Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

  • account_circle Nur Shollah
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 317
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekian tahun terakhir, ruang publik—terutama media sosial—nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan konflik internal PBNU. Isu demi isu datang silih berganti, seolah membentuk mata rantai yang tak kunjung terputus. Dimulai dari polemik nasab Ba‘alawi, perdebatan tambang, wacana pencopotan Ketua Umum PBNU, rapat pleno penunjukan Penjabat Ketum, rapat musytasyar di Ploso dan Tebuireng, dinamika Haul Gus Dur, Musyawarah Kubro dan Islah di Lirboyo, hingga kini “Napak Tilas Pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama” kembali menjadi tajuk utama. Pertanyaannya: setelah ini, berita apa lagi yang akan menyusul?

Bagi warga Nahdliyin di akar rumput, rentetan konflik ini menimbulkan kelelahan psikologis dan kebingungan arah. NU yang dikenal sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah—penjaga tradisi keagamaan dan perekat sosial—kini kerap tampil dalam bingkai pertarungan wacana elit. Substansi khidmah keumatan, dakwah kultural, dan pemberdayaan sosial kerap tertutupi oleh hiruk-pikuk pernyataan, bantahan, dan saling klaim legitimasi.

Napak tilas pendirian NU sejatinya adalah momentum reflektif. Ia mengajak kembali pada ruh kelahiran jam’iyah: adab kepada guru, kesinambungan sanad keilmuan, dan keberanian bersikap demi maslahat umat. Ketika As’ad Syamsul Arifin membawa amanat isyarah dari Syekhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari, yang dihadirkan bukan sekadar simbol tongkat dan tasbih, melainkan pesan spiritual: mendirikan organisasi harus dilandasi keikhlasan, ketaatan pada ilmu, dan kesediaan menahan ego.

Namun, ketika napak tilas berubah menjadi arena tafsir politik dan legitimasi kekuasaan, nilai sakralnya tereduksi. Sejarah tidak lagi menjadi cermin kebijaksanaan, melainkan alat pembenar posisi. Pada titik inilah warga NU patut bertanya: apakah kita sedang merawat warisan ulama, atau justru memperebutkannya?

Konflik nasab, misalnya, semestinya diletakkan pada koridor ilmiah dan adab keilmuan. Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran kemuliaan bukan klaim garis keturunan, melainkan ketakwaan dan akhlak. Ketika nasab dipolitisasi, ia kehilangan fungsi edukatif dan berubah menjadi sumber perpecahan.

Begitu pula isu tambang dan relasi kekuasaan. Kritik dan kontrol adalah keniscayaan dalam organisasi besar. Namun, jika perbedaan sikap dikelola dengan logika saling menjatuhkan, NU berisiko kehilangan marwah sebagai penengah moral bangsa. Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.

Lalu, apa yang akan muncul setelah napak tilas? Jika pola yang sama terus berulang—isu dilempar, opini dipanaskan, massa digiring—maka publik hanya akan menunggu “episode” berikutnya tanpa kejelasan resolusi. Yang dibutuhkan bukan agenda sensasional, melainkan keberanian untuk menutup bab konflik dengan islah yang tulus dan bermartabat.

NU lahir dari perbedaan, tetapi dibesarkan oleh kebijaksanaan. Perbedaan pendapat adalah rahmat bila dikelola dengan adab; ia menjadi bencana bila dijadikan komoditas. Sudah saatnya PBNU dan seluruh elemen Nahdliyin mengembalikan orientasi pada khidmah: pendidikan, dakwah, ekonomi umat, dan persatuan bangsa.

Jika napak tilas hanya menjadi panggung seremonial tanpa perubahan sikap, maka pertanyaan “selanjutnya akan ada berita apa lagi?” akan terus bergema. Namun bila ia dijadikan titik balik untuk merawat akhlak organisasi dan menata ulang kepemimpinan dengan rendah hati, mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, publik akan membaca berita yang menyejukkan: NU kembali pada jati dirinya—teduh, bijak, dan mempersatukan.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah
  • Editor: Nur Shollah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 403
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Lailatul Ijtima’, Gus Aniq Tekankan Kolaborasi sebagai Kunci Peradaban

    PWNU Gorontalo Gelar Lailatul Ijtima’, Gus Aniq Tekankan Kolaborasi sebagai Kunci Peradaban

    • calendar_month Senin, 20 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 427
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo menggelar kegiatan Lailatul Ijtima’ dengan menghadirkan Wakil Ketua Umum PBNU KH. Zulfa Musthofa, Ahad (19/4/2025). Katib Syuriyah PWNU Gorontalo, KH. Abdullah Aniq Nawawi, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Lailatul Ijtima’ bukan sekadar rutinitas organisasi, tetapi mencerminkan hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang harus membangun peradaban secara kolektif. Kegiatan […]

  • DPRD Gorontalo Setujui Ranperda Kepemudaan Jadi Perda

    DPRD Gorontalo Setujui Ranperda Kepemudaan Jadi Perda

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 300
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Gorontalo menyetujui Rancangan Peraturan Daerah (Ranperda) tentang Penyelenggaraan Kepemudaan untuk ditetapkan menjadi Peraturan Daerah (Perda). Persetujuan tersebut diambil dalam Rapat Paripurna DPRD ke-67 yang digelar, Senin (29/12/2025). Rapat paripurna tersebut dihadiri Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail, Wakil Gubernur Idah Syahidah Rusli Habibie, serta jajaran pemerintah daerah dan anggota […]

  • Kronologi Dugaan Korupsi Perumda Aneka Usaha Majene, Sekda dan Bupati Diperiksa Kejati Sulbar

    Kronologi Dugaan Korupsi Perumda Aneka Usaha Majene, Sekda dan Bupati Diperiksa Kejati Sulbar

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 353
    • 0Komentar

    nulondalo.com-Kejaksaan Tinggi Sulawesi Barat terus mengusut kasus dugaan korupsi pengelolaan keuangan di Perumda Aneka Usaha Majene. Dalam penyidikan tersebut, penyidik telah memeriksa Sekretaris Daerah dan Bupati Majene sebagai saksi bersama puluhan pihak lainnya. Kasus ini menjerat mantan Penjabat Direktur Utama Perumda Aneka Usaha Majene berinisial AA yang telah ditetapkan sebagai tersangka. Berikut kronologi pengungkapan kasus […]

  • Meong Palo Karellae dalam Pusaran Modernisasi

    Meong Palo Karellae dalam Pusaran Modernisasi

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Muh. Akbar
    • visibility 417
    • 0Komentar

    Masyarakat Sulawesi Selatan memiliki cerita rakyat yang cukup terkenal. Cerita rakyat ini termuat dalam salah satu episode dalam sureq La Galigo. Cerita rakyat tersebut dikenal oleh masyarakat Sulawesi Selatan dengan sebutan Meong Palo Karellae, kisah yang mengandung nilai moral, kesabaran, keikhlasan, dan penghormatan. Meong Palo Karellae mengisahkan seekor kucing belang tiga yang menemani Sangiangseri (Dewi […]

  • Going Concern Ibadah

    Going Concern Ibadah

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 441
    • 0Komentar

    Dalam dunia akuntansi, ada satu asumsi yang membuat laporan keuangan bisa tidur nyenyak setiap akhir tahun: going concern. Artinya, entitas diasumsikan akan terus berlanjut usahanya, tidak bangkrut besok pagi, dan tidak bubar jalan setelah RUPS bubar. Nah, dalam konteks Ramadhan, saya kira kita juga perlu satu asumsi serupa: going concern ibadah. Jangan sampai ibadah kita […]

expand_less