Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tumbilotohe: Cahaya Tradisi Gorontalo Menyambut Idulfitri

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
  • visibility 152
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Setiap daerah di Indonesia memiliki cara tersendiri dalam menyambut Hari Raya Idulfitri. Di Gorontalo, ada sebuah tradisi yang sarat dengan nilai adat dan spiritualitas Islam, yakni tumbilotohe. Tradisi ini digelar setiap malam ke-27 Ramadan dan dikenal sebagai malam pemasangan lampu oleh masyarakat di berbagai sudut kota dan desa.

Konon, tradisi tumbilotohe telah ada sejak abad ke-15 Masehi. Pada masa itu, warga yang hendak menuju masjid untuk melaksanakan salat tarawih dan membayar zakat membutuhkan penerangan di sepanjang jalan. Karena belum ada listrik, masyarakat menggunakan lampu yang dibuat dari getah damar sebagai sumber cahaya. Lampu tradisional tersebut mampu menyala cukup lama dan menjadi penunjuk jalan bagi masyarakat yang menuju masjid.

Seiring perkembangan zaman, lampu dari getah damar kemudian digantikan dengan lampu padamala, yaitu lampu tradisional berbahan minyak kelapa, air, dan sumbu kapas. Biasanya lampu ini ditempatkan dalam cangkir kecil yang diberi warna sehingga terlihat indah saat disusun dan dinyalakan.

Tumbilotohe sebagai Tradisi Penghargaan

Bagi masyarakat Gorontalo, tumbilotohe bukan sekadar tradisi adat, melainkan simbol penghargaan bagi umat Islam yang telah menjalani ibadah puasa selama hampir sebulan penuh. Tradisi ini menjadi penanda bahwa bulan Ramadan akan segera berakhir, sekaligus momentum untuk menyambut malam-malam penuh kemuliaan.

Di kalangan Nahdliyin Gorontalo, tumbilotohe juga dimaknai sebagai bentuk penghormatan terhadap para sahabat Nabi yang dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin: Abu Bakar As-Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib. Pada malam ke-27 Ramadan, ketika lampu-lampu dinyalakan, masyarakat biasanya menyebut nama keempat sahabat tersebut secara berurutan sambil membaca Surah Al-Qadr.

Lampu-lampu tradisional itu dipasang di depan rumah, di pinggir jalan, bahkan di tanah lapang. Jumlah lampu yang dipasang biasanya disesuaikan dengan jumlah anggota keluarga yang tinggal di rumah tersebut.

Selain itu, masyarakat Gorontalo juga memasang alikusu di pintu gerbang rumah. Alikusu merupakan kerangka hias yang mengikuti bentuk gerbang rumah dan dihiasi patodu (batang tebu) serta lambi (pohon pisang yang berbuah). Dalam tradisi ini, alikusu memiliki makna simbolik sebagai tempat hidup atau tempat tinggal. Lampu-lampu yang dinyalakan di dalamnya menjadi penerang agar manusia tidak tersesat dalam perjalanan hidup.

Secara filosofis, alikusu juga dimaknai sebagai tempat berkumpulnya roh dan jasad para leluhur. Lampu melambangkan jasad, sedangkan cahaya lampu melambangkan ruh.

Tradisi yang Sarat Harapan Keberkahan

Masyarakat Gorontalo meyakini bahwa Tumbilotohe adalah tradisi yang sarat harapan untuk memperoleh keberkahan pada malam Lailatul Qadr, yang diyakini terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan.

Pada malam Tumbilotohe, biasanya ada anak-anak atau remaja yang berkeliling dari rumah ke rumah untuk meminta zakati (uang sedekah). Tradisi ini dipercaya sebagai bagian dari upaya mencari keberkahan di malam yang mulia tersebut.

Selain lampu damar dan padamala, masyarakat juga menggunakan moronggo, yaitu obor yang terbuat dari bambu kuning dengan sumbu kain atau sabut kelapa yang direndam minyak tanah. Ada pula tonggolo’opo, semacam lampion bambu yang dibuat dari bambu besar yang dibelah pada bagian ujungnya, lalu dihiasi kertas warna-warni dengan lampu di dalamnya.

Ketika malam Tumbilotohe tiba, suasana Kota Gorontalo berubah menjadi lautan cahaya. Ribuan bahkan jutaan tohetutu (lampu botol berisi minyak tanah) dipasang di sepanjang jalan, halaman rumah, hingga tanah lapang. Jalanan menjadi ramai oleh warga yang ingin menyaksikan keindahan lampu-lampu tersebut, sehingga kemacetan sering kali tak terhindarkan.

Momentum Muhasabah di Penghujung Ramadan

Tumbilotohe tidak hanya menjadi perayaan yang meriah, tetapi juga momentum muhasabah atau refleksi diri di penghujung Ramadan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk merenungkan perjalanan spiritual selama sebulan berpuasa.

Dalam beberapa hal, tradisi ini sering dibandingkan dengan Diwali di India yang juga dikenal sebagai festival cahaya. Namun perbedaannya, tumbilotohe memiliki konteks keagamaan Islam yang kuat karena dilaksanakan pada malam-malam terakhir Ramadan.

Keunikan tradisi ini juga mendapat pengakuan nasional. Pada tahun 2007, tumbilotohe tercatat dalam Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) ketika masyarakat Gorontalo berhasil menyalakan sekitar lima juta lampu secara serentak.

Bagi warga Gorontalo yang berada di perantauan, Tumbilotohe menjadi magnet tersendiri untuk pulang kampung. Banyak yang tidak ingin melewatkan momen istimewa ini, karena bagi mereka tumbilotohe bukan sekadar tradisi, melainkan cahaya kebersamaan, spiritualitas, dan identitas budaya yang terus hidup dari generasi ke generasi.

  • Penulis: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 99
    • 0Komentar

    Kalau Anda bertanya kepada seorang muslim, apakah ia punya niatan naik haji, maka dari  jutaaan mereka nyaris punya jawaban yang sama, “ingin berhaji melengkapi rukun Islam kelima. Saya pun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah […]

  • Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    Ramadhan, Sutra, dan Kesabaran: Belajar dari Lipa’ Sa’be Bugis

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Afidatul Asmar
    • visibility 187
    • 0Komentar

    Di tanah Bugis, ada selembar kain yang tidak sekadar kain. Ia adalah cerita tentang kesabaran, ketelitian, dan peradaban yang panjang. Kain itu dikenal dengan nama Lipa’ Sa’be. Di balik setiap helai benang sutra itu, ada tangan-tangan perempuan Bugis yang bekerja dengan ketelitian dan kesabaran. Mereka duduk berjam-jam di depan alat tenun, menggerakkan benang demi benang […]

  • Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 193
    • 0Komentar

    Banyak orang menjelaskan dominasi Amerika Serikat di dunia dengan dua kata kunci: ekonomi dan militer. Memang benar, negara itu memiliki mesin ekonomi yang raksasa dan kekuatan militer yang sulit ditandingi. Namun penjelasan semacam itu sering melewatkan satu hal yang jauh lebih menentukan: kemampuan membentuk cara dunia berpikir. Dalam politik global modern, kekuasaan tidak selalu tampil […]

  • Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    Medan Ekstrem dan Kabut Tebal, Tim SAR Amankan Jenazah Korban Kedua ATR 42-500

    • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Operasi pencarian korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, kembali membuahkan hasil. Satu jenazah korban kedua berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan di medan pegunungan yang ekstrem, Senin (19/1/2026). Korban ditemukan oleh Saiful Malik, anggota Komunitas Pencinta Alam Arai Sulawesi Selatan, […]

  • Si Jago Merah Mengamuk di Kota Gorontalo, Permukiman Padat Penduduk Terbakar photo_camera 11

    Si Jago Merah Mengamuk di Kota Gorontalo, Permukiman Padat Penduduk Terbakar

    • calendar_month Selasa, 16 Des 2025
    • account_circle Rival
    • visibility 178
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Kebakaran hebat melanda permukiman padat penduduk di Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Selasa (16/12/2025). Sedikitnya lima rumah warga dilaporkan hangus dilalap si jago merah. Informasi yang dihimpun redaksi di lokasi kejadian, api dengan cepat membesar dan merambat ke rumah-rumah warga yang saling berdekatan. Warga sekitar panik dan berusaha menyelamatkan diri serta barang-barang […]

  • Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Pemanfaatan SDA

    Presiden Cabut Izin 28 Perusahaan Pelanggar Pemanfaatan SDA

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 214
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Presiden RI memutuskan mencabut izin 28 perusahaan yang terbukti melakukan pelanggaran dalam pemanfaatan sumber daya alam. Keputusan tersebut diambil setelah Presiden memimpin rapat terbatas (ratas) bersama kementerian dan lembaga terkait serta Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH). Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan, keputusan pencabutan izin didasarkan pada laporan hasil evaluasi pelanggaran […]

expand_less