Baju Baru Lebaran: Antara Sunnah, Syukur, dan Makna yang Sering Terlupa
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 113
- print Cetak

Keluarga Muslim membawa belanjaan pakaian baru di suasana menjelang Idul Fitri, mencerminkan kebahagiaan, rasa syukur, dan semangat menyambut hari kemenangan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tradisi ini kemudian diperkuat oleh pandangan ulama, termasuk Imam Syafi’i yang menyatakan bahwa ia menyukai seseorang keluar pada hari raya dengan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki.
Menariknya, sebagian ulama menafsirkan “pakaian terbaik” ini sebagai pakaian baru. Syekh Ahmad bin Ghunaim An-Nafrawi, seorang ulama dari mazhab Maliki, menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan pakaian baik dalam konteks hari raya adalah pakaian baru, meskipun sederhana.
Lebih dari Sekadar Tampilan
Di balik anjuran tersebut, terdapat hikmah yang sering kali terabaikan. Pertama, memakai pakaian terbaik adalah bentuk ekspresi syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah diberikan, termasuk nikmat menyelesaikan ibadah puasa Ramadhan.
Kedua, hal ini merupakan bagian dari upaya mengagungkan hari raya. Idulfitri bukan sekadar perayaan sosial, melainkan momen spiritual yang menandai kemenangan setelah sebulan penuh menahan diri.
Ketiga, ulama juga menjelaskan bahwa memakai pakaian terbaik adalah bentuk penghormatan terhadap malaikat yang hadir di sekitar manusia pada hari-hari mulia tersebut. Artinya, dimensi spiritual dalam anjuran ini jauh lebih dalam dibanding sekadar urusan penampilan.
Hal ini juga disampaikan oleh Ustadz Ahmad Muntaha, Wakil Sekretaris Lembaga Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur, pada tahun 2018 melalui NU Online.
Ia menegaskan bahwa anjuran memakai pakaian terbaik di hari raya tidak boleh dipahami sebagai kewajiban membeli yang baru, melainkan sebagai bentuk kepantasan, kebersihan, dan penghormatan terhadap momentum Idulfitri.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar