Breaking News
light_mode
Trending Tags

Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak Manusia

  • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
  • visibility 218
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Orang NU kalau melihat bencana biasanya langsung bilang, “Ini bukan murka Tuhan, tapi kelalaian manusia.” Gus Dur malah lebih tajam: “Tuhan itu Maha Pengampun, yang tidak pengampun itu manusia”terutama kalau sudah pegang izin tambang.

Di Aceh dan Sumatera, izin usaha ekstraktif tumbuh lebih subur daripada pohon mahoni. Bedanya, mahoni menahan air, izin tambang menahan akal sehat. Gunung digunduli, hutan ditebang, sungai dipersempit, lalu ketika banjir datang kita berkata dengan khidmat, “Ini bencana alam.” Padahal alamnya sudah lama dipaksa pensiun dini.

Dalam tradisi NU, usaha (ikhtiar) dan doa harus seimbang. Tapi dalam praktik korporasi ekstraktif, yang seimbang itu cuma neraca laba-rugi. Lingkungan? Itu dicatat sebagai externalities, istilah halus dari “bukan urusan kita”.

Aceh dan Sumatera menjadi ladang tambang, sawit, dan proyek ekstraktif lain. Kata orang kampung, “Yang kaya bukan kami, yang banjir kami.” Ini akuntansi khas ekstraktif: laba dikonsolidasikan, kerugian disebar ke masyarakat.

Gus Dur mungkin akan bilang, “Ini bukan ekonomi trickle down, tapi bencana trickle down.” Dari atas gunung, air dan lumpur turun ke rumah rakyat kecil, sementara laporan keuangan perusahaan tetap kering kerontang.

CSR sering dipresentasikan dengan baliho besar: “Peduli Lingkungan”. Isinya pembagian sembako, tanam seribu pohon (yang 900-nya lupa disiram), dan foto bersama pejabat. Dalam fiqih NU, ini namanya amal shalih tapi niatnya publikasi.

Kerusakan ekologis itu struktural, tapi CSRnya seremonial. Ibarat orang NU bilang, “Rumah roboh karena rayap, solusinya bukan ganti gorden.” Tapi itulah yang terjadi: sungai rusak, gunung botak, lalu solusinya lomba kebersihan desa.

Negara menerima pajak dari sektor ekstraktif. Tapi jumlahnya seperti amplop kondangan dibanding biaya bencana yang seperti bangun pesantren 10 lantai. Pajak tambang masuk kas daerah ratusan miliar, sementara biaya pemulihan banjir dan longsor tembus puluhan triliun.

Gus Dur mungkin tersenyum pahit sambil berkata, “Kalau ini dagang, namanya untung di awal, bangkrut di akhir.” Negara senang di APBN, tapi pusing di BNPB. Ini akuntansi yang tidak diajarkan di kampus: laba privat, rugi publik.

Dalam ajaran NU, sumber daya alam itu amanah. Tapi dalam praktik, amanah sering dibaca sebagai “hak milik terbatas bagi yang punya akses.” Korporasi ekstraktif menguntungkan segelintir elit, sementara masyarakat sekitar tambang dapat bonus debu, air keruh, dan potensi longsor gratis.

Kalau Gus Dur masih ada, mungkin beliau akan nyeletuk, “Katanya SDA untuk kesejahteraan rakyat. Rakyat yang mana? Yang punya saham?” Pasal 33 UUD 1945 sering dikutip, tapi jarang dipraktikkan. Ia lebih sering dijadikan mantra, bukan pedoman.

Dokumen AMDAL tebalnya seperti kitab kuning. Tapi implementasinya sering setipis selebaran pengajian. Sistem mitigasi lingkungan ada, tapi penegakannya kadang loyo, seperti ronda kampung pas hujan deras, niatnya ada, hasilnya minim.

Ketika bencana datang, semua bingung. Padahal izin sudah keluar, eksploitasi sudah jalan, dan alam sudah lama mengirim sinyal. Dalam bahasa Gus Dur: “Kalau tanda-tanda diabaikan, jangan kaget kalau akibatnya datang tanpa undangan.”

Bagi warga NU, menjaga lingkungan itu bukan isu kiri-kanan, tapi fardhu ‘ain. Merusak alam berarti merusak masa depan anak cucu. Dan dosa ekologis itu unik: taubatnya tidak cukup istighfar, tapi harus pemulihan nyata.

Kesadaran lingkungan lebih penting dari sekadar pertumbuhan ekonomi. Sebab ekonomi tanpa etika hanya mempercepat kehancuran. Gus Dur pernah bilang, “Pembangunan itu harus memanusiakan manusia.” Hari ini, kita perlu menambah: memanusiakan alam.

Aceh dan Sumatera tidak kekurangan doa, tapi kekurangan keberanian menertibkan keserakahan. Kalau pola ini terus dibiarkan, maka judul tulisan ini akan selalu relevan: setelah laba, bencana kemudian.

Dan seperti kata orang pesantren, “Kalau alam sudah marah, seminar tidak cukup, spanduk tidak mempan, dan CSR tidak laku.” Yang dibutuhkan bukan lagi janji, tapi pertobatan struktural.

Penulis : Intelektual Muda Nahdlatul Ulama

  • Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
  • Editor: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dana BOS Madrasah Sudah Cair, Bisa Bayar Honor Guru Non ASN

    Dana BOS Madrasah Sudah Cair, Bisa Bayar Honor Guru Non ASN

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle -
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Nulondalo.com- Jakarta. Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Madrasah dan Bantuan Operasional Pendidikan (BOP) Raudhatul Athfal (RA) hari ini sudah bisa dicairkan secara bertahap. Dana tersebut dapat dimanfaatkan untuk membayar gaji guru non-ASN atau guru honorer yang belum memiliki sertifikasi. Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Amien Suyitno, mengatakan, kebijakan ini menjadi salah satu langkah afirmatif pemerintah dalam […]

  • Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam photo_camera 10

    Seruan Moral Warga NU: Kembalikan Nahdlatul Ulama kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 154
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Musyawarah Besar Warga Nahdaltul Ulama  bertajuk “Mengembalikan NU kepada Jamaah demi Kemaslahatan Bangsa dan Kelestarian Alam” lahir Suruan Moral Nahdlatul Ulama yang digelar di kediaman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ciganjur, Jakarta Selatan, Ahad (21/12/2025). Musyawarah tersebut dihadiri oleh warga, jamaah, serta para muhibbin Nahdlatul Ulama dari berbagai daerah sebagai ikhtiar kolektif untuk […]

  • Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    Akadnya Rapi, Akhlaknya Bolong

    • calendar_month Jumat, 23 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Kalau mendengar istilah “korporasi syariah”, banyak orang langsung merasa tenang. Seolah-olah begitu ada kata “syariah”, uang otomatis aman, laporan keuangan jujur, dan direksi langsung rajin tahajud. Padahal, kata Gus Dur, “Tidak semua yang pakai sarung itu kiai”, dan tidak semua yang berlabel syariah itu amanah. Di brosur, korporasi syariah digambarkan bak pesantren modern: bersih, rapi, […]

  • Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    Mahasiswa PGMI UNUSIA Sukses Gelar GEMA APUPPT, Dorong Generasi Muda Lawan Pencucian Uang

    • calendar_month Jumat, 7 Nov 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 136
    • 0Komentar

    nulondalo.com -Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) sukses menyelenggarakan kegiatan Gerakan Muda Anti Pencucian Uang dan Pencegahan Pendanaan Terorisme (GEMA APUPPT), Kamis (6/11/2025), di Kampus B UNUSIA Parung. Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi UNUSIA bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), PT Pegadaian Area Bogor, dan PT […]

  • Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat, Tujuh Menteri Dikabarkan Dievaluasi

    Isu Reshuffle Kabinet Prabowo Menguat, Tujuh Menteri Dikabarkan Dievaluasi

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 245
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Isu perombakan kabinet kembali mencuat di tengah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Kabinet Merah Putih disebut-sebut akan mengalami reshuffle dalam waktu dekat, menyusul agenda pelantikan sejumlah pejabat yang dijadwalkan berlangsung di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (28/1/2026) sekitar pukul 13.00 WIB. Meski belum ada pernyataan resmi dari pihak Istana, rencana pelantikan tersebut memicu spekulasi bahwa […]

  • Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    Mengemis untuk Kaya? Islam Tidak Membenarkan

    • calendar_month Sabtu, 5 Jul 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Belum lama ini, publik Gorontalo dibuat heboh dengan kisah viral seorang pria paruh baya berinisial LH alias Luthfi (47), warga Kelurahan Ipilo, Kota Gorontalo. Sosok ini diketahui telah lama berprofesi sebagai pengemis di berbagai sudut kota. Namun yang bikin kaget, ia ternyata memiliki rekening dengan simpanan fantastis — mencapai Rp 500 juta. Kabar ini bermula […]

expand_less