Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 311
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU kalau melihat bencana biasanya langsung bilang, “Ini bukan murka Tuhan, tapi kelalaian manusia.” Gus Dur malah lebih tajam: “Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak pengampun itu manusia”terutama kalau sudah pegang izin tambang.

Di Aceh dan Sumatera, izin usaha ekstraktif tumbuh lebih subur daripada pohon mahoni. Bedanya, mahoni menahan air, izin tambang menahan akal sehat. Gunung digunduli, hutan ditebang, sungai dipersempit, lalu ketika banjir datang kita berkata dengan khidmat, “Ini bencana alam.” Padahal alamnya sudah lama dipaksa pensiun dini.

Dalam tradisi NU, usaha (ikhtiar) dan doa harus seimbang. Tapi dalam praktik korporasi ekstraktif, yang seimbang itu cuma neraca laba-rugi. Lingkungan? Itu dicatat sebagai externalities, istilah halus dari “bukan urusan kita”.

Aceh dan Sumatera menjadi ladang tambang, sawit, dan proyek ekstraktif lain. Kata orang kampung, “Yang kaya bukan kami, yang banjir kami.” Ini akuntansi khas ekstraktif: laba dikonsolidasikan, kerugian disebar ke masyarakat.

Gus Dur mungkin akan bilang, “Ini bukan ekonomi trickle down, tapi bencana trickle down.” Dari atas gunung, air dan lumpur turun ke rumah rakyat kecil, sementara laporan keuangan perusahaan tetap kering kerontang.

CSR sering dipresentasikan dengan baliho besar: “Peduli Lingkungan”. Isinya pembagian sembako, tanam seribu pohon (yang 900-nya lupa disiram), dan foto bersama pejabat. Dalam fiqih NU, ini namanya amal shalih tapi niatnya publikasi.

Kerusakan ekologis itu struktural, tapi CSRnya seremonial. Ibarat orang NU bilang, “Rumah roboh karena rayap, solusinya bukan ganti gorden.” Tapi itulah yang terjadi: sungai rusak, gunung botak, lalu solusinya lomba kebersihan desa.

Negara menerima pajak dari sektor ekstraktif. Tapi jumlahnya seperti amplop kondangan dibanding biaya bencana yang seperti bangun pesantren 10 lantai. Pajak tambang masuk kas daerah ratusan miliar, sementara biaya pemulihan banjir dan longsor tembus puluhan triliun.

Gus Dur mungkin tersenyum pahit sambil berkata, “Kalau ini dagang, namanya untung di awal, bangkrut di akhir.” Negara senang di APBN, tapi pusing di BNPB. Ini akuntansi yang tidak diajarkan di kampus: laba privat, rugi publik.

Dalam ajaran NU, sumber daya alam itu amanah. Tapi dalam praktik, amanah sering dibaca sebagai “hak milik terbatas bagi yang punya akses.” Korporasi ekstraktif menguntungkan segelintir elit, sementara masyarakat sekitar tambang dapat bonus debu, air keruh, dan potensi longsor gratis.

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan nyeletuk, “Katanya SDA untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat yang mana? Yang punya saham?” Pasal 33 UUD 1945 sering dikutip, tapi jarang dipraktikkan. Ia lebih sering dijadikan mantra, bukan pedoman.

Dokumen AMDAL tebalnya seperti kitab kuning. Tapi implementasinya sering setipis selebaran pengajian. Sistem mitigasi lingkungan ada, tapi penegakannya kadang loyo, seperti ronda kampung pas hujan deras, niatnya ada, hasilnya minim.

Ketika bencana datang, semua bingung. Padahal izin sudah keluar, eksploitasi sudah jalan, dan alam sudah lama mengirim sinyal. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau tanda-tanda diabaikan, jangan kaget kalau akibatnya datang tanpa undangan.”

Bagi warga NU, menjaga lingkungan itu bukan isu kiri-kanan, tapi fardhu ‘ain. Merusak alam berarti merusak masa depan anak cucu. Dan dosa ekologis itu unik: taubatnya tidak cukup istighfar, tapi harus pemulihan nyata.

Kesadaran lingkungan lebih penting dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Sebab ekonomi tanpa etika hanya mempercepat kehancuran. Gus Dur pernah bilang, “Pembangunan itu harus memanusiakan manusia.” Hari ini, kita perlu menambah: memanusiakan alam.

