Menakar Kembali Jalan Ziarah Menuju Lapeo: Tradisi yang Bertahan, Iman yang Dipertanyakan
- account_circle Muhammad Kamal
- calendar_month Senin, 30 Mar 2026
- visibility 175
- print Cetak

Muhammad Kamal, Penulis. Doc. Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Padahal kisah hidup para ulama yang diziarahi menyimpan banyak pelajaran. Mereka tidak hanya dikenang karena kesalehan pribadi, tetapi juga karena cara mereka hidup di tengah masyarakat—sederhana, berani bersikap, dan dekat dengan persoalan umat.
Di situlah ziarah sebenarnya bisa dibaca ulang. Perjalanan menuju Lapeo bukan hanya soal datang ke sebuah makam, tetapi juga kesempatan untuk mengingat kembali nilai-nilai yang pernah diperjuangkan oleh para tokoh tersebut.
Jika nilai itu hidup kembali, ziarah bisa menjadi ruang refleksi sosial. Ia tidak berhenti sebagai ritual, tetapi menjadi pengingat bahwa iman tidak hanya diucapkan dalam doa, melainkan juga dijalankan dalam cara memperlakukan sesama.
Mestinya perjalanan menuju Lapeo bukan hanya tentang jarak yang ditempuh oleh tubuh, tetapi juga tentang sejauh mana seseorang bersedia menempuh perjalanan batin. Ziarah bisa saja tetap ramai setiap tahun. Tetapi maknanya baru terasa ketika ia mampu mengubah cara seseorang memandang hidup dan memperlakukan orang lain.
Penulis : Alumni Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
- Penulis: Muhammad Kamal

Saat ini belum ada komentar