Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tumbilotohe: Cahaya Tradisi Gorontalo Menyambut Idulfitri

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
  • visibility 295
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Di Gorontalo, ada sebuah tradisi yang sarat dengan nilai adat dan spiritualitas Islam, yakni tumbilotohe. Tradisi ini digelar setiap malam ke-27 Ramadan dan dikenal sebagai malam pemasangan lampu oleh masyarakat di berbagai sudut kota dan desa.

Konon, tradisi tumbilotohe telah ada sejak abad ke-15 Masehi. Pada masa itu, warga yang hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat tarawih dan membayar zakat membutuhkan penerangan di sepanjang jalan. Karena belum ada listrik, masyarakat menggunakan lampu yang dibuat dari getah damar sebagai sumber cahaya. Lampu tradisional tersebut mampu menyala cukup lama dan menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat yang menuju masjid.

Seiring perkembangan zaman, lampu dari getah damar kemudian digantikan dengan lampu padamala, yaitu lampu tradisional berbahan minyak kelapa, air, dan sumbu kapas. Biasanya lampu ini ditempatkan dalam cangkir kecil yang diberi warna sehingga terlihat indah saat disusun dan dinyalakan.

Tumbilotohe sebagai Tradisi Penghargaan

Bagi masyarakat Gorontalo, tumbilotohe bukan sekadar tradisi adat, melainkan simbol penghargaan bagi umat Islam yang telah menjalani ibadah puasa selama hampir sebulan penuh. Tradisi ini menjadi penanda bahwa bulan Ramadan akan segera berakhir, sekaligus momentum untuk menyambut malam-malam penuh kemuliaan.

Di kalangan Nahdliyin Gorontalo, tumbilotohe juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat Nabi yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada malam ke-27 Ramadan, ketika lampu-lampu dinyalakan, masyarakat biasanya menyebut nama keempat sahabat tersebut secara berurutan sambil membaca Surah Al-Qadr.

Lampu-lampu tradisional itu dipasang di depan rumah, di pinggir jalan, bahkan di tanah lapang. Jumlah lampu yang dipasang biasanya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memasang alikusu di pintu gerbang rumah. Alikusu merupakan kerangka hias yang mengikuti bentuk gerbang rumah dan dihiasi patodu (batang tebu) serta lambi (pohon pisang yang berbuah). Dalam tradisi ini, alikusu memiliki makna simbolik sebagai tempat hidup atau tempat tinggal. Lampu-lampu yang dinyalakan di dalamnya menjadi penerang agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan hidup.

Secara filosofis, alikusu juga dimaknai sebagai tempat berkumpulnya roh dan jasad para leluhur. Lampu melambangkan jasad, sedangkan cahaya lampu melambangkan ruh.

Tradisi yang Sarat Harapan Keberkahan

Masyarakat Gorontalo meyakini bahwa Tumbilotohe adalah tradisi yang sarat harapan untuk memperoleh keberkahan pada malam Lailatul Qadr, yang diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Pada malam Tumbilotohe, biasanya ada anak-anak atau remaja yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta zakati (uang sedekah). Tradisi ini dipercaya sebagai bagian dari upaya mencari keberkahan di malam yang mulia tersebut.

Selain lampu damar dan padamala, masyarakat juga menggunakan moronggo, yaitu obor yang terbuat dari bambu kuning dengan sumbu kain atau sabut kelapa yang direndam minyak tanah. Ada pula tonggolo’opo, semacam lampion bambu yang dibuat dari bambu besar yang dibelah pada bagian ujungnya, lalu dihiasi kertas warna-warni dengan lampu di dalamnya.

Ketika malam Tumbilotohe tiba, suasana Kota Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan bahkan jutaan tohetutu (lampu botol berisi minyak tanah) dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah, hingga tanah lapang. Jalanan menjadi ramai oleh warga yang ingin menyaksikan keindahan lampu-lampu tersebut, sehingga kemacetan sering kali tak terhindarkan.

Momentum Muhasabah di Penghujung Ramadan

Tumbilotohe tidak hanya menjadi perayaan yang meriah, tetapi juga momentum muhasabah atau refleksi diri di penghujung Ramadan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk merenungkan perjalanan spiritual selama sebulan berpuasa.

Dalam beberapa hal, tradisi ini sering dibandingkan dengan Diwali di India yang juga dikenal sebagai festival cahaya. Namun perbedaannya, tumbilotohe memiliki konteks keagamaan Islam yang kuat karena dilaksanakan pada malam-malam terakhir Ramadan.