Aceh dan Sumatera tidak kekurangan doa, tapi kekurangan keberanian menertibkan keserakahan. Kalau pola ini terus dibiarkan, maka judul tulisan ini akan selalu relevan: setelah laba, bencana kemudian.

Dan seperti kata orang pesantren, “Kalau alam sudah marah, seminar tidak cukup, spanduk tidak mempan, dan CSR tidak laku.” Yang dibutuhkan bukan lagi janji, tapi pertobatan struktural.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Burung Indonesia Gelar Diskusi Skema Pemanfaatan Karbon Hutan

    Burung Indonesia Gelar Diskusi Skema Pemanfaatan Karbon Hutan

    • calendar_month Senin, 9 Mar 2026
    • account_circle Moloneo Az
    • visibility 461
    • 0Komentar

    GORONTALO, NULONDALO.COM – Arah kebijakan pendekatan karbon net sink sektor kehutanan dan penggunaan lahan lainnya pada tahun 2030 (Indonesia’s Forestry and Other Land Use Net Sink 2030) yang dimandatkan oleh pemerintah Indonesia sebagai pengendalian dampak perubahan iklim khususnya sektor kehutanan. Mandat ini telah ditetapkan melalui Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) nomor SK.168/MENLHK/PKTL/PLA.1/2/2022 tentang […]

  • Sa’ad bin Abi Waqqas: Sang Perintis Islam di Negeri China (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #20)

    Sa’ad bin Abi Waqqas: Sang Perintis Islam di Negeri China (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #20)

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 285
    • 0Komentar

    Sa’ad bin Abi Waqqas adalah salah satu sahabat besar Nabi Muhammad yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Nama lengkapnya adalah Sa’ad bin Malik bin Uhaib az-Zuhri dari kabilah Quraisy. Ia dikenal sebagai salah satu sahabat yang masuk Islam pada masa-masa awal dakwah di Makkah. Menurut banyak riwayat, Sa’ad memeluk Islam ketika usianya masih sangat […]

  • Hari Keempat Pencarian ATR 42-500, Tim SAR Sisir Tebing Curam Bulusaraung dengan 9 SRU

    Hari Keempat Pencarian ATR 42-500, Tim SAR Sisir Tebing Curam Bulusaraung dengan 9 SRU

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 238
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, PANGKEP — Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Pegunungan Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan, memasuki hari keempat, Selasa (20/1/2026). Tim SAR gabungan terus mengintensifkan penyisiran di medan ekstrem dengan mengerahkan sembilan Search and Rescue Unit (SRU). Koordinator Misi SAR Makassar, […]

  • Bareskrim Tahan Mantan Direktur PT Dana Syariah Indonesia, Penyidikan Terus Berjalan

    Bareskrim Tahan Mantan Direktur PT Dana Syariah Indonesia, Penyidikan Terus Berjalan

    • calendar_month Sabtu, 11 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 323
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Proses hukum kasus PT Dana Syariah Indonesia (DSI) terus bergulir. Terbaru, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri (Dittipideksus) melakukan pemeriksaan terhadap tersangka berinisial AS, yang merupakan mantan direktur DSI periode 2018–2024 sekaligus salah satu pendiri perusahaan tersebut. Usai menjalani pemeriksaan intensif, AS langsung ditahan oleh penyidik. Direktur Tindak Pidana Ekonomi dan […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    PWNU Gorontalo Gelar Lomba Da’i Cilik pada Pekan Ekonomi Syariah 2025

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Dalam rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah (PES) 2025, Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo akan menggelar Lomba Da’i Cilik, sebuah ajang yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat dakwah dan pemahaman nilai-nilai ekonomi syariah sejak usia dini. Kegiatan ini akan berlangsung pada 28–30 Oktober 2025 di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi No. 346, Kelurahan Limba U […]

  • Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    Lomba Da’i Cilik Meriahkan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 147
    • 0Komentar

    Lomba Da’i Cilik turut memeriahkan rangkaian kegiatan Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo yang dilaksanakan di Kantor PWNU Gorontalo, Rabu (29/10/2025). Penanggung jawab kegiatan, Indrawan Modanggu, menyampaikan bahwa lomba Da’i Cilik ini bertujuan untuk menumbuhkan potensi generasi muda sejak dini, khususnya anak-anak di bawah usia 10 tahun, agar semakin mengenal nilai-nilai Islam dan ekonomi syariah. “PWNU […]

expand_less