Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 8 jam yang lalu
- visibility 79
- print Cetak

Pepi Al-Bayqunie/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Namun dunia pasca pandemi tidak pernah benar-benar stabil. Ia hanya berganti bentuk krisis. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah—khususnya antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel—menghadirkan kembali persoalan klasik: energi. Gangguan distribusi minyak, termasuk di jalur strategis seperti Selat Hormuz, memicu ketidakpastian global. Harga BBM pun melonjak cepat. Beberapa negara, termasuk negara ASEAN melakukan penyesuaian harga yang tinggi.
Indonesia mungkin tampak relatif tenang di permukaan. Tidak ada gejolak besar yang langsung terasa. Harga BBM masih berada dalam rentang kendali. Namun ketenangan bersifat temporal. Ketergantungan terhadap energi global tetap menjadi fondasi yang rapuh. Apa yang terjadi jauh di luar sana tetap memiliki daya getar di dalam negeri.
Dalam konteks inilah, transformasi budaya kerja menjadi pilihan yang rasional. WFH kembali dilirik—kali ini bukan sebagai respons darurat, melainkan sebagai bagian dari strategi. Kebijakan WFH bisa mengintervensi mobilitas penduduk.
Ketika jutaan orang tidak melakukan perjalanan ke kantor dalam waktu yang sama, konsumsi bahan bakar ikut berkurang. Dalam skala individu, perubahan ini nyaris tak terasa. Namun dalam skala kolektif, dampaknya menjadi signifikan. Jalanan yang lebih lengang bukan sekadar fenomena visual, melainkan indikator dari tekanan energi yang berhasil dikurangi.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar