MBG: Maling Berkedok Gizi atau Benar-Benar Makan Bergizi Gratis?
- account_circle Muh Faizal HS
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 141
- print Cetak

Warga Kota Timur, Sintia Bumulo memperlihatkan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diterima anaknya di sekolah, sebagai bentuk evaluasi terhadap kualitas dan kelayakan makanan yang dibagikan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Anak yang dapat nutrisi yang bagus akan memberikan pengembangan kognitif yang lebih baik, mempunyai kemampuan belajar yang lebih tinggi, dan akan memberikan peluang besar untuk mencapai prestasi akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dan mampu mendorong ekonomi nasional. Dalam perspektif ini, MBG memiliki dasar teoritis yang kuat, karena gizi yang baik pada masa anak-anak membantu perkembangan otak dan kemampuan belajar.
Ketika pondasi dasar yang tidak dipenuhi, maka berbagai upaya yang dilakukan untuk kualitas pendidikan akan menimbulkan hambatan yang siginifikan. Namun demikian, teori tentang pembangunan manusia memberikan kita peringatan bahwasanya kebijakan publik harus dirancang dengan memperhatikan aspek keadilan dan efektifitasnya. Menurut Amartya Sen, pembangunan harus mempunyai orientasi yang jelas untuk bagaimana kehidupan yang layak bagi masyarakat.
Salah satu cara untuk memastikan tercapainya tujuan tersebut, yakni memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap kebutuhan dasar seperti kesehatan dan nutrisi. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen penting dalam mengurangi ketimpagan sosial, karena seringkali kita melihat anak-anak yang kurang mampu memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhsan gizi hariannya.
Dengan memberikan makanan gratis di sekolah, negara telah membantu menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar dengan setara dan berkembang. Namun potensti positif ini tidak menutup kemungkinan menghilangkan resiko yang begitu signifikan ketika program ini diimplementasikan. Salah satu kekhawatiran pertama adalah terjadinya kebocoran anggaran. Program yang berskala nasional ini melibatkan banyak siswa yang tentunya anggaran yang harus dikeluarkan juga sangat besar.
- Penulis: Muh Faizal HS

Saat ini belum ada komentar