Deviden Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 58
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Deviden langit juga tidak dibagikan secara instan seperti deviden saham. Ia sering datang dalam bentuk yang tidak terduga: ketenangan hati, kemudahan hidup, atau bahkan kesabaran menghadapi ujian. Dalam bahasa akuntansi, ini seperti non-cash benefit—tidak terlihat secara kasat mata, tapi nilainya sangat besar.
Yang menarik, Ramadhan mengajarkan bahwa distribusi deviden langit tidak mengenal oligarki. Tidak peduli Anda direktur, dosen, petani, atau tukang ojek—semua punya peluang yang sama. Yang membedakan bukan kapital finansial, tapi kapital langit. Ini adalah sistem ekonomi paling adil yang pernah ada: tanpa insider trading, tanpa manipulasi pasar, tanpa moral hazard.
Pada akhirnya, “Deviden Langit” mengajak kita untuk menertawakan diri sendiri. Bahwa selama ini kita terlalu serius mengejar angka dunia, tapi santai saja dengan angka akhirat. Kita sibuk menghitung saldo rekening, tapi lupa mengecek saldo amal.
Maka di Ramadhan ini, mari kita susun laporan keuangan yang sedikit berbeda. Tidak perlu Excel, tidak perlu software akuntansi canggih. Cukup dengan kejujuran hati dan kesadaran diri. Karena pada akhirnya, laporan itu akan dipresentasikan bukan di ruang rapat, tapi di hadapan Tuhan.
Dan percayalah, di sana tidak ada istilah “window dressing”. Yang ada hanya satu: apakah kita benar-benar layak menerima deviden langit, atau justru harus melakukan audit ulang atas hidup kita sendiri.
Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar