Lebaran, Jalan Tol, dan Kesepian yang Tak Pernah Kita Akui
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 70
- print Cetak

Ilustrasi suasana mudik Lebaran: perjalanan padat di jalan tol menuju desa kontras dengan hangatnya momen silaturahmi keluarga di kampung halaman.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun hubungan sosial tidak selalu bergerak mengikuti logika pembangunan fisik. Jalan bisa diperlebar, tetapi kedekatan antar manusia tidak otomatis ikut melebar. Justru dalam banyak kasus, percepatan hidup modern membuat interaksi sosial semakin tipis.
Mudik, yang dahulu identik dengan tinggal berhari-hari di kampung, kini sering berubah menjadi kunjungan singkat. Orang datang, bersalaman, makan bersama, lalu segera kembali ke kota karena pekerjaan menunggu. Silaturahmi tetap terjadi, tetapi waktunya semakin sempit.
Desa juga mengalami perubahan yang tidak kecil. Banyak desa yang kini dipoles menjadi destinasi wisata. Pemerintah daerah melihat potensi ekonomi dari pemandangan alam, tradisi lokal, atau kuliner khas. Homestay dibangun, spot foto dibuat, dan promosi wisata digencarkan.
Dari sisi ekonomi, perubahan ini jelas membawa manfaat. Lapangan kerja baru muncul, perputaran uang meningkat, dan desa menjadi lebih hidup. Tetapi perubahan itu juga membawa pertanyaan baru: ketika desa semakin sibuk melayani wisatawan, apakah ia masih menjadi ruang sosial yang akrab bagi warganya sendiri?
Wisata sering menawarkan kebahagiaan yang cepat. Orang datang, menikmati pemandangan, mengambil foto, lalu pergi. Dalam hitungan jam, pengalaman itu selesai. Sementara kebahagiaan yang dulu tumbuh di desa justru lahir dari ritme hidup yang lambat—dari obrolan panjang di beranda rumah, dari kebiasaan saling mampir tanpa janji, dari waktu yang tidak diburu-buru.
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar