ritual Mappeca Sure (Bubur Asyura); Tak Sekedar Memperingati Tragedi

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Fajar baru saja menyingsing di langit Karbala. Angin padang gurun mengalir pelan, membelai tenda-tenda yang berdiri di bawah langit merah muda. Seorang lelaki berusia 58 tahun baru saja menyelesaikan salat Subuh. Ia berdiri hening dalam doa, menatap ke luar tenda, ke seberang padang tempat pasukan besar telah mengepungnya. Empat ribu orang, bersenjata, berbanjar. Sementara di […]

  • DPR Soroti Skema War Tiket Haji dan Transparansi Pembiayaan 2026

    DPR Soroti Skema War Tiket Haji dan Transparansi Pembiayaan 2026

    • calendar_month Selasa, 14 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Anggota Komisi VIII DPR RI Maman Imanul Haq menilai wacana penerapan skema war tiket dalam penyelenggaraan ibadah haji perlu dikaji secara hati-hati. Ia menegaskan bahwa isu yang lebih mendesak adalah upaya mempercepat antrean keberangkatan bagi jemaah dengan kondisi khusus, seperti lanjut usia (lansia) dan mereka yang memiliki risiko kesehatan tinggi. Menurut Maman, kebijakan […]

  • RA Assalam Tenjo Borong Prestasi di Ajang AKSERA 2026

    RA Assalam Tenjo Borong Prestasi di Ajang AKSERA 2026

    • calendar_month Selasa, 28 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 269
    • 0Komentar

    nulondalo.com – RA Assalam Tenjo kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang AKSERA (Ajang Kreativitas, Seni, Olahraga, dan Agama Anak RA) tingkat Parungpanjang, Rumpin, dan Tenjo. Kegiatan yang berlangsung di Ocean Park BSD pada 27 April 2026 tersebut diikuti oleh 10 RA dengan total sekitar 500 siswa. Ajang ini menjadi ruang bagi anak-anak usia dini untuk […]

  • Tambang Diduga Ilegal di Moncongloe Beroperasi Terang-Terangan, PERJOSI Desak APH Bertindak

    Tambang Diduga Ilegal di Moncongloe Beroperasi Terang-Terangan, PERJOSI Desak APH Bertindak

    • calendar_month Rabu, 3 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 165
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Aktivitas pertambangan yang diduga tidak mengantongi izin kembali menjadi sorotan di Kabupaten Maros. Kali ini, lokasi tambang yang berada di wilayah Bonto Bunga, Kecamatan Moncongloe, Sulawesi Selatan, terpantau masih beroperasi secara leluasa dengan melibatkan alat berat dan armada pengangkut material. Berdasarkan hasil investigasi lapangan yang dilakukan pada Rabu (3/6/2026), sejumlah ekskavator dan […]

  • Pelantikan Massal IKA PMII se-Gorontalo Usung Tema “Sahabat Pangan”

    Pelantikan Massal IKA PMII se-Gorontalo Usung Tema “Sahabat Pangan”

    • calendar_month Sabtu, 2 Agt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan  Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII), Drs. H. Fathan Subhi, M.AP., melantik pengurus cabang IKA PMII se-Provinsi Gorontalo. Acara tersebut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, para kepala daerah kabupaten/kota, Rektor Universitas Gorontalo, Ketua PWNU Gorontalo, serta anggota DPRD Provinsi, Senin (11/8/2025), Aston Hotel. Ketua Pengurus Wilayah IKA PMII […]

expand_less