Keunikan tradisi ini juga mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2007, tumbilotohe tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ketika masyarakat Gorontalo berhasil menyalakan sekitar lima juta lampu secara serentak.

Bagi warga Gorontalo yang berada di perantauan, Tumbilotohe menjadi magnet tersendiri untuk pulang kampung. Banyak yang tidak ingin melewatkan momen istimewa ini, karena bagi mereka tumbilotohe bukan sekadar tradisi, melainkan cahaya kebersamaan, spiritualitas, dan identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

  • Penulis: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PT Pegadaian Kanwil 9 Jakarta 2 Berangkatkan 500 Orang, Mudik 2025 Aman Sampai Tujuan 

    PT Pegadaian Kanwil 9 Jakarta 2 Berangkatkan 500 Orang, Mudik 2025 Aman Sampai Tujuan 

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1446 H, PT Pegadaian Kanwil 9 Jakarta 2 kembali menggelar program Mudik Gratis bagi masyarakat. Program ini merupakan bagian dari komitmen perusahaan dalam mendukung mobilitas masyarakat yang ingin merayakan Lebaran di kampung halaman dengan aman sampai tujuan. Jakarta, 27 Maret 2025. Acara pelepasan peserta mudik gratis ini dilaksanakan […]

  • Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    Kontroversi Abah Aos dan Ujian Akidah Umat di Era Media Sosial

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Nur Shollah Bek
    • visibility 499
    • 0Komentar

    “Menimbang Klaim Spiritual dengan Al-Qur’an, Sunnah, dan Akal Sehat” Nama Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul—yang dikenal luas sebagai Abah Aos—kembali menjadi pusat perhatian publik. Tokoh spiritual Tarekat Qodiriyyah Naqsyabandiyyah (TQN) asal Ciamis, Jawa Barat ini menuai gelombang kritik dari berbagai kalangan umat Islam akibat sejumlah pernyataan yang beredar luas di media sosial dan dinilai […]

  • Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    Pertemuan Penuh Makna! Ini Harapan Besar dari Safari Idulfitri di Gorontalo

    • calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kunjungan Safari Idulfitri 1447 Hijriah yang dilakukan Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, disambut hangat oleh Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi, bersama Wakil Bupati Tonny S. Junus di Rumah Dinas Bupati, Selasa (24/03/2026). Pertemuan yang berlangsung dalam suasana penuh keakraban ini menjadi bagian dari tradisi tahunan pasca-Idulfitri yang tidak hanya dimaknai sebagai ajang silaturahmi, tetapi juga sebagai […]

  • Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    Dinas PPPA Provinsi Gorontalo Dipertahankan di Tengah Wacana Peleburan

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Wakil Gubernur Gorontalo Idah Syahidah Rusli Habibie, menegaskan pentingnya mempertahankan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) sebagai lembaga mandiri, menyusul wacana peleburan dengan Dinas Sosial. Penegasan ini disampaikannya saat menjadi narasumber dalam kegiatan FGD percepatan Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) Pengarusutamaan Gender (PUG) di Kantor Dinas PPPA Provinsi Gorontalo, Selasa (1/6/2025). Dalam sambutannya, Wagub Idah […]

  • Bareskrim Geledah Tiga Lokasi di Jatim, Bongkar Dugaan TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun

    Bareskrim Geledah Tiga Lokasi di Jatim, Bongkar Dugaan TPPU Tambang Emas Ilegal Rp25,8 Triliun

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 206
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus (Dittipideksus) Bareskrim Polri menggeledah tiga lokasi di wilayah Surabaya dan Nganjuk, Jawa Timur, terkait pengembangan kasus dugaan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) hasil tambang emas ilegal. Salah satu lokasi yang digeledah adalah Toko Emas Semar di Kabupaten Nganjuk. Direktur Tipideksus Bareskrim Polri, Ade Safri Simanjuntak, mengatakan […]

  • Gusnar Optimistis, Meski Masyarakat Belum Paham, Pidana Kerja Sosial Tetap Jalan

    Gusnar Optimistis, Meski Masyarakat Belum Paham, Pidana Kerja Sosial Tetap Jalan

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 170
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail menyatakan dukungan penuh terhadap penerapan Pidana Kerja Sosial yang direncanakan mulai diberlakukan pada tahun 2026, meski ia menyadari masih banyak masyarakat yang belum memahami hukum baru ini. Dukungan tersebut disampaikan saat penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Daerah, Kejaksaan, dan Jamkrindo di Aula Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo, Senin (22/12/2025). […]

expand_less