Bedah Buku 100 Tahun Ahmadiyah di Indonesia, Perkuat Pesan Damai dan Kebersamaan Lintas Iman
- account_circle Redaksi Nulondalo
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 10
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ia mengatakan, sejak hadir di Indonesia pada tahun 1924, Ahmadiyah membangun berbagai kegiatan sosial secara mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
“Muslim Ahmadiyah meyakini bahwa Islam adalah agama yang rasional dan selaras dengan ilmu pengetahuan. Al-Qur’an tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman,” katanya.
Zaki juga menegaskan bahwa prinsip Love for All, Hatred for None (Cinta untuk Semua, Tidak Ada Kebencian untuk Siapa Pun) yang diperkenalkan Khalifah Ahmadiyah Hazrat Mirza Tahir Ahmad pada 1980 menjadi landasan utama gerakan Ahmadiyah di seluruh dunia.
Menurutnya, prinsip tersebut tercermin dalam berbagai aktivitas sosial dan sikap jemaat yang mengedepankan perdamaian meskipun menghadapi berbagai bentuk diskriminasi dan persekusi.
“Meskipun jemaat Ahmadiyah mengalami berbagai bentuk persekusi, kami tidak membalas dengan kekerasan. Bagi kami, kekerasan tidak perlu dibalas dengan kekerasan,” ujarnya.
Dalam sesi bedah buku, Pdt. Ruth Ketsia Wangkai menilai Ahmadiyah sebagai komunitas yang terbuka dan konsisten menjalankan nilai-nilai kemanusiaan.
“Love for All, Hatred for None bukan hanya slogan, tetapi benar-benar menjadi prinsip hidup yang dijalankan,” katanya sambil menceritakan keterlibatan Ahmadiyah dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk donor darah.
Sementara itu, Iswan Sual menilai hubungan yang terjalin antara komunitasnya dengan Jemaat Ahmadiyah lebih banyak dibangun melalui kerja-kerja kemanusiaan daripada perdebatan perbedaan keyakinan.
“Jemaat Ahmadiyah menunjukkan keseriusan dalam misi-misi kemanusiaan. Kehadiran mereka turut mengubah berbagai prasangka terhadap umat Islam,” ujarnya.
Akademisi IAIN Manado, Taufani, dalam paparannya menyinggung sejarah lahirnya fatwa sesat terhadap Ahmadiyah yang menurutnya tidak terlepas dari pengaruh keputusan Liga Muslim Dunia tahun 1974.
Ia mendorong agar ruang dialog antara Majelis Ulama Indonesia (MUI), Ahmadiyah, dan Syiah terus dibuka demi membangun pemahaman yang lebih baik di tengah masyarakat.
Menurut Taufani, tradisi Ahmadiyah memiliki kekuatan pada aspek rasionalitas keagamaan. Namun, ia juga memberikan sejumlah catatan konstruktif, di antaranya perlunya penguatan tradisi intelektual melalui pembangunan institusi pendidikan tinggi dan penyediaan program beasiswa.
“Kegiatan seperti ini penting untuk terus dilakukan. Ahmadiyah perlu memikirkan pembangunan kampus besar dan menawarkan scholarship sebagai investasi jangka panjang,” katanya.
Ia juga menyarankan agar setiap mubalig Ahmadiyah memperkuat silaturahmi dengan imam-imam masjid di berbagai daerah serta aktif beribadah bersama masyarakat luas sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi dan mengurangi jarak sosial.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan Taman Eben Haezer, Tateli, Minahasa, Sulawesi Utara, itu turut dihadiri tokoh agama, akademisi, mahasiswa, pegiat lintas iman, serta Koordinator Wilayah Gusdurian Sulampapua, Djemi Radji.
- Penulis: Redaksi Nulondalo
