Uwais Al-Qarni: Istimewa Meski Tak Bertemu Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 29)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 67
- print Cetak

Ilustrasi suasana senja yang menggambarkan Uwais al-Qarni dengan penuh ketulusan merawat ibunya di depan rumah sederhana di Yaman. Momen ini merefleksikan nilai bakti kepada orang tua, kesederhanaan hidup, dan keikhlasan yang menjadi sumber kemuliaan sejati dalam ajaran Islam.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pada edisi terakhir tulisan Ramadan tahun 2026 ini, saya menutupnya dengan kisah seorang tokoh yang unik dan penuh teladan: Uwais al-Qarni. Namanya mungkin terdengar asing dibanding tokoh-tokoh sahabat yang lain, tetapi kisah hidupnya menyimpan pelajaran yang mendalam tentang kesalehan, ketulusan, dan bakti kepada orang tua.
Meskipun hidup sezaman dengan Nabi Muhammad, Uwais tidak dikategorikan sebagai sahabat Nabi. Ia tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Karena itu, dalam ilmu hadis, para ulama memasukkannya ke dalam generasi tābi‘in, yaitu mereka yang hidup pada zaman Nabi tetapi tidak sempat bertemu beliau. Namun yang membuatnya begitu istimewa adalah bahwa Nabi sendiri menyebut dan memuji namanya kepada para sahabat.
Uwais lahir dan tinggal di wilayah Qaran, Yaman. Hidupnya sederhana, jauh dari sorotan masyarakat luas. Ia bukan pemimpin suku, bukan tokoh terkenal, hanya seorang lelaki biasa yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun di balik kehidupan yang tampak biasa itu, tersimpan hati yang tulus, penuh ketakwaan, dan ketaatan luar biasa.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar