Breaking News
light_mode
Trending Tags

Pasar Masuk Angin

  • account_circle  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 388
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri yang katanya ramah, religius, dan gemar musyawarah ini, ekonomi ternyata juga punya perasaan. Ia bisa senang, bisa sedih, dan rupanya juga bisa kaget sampai masuk angin. Buktinya, ketika keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, resmi ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pasar langsung demam. Rupiah menggigil, IHSG meriang, dan investor asing mendadak banyak yang “izin ke luar sebentar”.

Di kalangan Nahdlatul Ulama, ada ungkapan bijak: “Sing penting rukun, tapi ojo kebablasan.” Artinya, rukun itu penting, tapi kalau semua jabatan diisi orang yang itu-itu saja, pasar bisa curiga: ini rukun atau rebutan kursi?

Secara administratif, penunjukan ini sah. Ada fit and proper test, ada DPR, ada palu diketok. Tapi seperti kata Gus Dur, “Di Indonesia, yang sering bermasalah bukan hukumnya, tapi perasaannya.” Dan pasar, seperti santri NU yang hafal kitab Fathul Qarib, sangat peka pada perasaan, terutama perasaan soal independensi.

Bank Indonesia itu bukan koperasi keluarga. Ia bukan arisan RT, apalagi majelis taklim trah. BI adalah bank sentral, lembaga yang tugasnya menjaga rupiah tetap waras di tengah godaan inflasi, defisit, dan janji politik yang sering manis di awal, pahit di akhir.

Maka ketika seorang keponakan Presiden masuk ke jantung BI, pasar langsung berbisik lirih, “Ini kebijakan moneter atau silaturahim nasional?” Bukan karena sang keponakan tidak pintar, tapi karena pasar tidak suka kejutan keluarga di lembaga yang seharusnya steril dari urusan kekerabatan.

Reaksi pasar pun tak kalah dramatis. Rupiah melemah mendekati Rp. 17.000 per dolar AS. Angka yang membuat sebagian ekonom senior spontan membaca istighfar. Ini bukan sekadar angka, ini déjà vu. Seperti bau krisis lama yang tiba-tiba mampir tanpa undangan.

IHSG pun ikut oleng. Saham-saham berguguran bukan karena laporan keuangan, tapi karena laporan perasaan: perasaan investor yang mulai tidak enak. MSCI memberi sinyal waspada, investor global membaca tanda, dan dalam hitungan hari, puluhan miliar dolar nilai pasar menguap. Hilang bukan karena dicuri, tapi karena kabur.

Yang menarik, di tengah kegaduhan ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia memilih mundur. Sebuah sikap yang dalam tradisi NU bisa disebut tanggung jawab moral, atau dalam bahasa Gus Dur: “Kalau kapal goyang dan nakhodanya turun, berarti gelombangnya bukan kaleng-kaleng.”

Tak berhenti di situ, Ketua OJK dan beberapa petingginya juga ikut mundur. Lengkap sudah: BI dipertanyakan independensinya, BEI kehilangan nakhoda, OJK kehilangan penjaga. Kalau ini sinetron, judulnya mungkin: Cinta, Kekuasaan, dan Regulasi yang Bimbang.

Dari sini kita belajar satu hal penting: pasar itu bukan kiai yang bisa diajak tabayyun panjang. Pasar bereaksi cepat. Ia tidak menunggu klarifikasi, apalagi konferensi pers yang penuh basa-basi. Begitu mencium aroma politisasi, ia langsung angkat koper.

Dalam tradisi NU, kita diajarkan tawazun keseimbangan. Politik boleh jalan, ekonomi juga harus lurus. Ketika lembaga profesional terlalu dekat dengan kekuasaan, yang terjadi bukan keberkahan, tapi kecurigaan berjamaah.

Rupiah itu seperti santri mondok: butuh ketenangan, kepastian, dan kepercayaan pada pengasuhnya. Kalau pengasuhnya dicurigai punya agenda lain, santri bisa kabur, atau minimal galau.

Pelajaran terpenting dari kisah “keponakan dan pasar masuk angin” ini sederhana tapi mahal: trust adalah mata uang paling keras. Ia tidak bisa dicetak, tidak bisa diintervensi, dan tidak bisa dipaksa dengan pidato. Sekali hilang, susah kembali.

Gus Dur pernah berkata, “Kekuasaan itu titipan.” Dalam ekonomi, jabatan juga titipan, bukan untuk dibagi ke keluarga, tapi untuk dijaga demi kepentingan bersama. Kalau tidak, pasar akan terus memberi pelajaran, dengan cara yang sering kali tidak lucu.

Maka sebelum rupiah makin pilek dan IHSG makin pusing, barangkali kita perlu kembali pada prinsip lama NU: amanah, profesional, dan tahu batas. Karena ekonomi, seperti humor Gus Dur, hanya lucu kalau tidak menyakiti rakyat.

  • Penulis:  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • Editor:  Dr. Muhammad Aras Prabowo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Petani Bukan Beban, Mereka Jantung Pembangunan

    Petani Bukan Beban, Mereka Jantung Pembangunan

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 111
    • 0Komentar

    Di momentum Hari Tani Nasional, Ketua Tani Merdeka Indonesia Provinsi Gorontalo, Rian Uno, menyoroti persoalan investasi perkebunan dan pertambangan di Gorontalo yang dinilai tidak berpihak pada masyarakat petani. Menurutnya, kondisi ini bertolak belakang dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menegaskan bahwa petani harus bangga menjadi tulang punggung bangsa. “Saya melihat petani di Gorontalo masih menghadapi […]

  • PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    PBNU, Kisruh Digital, dan Kerentanan dari Sikap Terlalu Akomodatif

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 264
    • 0Komentar

    (Penulis Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Kisruh di PBNU bukan hal mengejutkan. NU sejak dulu hidup dengan perdebatan. Organisasi sebesar ini wajar kalau penuh pandangan, ego, dan aspirasi. Tapi kisruh kali ini berbeda: ia terjadi di era digital—era ketika gesekan kecil langsung berubah jadi tontonan nasional sebelum ada kesempatan […]

  • Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Ratusan Pendamping Desa menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, pada Rabu, 16 April 2025. Dalam aksi tersebut mereka menolak Kebijakan Menteri Desa Yandri Susanto yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 1.040 pendamping desa eks caleg di Pemilu 2024. Koordinator Aksi Robby Maulana menyebut demonstrasi ini […]

  • Wawali Indra Gobel Tekankan Peran Masyarakat dalam Pembangunan saat Silaturahmi di Limba B

    Wawali Indra Gobel Tekankan Peran Masyarakat dalam Pembangunan saat Silaturahmi di Limba B

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 195
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Wakil Wali Kota Gorontalo, Indra Gobel, menegaskan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam pembangunan kota saat menghadiri kegiatan silaturahmi bersama warga di Kelurahan Limba B, Sabtu (11/4/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-298 Kota Gorontalo. Dalam sambutannya, Indra menyampaikan bahwa satu tahun masa kepemimpinannya bersama Wali Kota Gorontalo, Adhan, […]

  • Aktivis HAM Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta, Ketua PBNU dan Wamen HAM Kutuk Keras

    Aktivis HAM Andrie Yunus Diserang Air Keras di Jakarta, Ketua PBNU dan Wamen HAM Kutuk Keras

    • calendar_month Jumat, 13 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 296
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Serangan penyiraman air keras menimpa Wakil Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), Andrie Yunus, pada Kamis (12/3/2026) pukul 23.00 WIB di kawasan Jalan Salemba I Talang, Jakarta Pusat. Insiden ini memicu kecaman dari berbagai pihak, termasuk Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Mohamad Syafi’ Alielha atau Savic Ali, serta […]

  • Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    Pesawat ATR 42 Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros, Basarnas Lakukan Pencarian

    • calendar_month Sabtu, 17 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 244
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kementerian Perhubungan melalui Direktorat Jenderal Perhubungan Udara menerima laporan hilangnya kontak (loss contact) pesawat udara jenis ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, Sabtu (17/1/2026). Pesawat dengan registrasi PK-THT tersebut dioperasikan oleh IAT selaku pemegang AOC 034, dan sedang melakukan penerbangan dari Bandara Adi Sucipto Yogyakarta (JOG) […]

expand_less