Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pasar Masuk Angin

  • account_circle  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 572
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri yang katanya ramah, religius, dan gemar musyawarah ini, ekonomi ternyata juga punya perasaan. Ia bisa senang, bisa sedih, dan rupanya juga bisa kaget sampai masuk angin. Buktinya, ketika keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, resmi ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pasar langsung demam. Rupiah menggigil, IHSG meriang, dan investor asing mendadak banyak yang “izin ke luar sebentar”.

Di kalangan Nahdlatul Ulama, ada ungkapan bijak: “Sing penting rukun, tapi ojo kebablasan.” Artinya, rukun itu penting, tapi kalau semua jabatan diisi orang yang itu-itu saja, pasar bisa curiga: ini rukun atau rebutan kursi?

Secara administratif, penunjukan ini sah. Ada fit and proper test, ada DPR, ada palu diketok. Tapi seperti kata Gus Dur, “Di Indonesia, yang sering bermasalah bukan hukumnya, tapi perasaannya.” Dan pasar, seperti santri NU yang hafal kitab Fathul Qarib, sangat peka pada perasaan, terutama perasaan soal independensi.

Bank Indonesia itu bukan koperasi keluarga. Ia bukan arisan RT, apalagi majelis taklim trah. BI adalah bank sentral, lembaga yang tugasnya menjaga rupiah tetap waras di tengah godaan inflasi, defisit, dan janji politik yang sering manis di awal, pahit di akhir.

Maka ketika seorang keponakan Presiden masuk ke jantung BI, pasar langsung berbisik lirih, “Ini kebijakan moneter atau silaturahim nasional?” Bukan karena sang keponakan tidak pintar, tapi karena pasar tidak suka kejutan keluarga di lembaga yang seharusnya steril dari urusan kekerabatan.

Reaksi pasar pun tak kalah dramatis. Rupiah melemah mendekati Rp. 17.000 per dolar AS. Angka yang membuat sebagian ekonom senior spontan membaca istighfar. Ini bukan sekadar angka, ini déjà vu. Seperti bau krisis lama yang tiba-tiba mampir tanpa undangan.

IHSG pun ikut oleng. Saham-saham berguguran bukan karena laporan keuangan, tapi karena laporan perasaan: perasaan investor yang mulai tidak enak. MSCI memberi sinyal waspada, investor global membaca tanda, dan dalam hitungan hari, puluhan miliar dolar nilai pasar menguap. Hilang bukan karena dicuri, tapi karena kabur.

Yang menarik, di tengah kegaduhan ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia memilih mundur. Sebuah sikap yang dalam tradisi NU bisa disebut tanggung jawab moral, atau dalam bahasa Gus Dur: “Kalau kapal goyang dan nakhodanya turun, berarti gelombangnya bukan kaleng-kaleng.”

Tak berhenti di situ, Ketua OJK dan beberapa petingginya juga ikut mundur. Lengkap sudah: BI dipertanyakan independensinya, BEI kehilangan nakhoda, OJK kehilangan penjaga. Kalau ini sinetron, judulnya mungkin: Cinta, Kekuasaan, dan Regulasi yang Bimbang.

Dari sini kita belajar satu hal penting: pasar itu bukan kiai yang bisa diajak tabayyun panjang. Pasar bereaksi cepat. Ia tidak menunggu klarifikasi, apalagi konferensi pers yang penuh basa-basi. Begitu mencium aroma politisasi, ia langsung angkat koper.

Dalam tradisi NU, kita diajarkan tawazun keseimbangan. Politik boleh jalan, ekonomi juga harus lurus. Ketika lembaga profesional terlalu dekat dengan kekuasaan, yang terjadi bukan keberkahan, tapi kecurigaan berjamaah.

Rupiah itu seperti santri mondok: butuh ketenangan, kepastian, dan kepercayaan pada pengasuhnya. Kalau pengasuhnya dicurigai punya agenda lain, santri bisa kabur, atau minimal galau.

Pelajaran terpenting dari kisah “keponakan dan pasar masuk angin” ini sederhana tapi mahal: trust adalah mata uang paling keras. Ia tidak bisa dicetak, tidak bisa diintervensi, dan tidak bisa dipaksa dengan pidato. Sekali hilang, susah kembali.

Gus Dur pernah berkata, “Kekuasaan itu titipan.” Dalam ekonomi, jabatan juga titipan, bukan untuk dibagi ke keluarga, tapi untuk dijaga demi kepentingan bersama. Kalau tidak, pasar akan terus memberi pelajaran, dengan cara yang sering kali tidak lucu.

Maka sebelum rupiah makin pilek dan IHSG makin pusing, barangkali kita perlu kembali pada prinsip lama NU: amanah, profesional, dan tahu batas. Karena ekonomi, seperti humor Gus Dur, hanya lucu kalau tidak menyakiti rakyat.

  • Penulis:  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • Editor:  Dr. Muhammad Aras Prabowo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    Kolaborasi Peneliti, Warga Pesisir, dan Pemerintah Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo

    • calendar_month Rabu, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 198
    • 0Komentar

    Kerusakan terumbu karang menjadi ancaman nyata bagi ekosistem laut, Salah satunya di dasar laut yang berada di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef (karang penghalang) yang berada disana sudah menjadi patahan karang mati yang kehilangan fungsinya sebagai rumah bagi ribuan biota laut. Kerusakan ini akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan […]

  • Investigasi Dugaan Prostitusi Berujung Laporan Polisi, Ketua PERJOSI Maros Mengaku Dihina, Difitnah, dan Diintimidasi

    Investigasi Dugaan Prostitusi Berujung Laporan Polisi, Ketua PERJOSI Maros Mengaku Dihina, Difitnah, dan Diintimidasi

    • calendar_month Rabu, 22 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS – Polemik pemberitaan mengenai dugaan praktik prostitusi yang disebut berlangsung di balik aktivitas sebuah warung kopi di Kabupaten Maros kini bergulir ke ranah hukum. Ketua Perserikatan Journalist Siber Indonesia (PERJOSI) Kabupaten Maros, Tallasa, resmi melaporkan seorang perempuan berinisial FR, yang disebut sebagai pemilik warung tersebut, ke Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Maros, Rabu […]

  • OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    OJK Dorong UMKM Gorontalo Manfaatkan Crowdfunding di Pekan Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui narasumbernya, Abdul Rahmat, mendorong para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Gorontalo agar mulai memanfaatkan skema crowdfunding sebagai alternatif pendanaan di luar sektor perbankan. Hal itu disampaikan dalam kegiatan crowdfunding yang menjadi salah satu rangkaian Pekan Ekonomi Syariah (PES) yang digelar oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo, […]

  • Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    Disaksikan Presiden Prabowo, MUI Kukuhkan Pengurus Baru. Berikut Susunannya

    • calendar_month Sabtu, 7 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 358
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) resmi mengukuhkan susunan pengurus masa khidmah 2025–2030 dalam sebuah prosesi di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Sabtu (7/2/2026). Pengukuhan dipimpin langsung Ketua Umum MUI KH Anwar Iskandar dan disaksikan Presiden RI Prabowo Subianto bersama sejumlah tokoh nasional. Acara yang dirangkaikan dengan kegiatan “Bersatu dalam Munajat untuk Keselamatan Bangsa” itu dihadiri […]

  • Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)

    • calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 381
    • 0Komentar

    Pada edisi Ramadhan 2026 kali ini, saya ingin mengisinya dengan menceritakan orang-orang yang hidup di zaman Nabi Muhammad SAW, yang kita kenal sebagai sahabat Nabi tetapi sangat sedikit disebut dalam catatan sejarah. Julaybib adalah salah satunya. Siapa di antara kita umat Islam yang mengenal sosok ini. Mungkin ada, tetapi sangat sedikit. Termasuk saya yang baru […]

  • Gusdur Dalam Memori  Mbak Yenny dan Gus Mus

    Gusdur Dalam Memori Mbak Yenny dan Gus Mus

    • calendar_month Jumat, 19 Des 2025
    • account_circle Riski Hidayat
    • visibility 236
    • 0Komentar

    Oleh: Riski Hidayat, Mahasiswa Pasca Sarjana UAC Mojokerto Tulisan ini Merupakan Refleksi Penulis pada saat Menghadiri Acara Peringatan Haul Gus Dur ke 16 dan Tasyakuran Penganugrahan Gelar Pahlawan Nasional K.H Abdurrahman Wahid di Tebu Ireng Pada 17 Desember 2025. Berangkat dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Yenny Wahid. Apa yang membuat Gus Dur begitu istimewa […]

expand_less