Breaking News
light_mode
Trending Tags

MBG: Maling Berkedok Gizi atau Benar-Benar Makan Bergizi Gratis?

  • account_circle Muh Faizal HS
  • calendar_month Kamis, 19 Mar 2026
  • visibility 464
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Anak yang dapat nutrisi yang bagus akan memberikan pengembangan kognitif yang lebih baik, mempunyai kemampuan belajar yang lebih tinggi, dan akan memberikan peluang besar untuk mencapai prestasi akademik. Dalam jangka panjang, kondisi ini akan menghasilkan tenaga kerja yang kompeten dan mampu mendorong ekonomi nasional. Dalam perspektif ini, MBG memiliki dasar teoritis yang kuat, karena gizi yang baik pada masa anak-anak membantu perkembangan otak dan kemampuan belajar.

Ketika pondasi dasar yang tidak dipenuhi, maka berbagai upaya yang dilakukan untuk kualitas pendidikan akan menimbulkan hambatan yang siginifikan. Namun demikian, teori tentang pembangunan manusia memberikan kita peringatan bahwasanya kebijakan publik harus dirancang dengan memperhatikan aspek keadilan dan efektifitasnya. Menurut Amartya Sen, pembangunan harus mempunyai orientasi yang jelas untuk bagaimana kehidupan yang layak bagi masyarakat.

Salah satu cara untuk memastikan tercapainya tujuan tersebut, yakni memastikan bahwa setiap individu memiliki akses terhadap kebutuhan dasar seperti kesehatan dan nutrisi. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen penting dalam mengurangi ketimpagan sosial, karena seringkali kita melihat anak-anak yang kurang mampu memiliki keterbatasan dalam memenuhi kebutuhsan gizi hariannya.

Dengan memberikan makanan gratis di sekolah, negara telah membantu menciptakan kesempatan bagi anak untuk belajar dengan setara dan berkembang. Namun potensti positif ini tidak menutup kemungkinan menghilangkan resiko yang begitu signifikan ketika program ini diimplementasikan. Salah satu kekhawatiran pertama adalah terjadinya kebocoran anggaran. Program yang berskala nasional ini melibatkan banyak siswa yang tentunya anggaran yang harus dikeluarkan juga sangat besar.

  • Penulis: Muh Faizal HS

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DVI Identifikasi 20 Jenazah Korban Longsor Bandung Barat, 18 Masih Proses

    DVI Identifikasi 20 Jenazah Korban Longsor Bandung Barat, 18 Masih Proses

    • calendar_month Selasa, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 119
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri berhasil mengidentifikasi 20 jenazah korban longsor di Kabupaten Bandung Barat. Seluruh jenazah yang telah teridentifikasi tersebut telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan. Berdasarkan data sementara hingga Senin (26/1) pukul 18.30 WIB, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi dan mengirimkan sebanyak 38 kantong jenazah ke pos DVI untuk […]

  • Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    Mengapa Amerika Serikat Enggan Menandatangani UNCLOS? Ini Alasan Strategisnya

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Amerika Serikat hingga kini belum menandatangani United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS), meskipun konvensi tersebut telah menjadi rezim hukum internasional utama yang mengatur tata kelola laut global. Keputusan ini didorong oleh sejumlah pertimbangan strategis, ekonomi, dan politik luar negeri. Salah satu alasan utama penolakan Amerika Serikat terhadap UNCLOS adalah […]

  • Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    Instrumen Penaklukan Tanpa Mesiu: Pengetahuan, Kekuasaan, dan Politik Global

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Muhammad Kamal
    • visibility 289
    • 0Komentar

    Melalui bahasa pembangunan, negara-negara di Asia, Afrika, dan Amerika Latin ditempatkan dalam posisi sebagai “murid sejarah”. Mereka dianggap membutuhkan bimbingan teknis, bantuan ekonomi, dan transfer pengetahuan dari Barat. Kolonialisme tidak lagi memakai bahasa penaklukan, tetapi berganti dengan istilah yang terdengar lebih bersahabat: modernisasi, pembangunan, dan kerja sama internasional. Maka konsep pembangunan sering kali bukan sekadar […]

  • Menuju Moderasi Beragama Progresif

    Menuju Moderasi Beragama Progresif

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Pepi al-Bayqunie
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Oleh: Pepi Albayqunie – (Jamaah GUSDURian tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Tulisan ini merupakan refleksi dari pengalaman mengelola program moderasi beragama, selama 3-5 tahun belakangan. Saya mengamati Dan merasakan gerakan moderasi beragama telah menemukan momentum yang tepat tetapi membutuhkan varian gerakan yang lebih progressif. Gerakan Moderasi Beragama di Indonesia telah berkembang melalui berbagai diskusi, […]

  • Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    Hari Ibu Nasional: Momentum Memperkuat Solidaritas Perempuan, Bukan Seremonial Belaka

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Kabar Perempuan – Setiap tanggal 22 Desember adalah hari bersejarah buat kaum Ibu atau perempuan di Indonesia. Momentum tersebut diperingati setiap tahunnya. Namun sejauh mana pemaknaan orang-orang terhadap peringatan Hari Ibu Nasional 2024? Akankah perempuan sudah berdaya dan seperti apa problem perempuan hari ini? Redaksi mengulas khusus peringatan Hari Ibu Nasional 2024. Peringatan Hari Ibu Nasional […]

  • Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    Puluhan Ulama Perempuan Isi Pengajian Ramadan yang digagas KUPI

    • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 176
    • 0Komentar

    “Alimat berfokus pada penguatan perspektif muslimah. Kami mengajak semua orang untuk memahami bagaimana feminisme Islam dalam kerangka keluarga Islam Indoneisa. Kita akan bertemu setiap Sabtu,” paparnya. Sedangkan dua lembaga penyangga lainnya, yaitu Jaringan GUSDURian dan AMAN Indonesia juga mempunyai agenda Ramadan yang cukup berbeda. Jaringan GUSDURian berencana mengadakan Pesantren Gerakan yang akan mengkaji pemikiran Gus […]

expand_less