Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Matoduwolo Kiyai, Mari Kiyai, Silahkan Kiyai

  • account_circle Asrul G.H. Lasapa
  • calendar_month Minggu, 13 Nov 2022
  • visibility 182
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di mana-mana, sering kita mendengar panggilan “kiyai” kepada seseorang. Panggilan ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, khususnya pada momen-momen keagamaan.

Tak peduli apakah seseorang yang dipanggil kiyai tersebut pantas menyandang gelar sakral ini atau tidak. Entah parameter apa yang dipakai sehingga begitu mudahnya sebutan kiyai dialamatkan kepada seseorang.. 

Apakah setiap penceramah, ustadz atau guru agama, bisa kita panggil kiyai ? Apakah karena dia tokoh agama atau karena pimpinan sebuah organisasi Islam, lantas secara otomatis kita beri dia label kiyai di depan namanya ? Untuk menjawabnya, butuh banyak bacaan atau referensi serta diskusi yang panjang. Diskusinya pun tidak sekedar diskusi di warung kopi.

Di kalangan masyarakat Jawa, panggilan kiyai diberikan kepada seorang ulama kharismatik, punya jemaah yang banyak, pimpinan pesantren atau seorang guru yang sangat ahli dalam bidang agama, menguasai bahasa Arab dan ilmu alat lainnya, menguasai kitab kuning serta memiliki tingkat kezuhudan dan kewara’annya yang tinggi. 

Paling tidak itulah kriteria minimal yang menjadi alasan bagi masyarakat memanggil mereka sebagai kiyai. Adapun anak-anak atau keturunan para kiyai tersebut biasa dipanggil dengan Gus atau Bagus. Ini juga berarti tidak semua orang bisa dipanggil “Gus” kecuali dia adalah anak Kiyai.

Jika di Jawa masyarakat memanggil seorang ulama dengan sebutan kiyai, maka lain lagi di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Nusa Tenggara.   Di daerah-daerah ini, ulama besar dan kharismatik, lebih dikenal dengan panggilan Abuya, Tuan Guru, Ajengan, Anre Gurutta dan sebutan-sebutan lainnya yang berlaku sesuai kearifan lokal. 

Pada tataran akademik, para ahli banyak memberikan defenisi tentang siapa yang disebut kiyai. Salah satu di antaranya adalah defenisi yang dikemukakan oleh Zamaksyari Dhofier, bahwa kiyai adalah “gelar yang diberikan oleh masyarakat kepada seseorang ahli agama islam yang memiliki atau menjadi pimpinan pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik kepada para santrinya”. Merujuk pada pengertian ini, jelas bahwa seseorang disebut kiyai adalah jika dia benar-benar memiliki keunggulan khusus dari sisi keilmuan dan skill keagamaan. 

Untuk menjadi bahan renungan, mungkin sepenggal kutipan yang disampaikan oleh Pof. Dr. K.H. Muhammad Tolhah Hasan, MA, dengan judul “Hibrida Kultural dan Tradisi Intelektual Pesantren dari Masa ke Masa” yang sekaligus menjadi prolog buku “Intelektualisme Pesantren” disebutkan sebagai berikut : 

“Ciri khas yang paling menyolok dalam tradisi intelektual pesantren adalah jaringan, silsilah, sanad, ataupun genealogi yang bersifat musalsal (berkesinambungan) untuk menentukan tingkat efisoterisitas dan kualitas keulamaan seorang intelektual. 

Hal ini pula yang membedakan tradisi intelektual pesantren dengan – misalnya – tradisi intelektual di lingkungan kampus, dan bahkan lembaga-lembaga pendidikan Islam lainnya. Tradisi intelektual pesantren seperti ini boleh dibilang melampaui linearitas eksotologis pengetahuan Islam, yang biasa disebut dengan “ilm jally” dalam prespektif Ibn Qayyim Al-Jauzy”.

Lebih lanjut Kiyai Tholhah Hasan menyebutkan :

“Hal ini cukup bisa dimaklumi,  mengingat tingkatan eksotologis intelektual pesantren,  selain menekankan sisi faktualitas antropogesis juga menyisipkan sisi efisoterisitas intelektual. 

Makanya dalam tradisi pesantren, orang yang pandai agama tidak bisa dengan serta merta disebut kiyai atau ulama kalau ilmunya tidak jelas sumbernya dari mana

Pengantar yang disampaikan Kiyai Tholhah Hasan ini jelas memberikan penekanan bahwa kiyai bukan sekedar gelar atau panggilan penghormatan semata, akan tetapi sangat berkaitan dengan kapasitas dan kapabilitas keulamaan berdasarkan silsilah dan sanad keilmuan. 

Dengan demikian kita harus tahu bahwa seseorang yang kita panggil atau kita beri gelar kiyai itu, belajar ilmunya kepada siapa, qira’ah kitabnya kepada siapa, bagaimana penguasaannya terhadap ilmu Al-Qur’an, hadis, fiqhi, ushul fiqhi, qawaid dan ilmu lainnya.

Berdasarkan penjelasan-penjelasan tersebut di atas, secara pribadi, saya merasa risih dan malu jika ada yang memanggil saya dengan panggilan kiyai. 

Selain tak pantas dan tidak memenuhi syarat, saya juga tidak sanggup mempertanggungjawabkannya dihadapan publik dan para ustadz lainnya yang memiliki kedalaman dan keluasan ilmu. 

Maka, melalui tulisan ini saya menegaskan sekaligus memaklumkan bahwa saya bukan Kiyai. Panggil saja saya “Ustadz”, karena saya tidak lebih dari seorang pengajar biasa di sebuah pondok pesantren.

Jujur saja, saya merasa lucu bercampur malu ketika mendengar ucapan “Matoduwolo Pak Kiyai”, “Mari Pak Kiyai”, “Silahkan Pak Kiyai”. He he he. 

Wallahu A’lam.

  • Penulis: Asrul G.H. Lasapa

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • MACPLAM-9 Integrasikan Pengetahuan dan Kerjasama

    MACPLAM-9 Integrasikan Pengetahuan dan Kerjasama

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Pemerintah Provinsi Gorontalo mendorong pentingnya sinergi dan kolaborasi antarwilayah dalam penguatan layanan laboratorium klinik dan diagnostik. Hal ini disampaikan Asisten III Setda Provinsi Gorontalo, Misranda Nalole, saat mewakili Gubernur Gusnar Ismail pada pembukaan Maluku, Celebes, Papua Clinical Pathology and Laboratory Medicine Annual Meeting (MACPLAM-9) di Ballroom Hotel Aston, Jumat (4/7/2025). Mengangkat tema “Integrating Knowledge, Enhancing […]

  • Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    Wali Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Tanpa Diskriminasi Bagi Minoritas, Ini Respon Gusdurian

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Pemerintah Kota Gorontalo mengadakan kegiatan Doa Lintas Agama di Aula Rudis Wali Kota, yang dihadiri oleh berbagai pemuka agama. Kegiatan ini bertujuan memperkuat kebersamaan dan kerja sama antarumat beragama. Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea, menyampaikan bahwa pembangunan daerah harus melibatkan semua elemen masyarakat tanpa diskriminasi. Ia menegaskan bahwa Pemkot tidak akan pilih kasih dalam memberikan […]

  • Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Lomba Da’i Cilik turut memeriahkan rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo yang dilaksanakan di Kantor PWNU Gorontalo, Rabu (29/10/2025). Penanggung jawab kegiatan, Indrawan Modanggu, menyampaikan bahwa lomba Da’i Cilik ini bertujuan untuk menumbuhkan potensi generasi muda sejak dini, khususnya anak-anak di bawah usia 10 tahun, agar semakin mengenal nilai-nilai Islam dan ekonomi syariah. “PWNU […]

  • Maros dan Kemerdekaan yang Belum Selesai

    Maros dan Kemerdekaan yang Belum Selesai

    • calendar_month Rabu, 19 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Maros,Seiring waktu berjalan, setidaknya berdasarkan pengamatan dari sebuah kelompok kecil, ada satu fenomena yang semakin sulit untuk tidak diperhatikan: pada berbagai agenda besar, sosok-sosok yang dimunculkan cenderung itu-itu saja. Padahal, jika kita berbicara dalam perspektif pembangunan kepemudaan, Maros memiliki cukup banyak anak muda potensial dengan kapasitas, kompetensi, gagasan, serta pengalaman yang beragam,Mereka ada,Mereka bergerak,Mereka berkarya,Hanya […]

  • Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Ramadan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah. Namun sejatinya, Ramadan juga merupakan momentum untuk memperbaiki akhlak dan cara kita menyikapi kehidupan. Salah satu pelajaran penting yang sering terlupakan adalah bagaimana bersikap terhadap kritik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan keputusan yang terasa kurang tepat. Baik itu keputusan atasan di kantor, pimpinan organisasi, maupun keputusan dalam […]

  • PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    PCINU Jerman Tetapkan 1 Ramadhan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 211
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Jerman menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriah jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Dengan demikian, ibadah puasa dimulai pada hari tersebut dan salat Tarawih pertama dilaksanakan Rabu malam, 18 Februari 2026. Pengumuman itu disampaikan melalui akun Instagram resmi PCINU Jerman dan dikutip nulondalo.com, Selasa (17/2/2026). Ketua PCINU Jerman, Miftah […]

expand_less