Breaking News
light_mode
Trending Tags

Bapsae: Kritik Gap Generasi ala BTS

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
  • visibility 229
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Terus terang, saya tidak pernah menaruh ekspektasi apa pun pada BTS selain sebagai band pop yang rapi dan menyenangkan. Dalam bayangan saya, K-Pop—termasuk BTS—adalah industri yang sangat efisien menjual visual, koreografi, dan kemasan. Musiknya menghibur, energik, dan selesai di situ. Pure entertainment. Tidak lebih.

Pandangan saya mulai terkoreksi ketika, dalam satu diskusi tentang masa depan NU di Makassar dan di kelas pemikiran Gusdur (KPG), Mbak Alissa Wahid—Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian sekaligus mentor saya—menyebut BTS dengan cara yang berbeda. Ia menyebutkan bahwa lirik-lirik BTS bukan sekadar manis, melainkan menyimpan bahasa perlawanan.

Rasa penasaran itu mendorong saya membuka mesin pencari dan berjumpa dengan lagu Bapsae. Dari situ muncul kejutan kecil yang menyenangkan. Di balik wajah-wajah sempurna dan koreografi yang nyaris tanpa celah, ternyata tersimpan kegelisahan sosial yang tajam, jujur, dan terasa dekat dengan pengalaman banyak generasi muda hari ini.

Melalui lagu Bapsae, BTS bercerita tentang dua generasi: bapsae, burung kecil dengan segala keterbatasannya, dan hwangsae, burung besar yang lebih dulu menikmati medan hidup yang lapang. Metafora ini diambil dari peribahasa Korea: burung pipit yang memaksakan diri berjalan seperti bangau hanya akan melukai kakinya sendiri. Sederhana, tapi menghantam. Bapsae dituntut terbang setinggi hwangsae, berlari secepat mereka, dan sukses dengan ukuran yang sama—tanpa pernah benar-benar dibekali alat yang setara.

Di sinilah kritiknya bekerja. Bapsae tidak sedang menyindir kemalasan generasi muda, justru sebaliknya. Lagu ini mengejek logika yang terlalu mudah menyalahkan individu. Kerja keras dijadikan mantra moral, seolah semua orang memulai dari titik yang sama. Padahal medan hidup sudah berubah. Ketika bapsae gagal, yang dipersoalkan bukan sistemnya, melainkan mentalnya. Kurang tahan banting, kurang sabar, kurang bersyukur.

Beberapa potongan lirik Bapsae terasa seperti gumaman yang akrab di telinga banyak anak muda: kelelahan karena terus dibandingkan, dinasihati, dan dituntut, tapi jarang didengarkan. Nada lagunya memang enerjik, hampir seperti pesta, tapi liriknya sinis dan sadar kelas. BTS seolah sedang berkata: kami tidak menolak kerja keras, tapi jangan pura-pura buta pada ketimpangan.

Yang membuat lagu ini menarik justru caranya menyampaikan kritik. Tidak menggurui. Tidak juga terasa seperti manifesto politik. Bapsae lebih mirip curhat kolektif—tentang rasa capek yang sering tidak punya bahasa. Dan karena dibungkus sebagai lagu pop, kritik itu terasa ringan, mudah diterima, bahkan nyaris lolos dari radar mereka yang menganggap budaya pop tidak pernah serius.

Jika ditarik ke konteks kita, Bapsae terasa akrab. Banyak generasi muda hari ini hidup di bawah tekanan yang serupa: biaya hidup yang terus naik, persaingan yang kian ketat, sementara standar sukses tetap tinggi dan jarang ditinjau ulang. Nasihat lama diwariskan dari generasi ke generasi, seolah medan hidup tidak pernah berubah.

Lagu ini juga berbicara kepada kita, generasi hwangsae. Kita harus menyadari bahwa struktur yang dibentuk di masa lalu mungkin tidak lagi cocok untuk mereka yang sedang tumbuh hari ini. Mengakui ketimpangan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah sadar untuk memahami pengalaman generasi baru dan membuka ruang agar proses mereka tidak terus-menerus terbentur pada standar lama.

Refleksi semacam ini juga memberi kesempatan untuk membangun jembatan, bukan sekadar mengulang aturan lama. Generasi Hwangsae bisa memilih untuk mendengar, menyesuaikan ritme, dan menyadari  untuk menciptakan sistem yang memberi ruang bagi mereka yang masih belajar seperti burung kecil bapsae. 

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Warga NU Tegaskan Fiqh al-Bi’ah dan Keberpihakan pada Kaum Mustadl’afin photo_camera 10

    Warga NU Tegaskan Fiqh al-Bi’ah dan Keberpihakan pada Kaum Mustadl’afin

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 104
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Di bawah rimbun pepohonan Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (21/12/2025), suasana kediaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi saksi pertemuan penuh makna. Bukan sekadar forum temu warga, Musyawarah Besar Warga Nahdlatul Ulama (NU) kali ini menjelma ruang keprihatinan sekaligus harapan, tempat nilai-nilai jam’iyyah dirawat di tengah polemik PBNU. Dengan mengusung tema “Mengembalikan NU […]

  • Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

    Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Orang NU kalau melihat bencana biasanya langsung bilang, “Ini bukan murka Tuhan, tapi kelalaian manusia.” Gus Dur malah lebih tajam: “Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak pengampun itu manusia”terutama kalau sudah pegang izin tambang. Di Aceh dan Sumatera, izin usaha ekstraktif tumbuh lebih subur daripada pohon mahoni. Bedanya, mahoni menahan air, izin tambang menahan akal […]

  • Rencana Industri Panas Bumi di Halmahera Barat, Ketua SEMA-HABAR : Saya Menyarankan Pemda dan DPRD Untuk Mengkaji Ulang

    Rencana Industri Panas Bumi di Halmahera Barat, Ketua SEMA-HABAR : Saya Menyarankan Pemda dan DPRD Untuk Mengkaji Ulang

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Nulondalo – Riwan Basir, Ketua Umum Sentral Mahasiswa Halmahera Barat (SEMA-HABAR) menyampaikan pandangannya soal rencana masuknya industri panas bumi di kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara. Ia menilai, meskipun industri ini berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, pemerintah daerah harus mempertimbangkan dampak negatifnya terhadap lingkungan dan masyarakat. “Saat ini, Halmahera Barat mengalami tekanan ekonomi dengan pendapatan APBD yang […]

  • MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    MBG Strategi Besar Pemerintah Membangun SDM Sejak Dini

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 67
    • 0Komentar

    Pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Gorontalo kembali mempererat sinergi untuk menyukseskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini terlihat dalam rapat koordinasi yang digelar di Ruang Dulohupa, Kantor Gubernur Gorontalo, Rabu (2/7/2025). Program MBG merupakan salah satu program prioritas nasional yang diinisiasi oleh Presiden Prabowo Subianto, dalam rangka membangun generasi sehat dan unggul menuju […]

  • SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    SK Presiden Diserahkan, 11 Pimpinan Baznas Siap Jalankan Tugas Lima Tahun ke Depan

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 108
    • 0Komentar

    nulondalo.com– Menteri Agama Nasaruddin Umar secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) Presiden kepada jajaran pimpinan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) masa jabatan 2026–2031. Penyerahan SK dari Presiden Prabowo Subianto tersebut berlangsung di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Momentum ini menandai dimulainya masa bakti 11 pimpinan Baznas yang akan menjalankan tugas selama lima tahun ke […]

  • Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini Play Button

    Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini

    • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 210
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Bagaimana seharusnya Islam hadir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan syariat? Pertanyaan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sebuah pengajian yang digelar secara mendadak dan disiarkan melalui kanal youtube NUtizen Televisi, pada dua tahun yang lalu. Pengajian tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo sekaligus Pengurus Lembaga […]

expand_less