Breaking News
light_mode
Trending Tags

Konflik Tanpa Ujung di Rumah Besar NU: Setelah Napak Tilas, Lalu Apa?

  • account_circle Nur Shollah
  • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
  • visibility 203
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Sekian tahun terakhir, ruang publik—terutama media sosial—nyaris tak pernah sepi dari pemberitaan konflik internal PBNU. Isu demi isu datang silih berganti, seolah membentuk mata rantai yang tak kunjung terputus. Dimulai dari polemik nasab Ba‘alawi, perdebatan tambang, wacana pencopotan Ketua Umum PBNU, rapat pleno penunjukan Penjabat Ketum, rapat musytasyar di Ploso dan Tebuireng, dinamika Haul Gus Dur, Musyawarah Kubro dan Islah di Lirboyo, hingga kini “Napak Tilas Pendirian Jam’iyah Nahdlatul Ulama” kembali menjadi tajuk utama. Pertanyaannya: setelah ini, berita apa lagi yang akan menyusul?

Bagi warga Nahdliyin di akar rumput, rentetan konflik ini menimbulkan kelelahan psikologis dan kebingungan arah. NU yang dikenal sebagai jam’iyah diniyyah ijtima’iyyah—penjaga tradisi keagamaan dan perekat sosial—kini kerap tampil dalam bingkai pertarungan wacana elit. Substansi khidmah keumatan, dakwah kultural, dan pemberdayaan sosial kerap tertutupi oleh hiruk-pikuk pernyataan, bantahan, dan saling klaim legitimasi.

Napak tilas pendirian NU sejatinya adalah momentum reflektif. Ia mengajak kembali pada ruh kelahiran jam’iyah: adab kepada guru, kesinambungan sanad keilmuan, dan keberanian bersikap demi maslahat umat. Ketika As’ad Syamsul Arifin membawa amanat isyarah dari Syekhona Kholil Bangkalan kepada KH. Hasyim Asy’ari, yang dihadirkan bukan sekadar simbol tongkat dan tasbih, melainkan pesan spiritual: mendirikan organisasi harus dilandasi keikhlasan, ketaatan pada ilmu, dan kesediaan menahan ego.

Namun, ketika napak tilas berubah menjadi arena tafsir politik dan legitimasi kekuasaan, nilai sakralnya tereduksi. Sejarah tidak lagi menjadi cermin kebijaksanaan, melainkan alat pembenar posisi. Pada titik inilah warga NU patut bertanya: apakah kita sedang merawat warisan ulama, atau justru memperebutkannya?

Konflik nasab, misalnya, semestinya diletakkan pada koridor ilmiah dan adab keilmuan. Al-Qur’an mengingatkan, “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Ukuran kemuliaan bukan klaim garis keturunan, melainkan ketakwaan dan akhlak. Ketika nasab dipolitisasi, ia kehilangan fungsi edukatif dan berubah menjadi sumber perpecahan.

Begitu pula isu tambang dan relasi kekuasaan. Kritik dan kontrol adalah keniscayaan dalam organisasi besar. Namun, jika perbedaan sikap dikelola dengan logika saling menjatuhkan, NU berisiko kehilangan marwah sebagai penengah moral bangsa. Padahal, Nabi Muhammad SAW bersabda, “Bukanlah orang kuat itu yang menang dalam bergulat, tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah” (HR. Bukhari dan Muslim). Pesan ini relevan bagi siapa pun yang memegang amanah kepemimpinan.

Lalu, apa yang akan muncul setelah napak tilas? Jika pola yang sama terus berulang—isu dilempar, opini dipanaskan, massa digiring—maka publik hanya akan menunggu “episode” berikutnya tanpa kejelasan resolusi. Yang dibutuhkan bukan agenda sensasional, melainkan keberanian untuk menutup bab konflik dengan islah yang tulus dan bermartabat.

NU lahir dari perbedaan, tetapi dibesarkan oleh kebijaksanaan. Perbedaan pendapat adalah rahmat bila dikelola dengan adab; ia menjadi bencana bila dijadikan komoditas. Sudah saatnya PBNU dan seluruh elemen Nahdliyin mengembalikan orientasi pada khidmah: pendidikan, dakwah, ekonomi umat, dan persatuan bangsa.

Jika napak tilas hanya menjadi panggung seremonial tanpa perubahan sikap, maka pertanyaan “selanjutnya akan ada berita apa lagi?” akan terus bergema. Namun bila ia dijadikan titik balik untuk merawat akhlak organisasi dan menata ulang kepemimpinan dengan rendah hati, mungkin untuk pertama kalinya setelah sekian lama, publik akan membaca berita yang menyejukkan: NU kembali pada jati dirinya—teduh, bijak, dan mempersatukan.

Penulis adalah warga Nahdlatul Ulama, yang biasa disapa Wan Noorbek

  • Penulis: Nur Shollah
  • Editor: Nur Shollah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    Nusron Wahid Targetkan Semua Rumah Ibadah Bersertipikat: “Jangan Sampai Ada yang Belum”

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 89
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Upaya penyelesaian sertipikasi tanah wakaf dan rumah ibadah di Indonesia terus diperkuat dengan melibatkan peran strategis tokoh-tokoh keagamaan. Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid menegaskan komitmennya untuk mempercepat sertipikasi aset keagamaan demi memberikan kepastian hukum dan mencegah konflik di masa mendatang. “Karena itu Bapak-bapak sekalian, hari ini kita […]

  • As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    As-Salam Tenjo Berbagi Tali Sayang 500 Paket ke Guru dan Murid

    • calendar_month Sabtu, 14 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 164
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan As-Salam Terpadu Tenjo (YATT) kembali menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga besar sekolah dengan membagikan 500 paket “Tali Sayang” kepada para guru dan murid. Kegiatan yang berlangsung penuh kehangatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus mempererat hubungan antara sekolah, yayasan, dan orang tua murid. Acara pembagian paket sembako ini […]

  • Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    Supremasi Sipil: Sebuah Refleksi Tentang Realitas dan Harapan

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Di banyak tempat, kita sering mendengar narasi tentang supremasi sipil, sebuah konsep di mana masyarakat sipil—atau masyarakat yang bebas dari pengaruh langsung negara atau militer—dianggap sebagai entitas yang memegang kendali atas jalannya pemerintahan. Idealnya, masyarakat sipil adalah ruang di luar struktur formal negara, tempat kebebasan berkembang dan hak-hak individu dihargai. Namun, bagaimana jika kenyataannya tidak […]

  • Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima photo_camera 2

    Penyaluran BLT Dana Desa Triwulan IV, 39 Warga Majannang menerima

    • calendar_month Kamis, 18 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 94
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros – Pemerintah Desa Majannang, Kecamatan Maros Baru, menyalurkan Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) Triwulan IV Tahun Anggaran 2025 di Kantor Desa Majannang, kamis (18/12/2025). Penyaluran ini mencakup periode Oktober, November, dan Desember. Sebanyak 39 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) menerima bantuan tunai dengan total Rp900 ribu per orang, masing-masing Rp300 ribu per bulan […]

  • Momentum Isra Mi’raj, Gusnar Ismail Ajak ASN Gorontalo Bangun Etos Kerja Berbasis Spiritual

    Momentum Isra Mi’raj, Gusnar Ismail Ajak ASN Gorontalo Bangun Etos Kerja Berbasis Spiritual

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 170
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Provinsi Gorontalo memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW yang dirangkaikan dengan pencanangan gerakan membaca Al-Qur’an di kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN). Kegiatan tersebut dipusatkan di Aula Rumah Jabatan Gubernur Gorontalo, Jumat (16/1/2025), dan dicanangkan langsung oleh Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail. Peringatan Isra Mi’raj ini menjadi momentum penguatan spiritual ASN sekaligus bagian dari […]

  • Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    Tauhid dalam gangguan Kapitalisme: Mengapa Iran Selalu bikin imperium Global Gatal?

    • calendar_month Rabu, 4 Mar 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 243
    • 0Komentar

    Tauhid sering kita bayangkan sebagai urusan langit: satu Tuhan, selesai. Padahal dalam sejarah, Tauhid justru harus berbuah sebagai sikap sosial di bumi, sikap menolak tunduk pada apa pun selain Tuhan. Begitu kalimat lā ilāha illā Allāh diucapkan dengan sungguh-sungguh, seharusnya runtuh pula semua klaim ketuhanan palsu: raja, pasar, modal, dan imperium. Berguru pada Tauhid ala […]

expand_less