Runtuhnya Masyarakat Sipil?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 54
- print Cetak

Ilustrasi kontras antara gerakan masyarakat sipil di ruang fisik dan aktivitas digital di media sosial, menggambarkan pergeseran kritik dari aksi kolektif menjadi fragmentasi opini di era digital.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Perubahan paling mencolok terjadi di era digital. Ruang publik tidak lagi dimediasi oleh forum-forum fisik seperti kampus, diskusi terbuka, atau organisasi massa, melainkan oleh platform media sosial yang serba cepat dan cenderung dangkal. Kritik tetap hadir, bahkan mungkin lebih ramai dari sebelumnya, tetapi dalam bentuk yang berbeda: buzzing. Kritik menjadi viral, namun tidak selalu substansial. Konsolidasi bisa terbentuk dalam hitungan jam, tetapi juga dapat runtuh dalam waktu yang sama singkatnya.
Fenomena ini melahirkan paradoks. Di satu sisi, digitalisasi membuka ruang partisipasi yang luas—siapa pun dapat bersuara, mengkritik, dan membentuk opini. Namun di sisi lain, kelimpahan suara justru menghasilkan kebisingan yang melemahkan arah. Tidak ada lagi pusat gravitasi yang mampu menyatukan energi kritik menjadi gerakan yang berkelanjutan. Dalam kondisi ini, masyarakat sipil kehilangan salah satu kekuatan utamanya: kapasitas untuk mengorganisir diri.
Fragmentasi ini semakin kompleks dengan munculnya aktor-aktor baru dalam tubuh masyarakat sipil itu sendiri, seperti buzzer pro-pemerintah. Mereka tidak hadir sebagai entitas eksternal, melainkan menggunakan bahasa, medium, dan strategi yang sama dengan para pengkritik. Akibatnya, batas antara kritik dan propaganda menjadi kabur. Ruang publik berubah menjadi arena kontestasi yang tidak lagi bertumpu pada kekuatan argumen, melainkan pada kemampuan memproduksi dan mendistribusikan narasi secara masif.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar