Breaking News
light_mode
Trending Tags

Lubdaka, Sang Pemburu Yang Mendapat Berkah di Siwa Ratri

  • account_circle Pepi al-Bayqunie
  • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
  • visibility 189
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya belum genap sebulan tinggal di Bali. Tugas negara menuntut saya menetap di sini dalam waktu yang tidak sebentar, memberi kesempatan untuk merasakan ritme kehidupan yang berbeda dari tempat asal saya.

Setiap hari menghadirkan pengalaman baru: jalan-jalan yang ramai dengan upacara adat, aroma dupa dan bunga yang menghiasi pura, hingga langit yang memunculkan panorama yang indah di pagi dan sore hari. Pun, saya juga mulai memperhatikan kalender masyarakat Bali, yang penuh dengan hari libur nasional dan fakultatif.

Hari suci Hindu pertama yang saya temui tahun ini adalah Siwa Ratri. Saya penasaran dan mulai mencari tahu, apa sebenarnya Siwa Ratri itu. Dari pencarian itu saya mulai paham, Siwa Ratri adalah malam Dewa Siwa. Malam yang dipercaya masyarakat Hindu sebagai malam pemberian berkat pengampunan.

Di malam Siwa Ratri, ada tiga hal yang harus dilakukan. Mona (tidak bicara), jagra (tidak tidur), upavasa (tidak makan dan minum).  Siwa Ratri datang setahun sekali. Setiap Purwani Tilem ke-7 (bulan ke-7) tahun Caka. Tahun ini, jatuh pada hari Sabtu, 17 Januari 2026.

Saat googling lebih jauh, saya bertemu dengan kisah Lubdaka, cerita yang selalu dikaitkan dengan peringatan Siwa Ratri. Ternyata, saya pernah membaca kisah ini saat SD atau SMP dulu. Waktu itu, saya menganggapnya hanya cerita asing, tanpa kaitan apa pun dengan Indonesia. Tapi kali ini, berada di Bali dan mengalami Siwa Ratri, saya menyadari bahwa kisah Lubdaka hidup di tengah masyarakat, menjadi bagian dari pengalaman spiritual yang nyata bagi Masyarakat Hindu di Bali.

Lubdaka adalah seorang pemburu yang hidup dari hasil buruan, setiap hari.

Suatu hari, dia pergi ke hutan untuk berburu. Tetapi, suasana tidak seperti biasanya. Hingga malam hari, Lubdaka tidak mendapatkan satu buruan pun. Karena terjebak malam, Lubdaka terpaksa memanjat pohon agar selamat dari ancaman binatang buas. Ia bersandar di salah satu dahan. Untuk mengusir kantuk dan tetap terjaga dia memetik daun-daun hingga jatuh ke lingga di bawahnya.

Di pohon itu, Lubdaka mengalami epifani—sebuah titik balik spiritual yang membuka kesadarannya. Ia merasa berdosa karena selama ini membunuh binatang untuk bertahan hidup, dan dalam hening malam itu ia bertekad untuk tidak lagi berburu. Kesadaran itu muncul begitu saja, sederhana namun cukup kuat untuk mengubah arah hidupnya, meski ia tidak menyadari bahwa malam itu adalah Siwa Ratri. Dewa Siwa sedang bertapa, menyebarkan berkat bagi siapa pun yang merenung dan berserah, dan tanpa Lubdaka sadari, epifani itu diterima sebagai berkat.

Lubdaka pulang ke rumahnya dan menepati tekadnya. Ia meninggalkan panah dan senjatanya, memilih hidup sebagai petani. Tahun-tahun berikutnya, ia hidup sederhana, menjalani hari-hari dengan kesadaran baru, hingga akhirnya ia meninggal dunia. Keberkahan malam Siwa Ratri tetap menyertainya, dan ia ditempatkan di Siwaloka sebagai pengakuan atas perubahan hati dan pemujaan yang tulus di malam itu.

Dari perspektif semiotika, Lubdaka menempati posisi yang unik. Ia adalah manusia biasa, penuh ketakutan dan keterbatasan, namun dari kesederhanaannya muncul makna yang kuat: ketidaktahuannya tentang malam Siwa tidak menghalangi berkat dan transformasi yang diterimanya. Titik buta, ketakutan, dan refleksi batin Lubdaka menjadi tanda bahwa epifani dan perubahan moral dapat muncul dari siapa saja, dan bahwa bahkan tindakan sederhana seorang individu biasa mampu memberi inspirasi dan makna bagi masyarakat luas.

Bagi saya, tinggal di Bali dan menyaksikan Siwa Ratri memberi pengalaman reflektif yang unik. Apalagi, malam sebelumnya saya sebagai muslim memperingati Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Dua malam gelap dan hening ini, yang bagi sebagian orang hanyalah hari libur, menjadi pengingat bagi saya bahwa transformasi sejati dimulai dari kesadaran diri sendiri. Dari merenungi keterbatasan, menerima ketakutan, dan membuka hati terhadap kehidupan di sekitar kita.

Bagi rekan-rekan Hindu yang menjalani Siwa Ratri. Selamat berkontemplasi.

Penulis adalah Jamaah di Gusdurian, Seorang pecinta kebudayaan lokal di Sulawesi Selatan yang belajar menulis novel secara otodidak. Ia lahir dengan nama Saprillah

DUKUNG TIM NULONDALO DENGAN DONASI SEIKHLASNYA

  • Penulis: Pepi al-Bayqunie
  • Editor: Pepi al-Bayqunie

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    Pemkot Gorontalo Musnahkan 19.754 Miras di Lapangan Padebuolo

    • calendar_month Senin, 29 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 167
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Pemerintah Kota Gorontalo memusnahkan sebanyak 19.754 minuman keras (miras) berbagai jenis, Senin (29/12/2025). Pemusnahan dilakukan di Lapangan Padebuolo, Kecamatan Kota Timur. Ribuan miras tersebut merupakan hasil penegakan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 3 Tahun 2017 tentang pengendalian dan pengawasan minuman beralkohol oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Gorontalo, serta hasil razia Polresta […]

  • Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    Polda Bali Deportasi Buronan Interpol Asal Inggris, Pimpinan Sindikat Narkotika Internasional

    • calendar_month Selasa, 31 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Bali – Kepolisian Daerah (Polda) Bali resmi mendeportasi buronan internasional berinisial SL, warga negara Inggris yang diduga sebagai pimpinan sindikat kriminal transnasional. Deportasi dilakukan setelah tersangka ditangkap dalam operasi gabungan bersama Divhubinter Polri dan Imigrasi, Selasa (31/3/2026). Keterangan tersebut disampaikan oleh Kasubid Penmas Polda Bali, Rina Isriana Dewi, mewakili Kabid Humas Polda Bali. Ia […]

  • GUSDURian Makassar Wakili GUSDURian Peduli, Serahkan Tali Asih pada Keluarga Dandi

    GUSDURian Makassar Wakili GUSDURian Peduli, Serahkan Tali Asih pada Keluarga Dandi

    • calendar_month Senin, 29 Sep 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Di bawah langit Makassar yang terik, lorong sempit di Kelurahan Karampuang, Kecamatan Panakukang, menjadi saksi bisu langkah-langkah penuh empati. Sejumlah penggerak inti GUSDURian Makassar menyusuri lorong itu, bukan sekadar berkunjung, melainkan membawa dukungan kemanusiaan ke sebuah rumah yang kini menyimpan kenangan tentang Rusdamdiansyah (Dandi), pemuda yang gugur dalam gelombang demonstrasi di Jalan Urip Sumoharjo, Jumat, […]

  • Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    Antara BBM, Subsidi, dan Amanat Anggaran: Membaca Akuntabilitas APBN dari Kasus Defisit 2026

    • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
    • account_circle Haairunnisah
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Defisit APBN 2026 yang diproyeksikan mendekati 2,9% dari PDB sering dianggap masih berada dalam batas aman. Secara aturan, angka tersebut memang belum melampaui ambang batas 3%. Namun, memandang kondisi fiskal hanya dari batas angka adalah cara berpikir yang terlalu sempit. Di balik kesan “aman” itu, tersimpan persoalan yang lebih serius: tekanan fiskal yang bersifat struktural, […]

  • Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    Catatan Redaksi : Perdamaian yang Datang Bersama Proposal

    • calendar_month Rabu, 28 Jan 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Di dunia diplomasi modern, perdamaian jarang hadir sebagai nilai yang berdiri sendiri. Ia hampir selalu datang bersama proposal, bagan struktur organisasi, masa keanggotaan, dan daftar kebutuhan anggaran. Perdamaian bukan lagi sekadar cita-cita moral, melainkan sebuah proyek lengkap dengan terminologi teknokratis yang rapi dan bahasa yang sengaja dilembutkan. Karena itu, tidak mengherankan ketika Indonesia bergabung dalam […]

  • Ketua Soa Matapure ajak seluruh orang Bobawa Sukseskan Tobo-tobo Safar 2025

    Ketua Soa Matapure ajak seluruh orang Bobawa Sukseskan Tobo-tobo Safar 2025

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Redaksi Nulondalo
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Gaung persiapan Tobo-tobo Safar 2025 mulai menggema di Desa Bobawa, Makian Barat, Halmahera Selatan. Tradisi besar yang selalu ditunggu masyarakat ini akan digelar pada 15–20 Agustus 2025 dengan rangkaian acara adat dan budaya yang sarat makna. Ketua Soa Matapure, Mubin Hi Samsi, menegaskan pentingnya kehadiran seluruh masyarakat Bobawa dalam perayaan tahun ini. Baginya, Tobo-tobo Safar […]

expand_less