Filsafat di Tengah Badai Teknologi, Pesantren Khatamun Nabiyyin Gelar Stadium Generale Bahas Krisis Kemanusiaan
- account_circle Asep Alfarizi
- calendar_month 20 jam yang lalu
- visibility 114
- print Cetak

Penyampaian materi oleh Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, M.A
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
“Teknologi tanpa filsafat adalah pedang tanpa sarung—tajam dan berguna, namun berbahaya di tangan yang tidak memahami arah dan tujuannya,” tambahnya.
Sementara itu, Muh. Agus Salim menegaskan bahwa pesantren memiliki tanggung jawab untuk tetap hadir dalam percakapan-percakapan besar mengenai masa depan peradaban manusia.
Menurutnya, pesantren tidak boleh dipandang sebagai lembaga yang tertinggal dari perkembangan zaman. Sebaliknya, pesantren harus mampu menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis yang tetap berpijak pada nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan.
“Pesantren bukan lembaga yang anti-kemajuan. Justru pesantren hadir untuk memastikan bahwa kemajuan itu tetap berwajah manusiawi dan berhati nurani,” katanya.
Ia juga menyebut generasi muda Islam perlu dibekali kemampuan untuk menguasai ilmu pengetahuan modern sekaligus menjaga kedalaman spiritual.
“Generasi muda Islam harus mampu berdiri di dua kaki sekaligus: kaki ilmu pengetahuan modern dan kaki kearifan spiritual. Keduanya bukan pertentangan, melainkan kesatuan,” ujar Agus Salim.
Kegiatan ini diikuti para santri, mahasiswa, akademisi, dan masyarakat umum yang antusias mengikuti diskusi mengenai relasi antara filsafat, teknologi, dan krisis kemanusiaan di era kontemporer.
Melalui forum tersebut, Pesantren Khatamun Nabiyyin dan Khatam Institute berharap tradisi berpikir kritis dan reflektif tetap tumbuh di tengah derasnya perkembangan teknologi modern.
- Penulis: Asep Alfarizi

Saat ini belum ada komentar