Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Pasar Masuk Angin

  • account_circle  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • calendar_month Senin, 2 Feb 2026
  • visibility 471
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Di negeri yang katanya ramah, religius, dan gemar musyawarah ini, ekonomi ternyata juga punya perasaan. Ia bisa senang, bisa sedih, dan rupanya juga bisa kaget sampai masuk angin. Buktinya, ketika keponakan Presiden Prabowo Subianto, Thomas Djiwandono, resmi ditunjuk sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), pasar langsung demam. Rupiah menggigil, IHSG meriang, dan investor asing mendadak banyak yang “izin ke luar sebentar”.

Di kalangan Nahdlatul Ulama, ada ungkapan bijak: “Sing penting rukun, tapi ojo kebablasan.” Artinya, rukun itu penting, tapi kalau semua jabatan diisi orang yang itu-itu saja, pasar bisa curiga: ini rukun atau rebutan kursi?

Secara administratif, penunjukan ini sah. Ada fit and proper test, ada DPR, ada palu diketok. Tapi seperti kata Gus Dur, “Di Indonesia, yang sering bermasalah bukan hukumnya, tapi perasaannya.” Dan pasar, seperti santri NU yang hafal kitab Fathul Qarib, sangat peka pada perasaan, terutama perasaan soal independensi.

Bank Indonesia itu bukan koperasi keluarga. Ia bukan arisan RT, apalagi majelis taklim trah. BI adalah bank sentral, lembaga yang tugasnya menjaga rupiah tetap waras di tengah godaan inflasi, defisit, dan janji politik yang sering manis di awal, pahit di akhir.

Maka ketika seorang keponakan Presiden masuk ke jantung BI, pasar langsung berbisik lirih, “Ini kebijakan moneter atau silaturahim nasional?” Bukan karena sang keponakan tidak pintar, tapi karena pasar tidak suka kejutan keluarga di lembaga yang seharusnya steril dari urusan kekerabatan.

Reaksi pasar pun tak kalah dramatis. Rupiah melemah mendekati Rp. 17.000 per dolar AS. Angka yang membuat sebagian ekonom senior spontan membaca istighfar. Ini bukan sekadar angka, ini déjà vu. Seperti bau krisis lama yang tiba-tiba mampir tanpa undangan.

IHSG pun ikut oleng. Saham-saham berguguran bukan karena laporan keuangan, tapi karena laporan perasaan: perasaan investor yang mulai tidak enak. MSCI memberi sinyal waspada, investor global membaca tanda, dan dalam hitungan hari, puluhan miliar dolar nilai pasar menguap. Hilang bukan karena dicuri, tapi karena kabur.

Yang menarik, di tengah kegaduhan ini, Direktur Utama Bursa Efek Indonesia memilih mundur. Sebuah sikap yang dalam tradisi NU bisa disebut tanggung jawab moral, atau dalam bahasa Gus Dur: “Kalau kapal goyang dan nakhodanya turun, berarti gelombangnya bukan kaleng-kaleng.”

Tak berhenti di situ, Ketua OJK dan beberapa petingginya juga ikut mundur. Lengkap sudah: BI dipertanyakan independensinya, BEI kehilangan nakhoda, OJK kehilangan penjaga. Kalau ini sinetron, judulnya mungkin: Cinta, Kekuasaan, dan Regulasi yang Bimbang.

Dari sini kita belajar satu hal penting: pasar itu bukan kiai yang bisa diajak tabayyun panjang. Pasar bereaksi cepat. Ia tidak menunggu klarifikasi, apalagi konferensi pers yang penuh basa-basi. Begitu mencium aroma politisasi, ia langsung angkat koper.

Dalam tradisi NU, kita diajarkan tawazun keseimbangan. Politik boleh jalan, ekonomi juga harus lurus. Ketika lembaga profesional terlalu dekat dengan kekuasaan, yang terjadi bukan keberkahan, tapi kecurigaan berjamaah.

Rupiah itu seperti santri mondok: butuh ketenangan, kepastian, dan kepercayaan pada pengasuhnya. Kalau pengasuhnya dicurigai punya agenda lain, santri bisa kabur, atau minimal galau.

Pelajaran terpenting dari kisah “keponakan dan pasar masuk angin” ini sederhana tapi mahal: trust adalah mata uang paling keras. Ia tidak bisa dicetak, tidak bisa diintervensi, dan tidak bisa dipaksa dengan pidato. Sekali hilang, susah kembali.

Gus Dur pernah berkata, “Kekuasaan itu titipan.” Dalam ekonomi, jabatan juga titipan, bukan untuk dibagi ke keluarga, tapi untuk dijaga demi kepentingan bersama. Kalau tidak, pasar akan terus memberi pelajaran, dengan cara yang sering kali tidak lucu.

Maka sebelum rupiah makin pilek dan IHSG makin pusing, barangkali kita perlu kembali pada prinsip lama NU: amanah, profesional, dan tahu batas. Karena ekonomi, seperti humor Gus Dur, hanya lucu kalau tidak menyakiti rakyat.

  • Penulis:  Dr. Muhammad Aras Prabowo
  • Editor:  Dr. Muhammad Aras Prabowo

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua IKPM-HT Yogyakarta Resmi Laporkan Kader PDI-P, Shanty Alda Nathalia ke Bidang Kehormatan DPP

    Ketua IKPM-HT Yogyakarta Resmi Laporkan Kader PDI-P, Shanty Alda Nathalia ke Bidang Kehormatan DPP

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 318
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta – Ketua Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta resmi melayangkan surat pengaduan terhadap Shanty Alda Nathalia, Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, ke Bidang Kehormatan DPP PDI Perjuangan pada Selasa (3/3/2026). Laporan ini terkait dugaan pelanggaran disiplin partai dan benturan kepentingan (conflict of interest) yang dinilai mencederai marwah institusi. […]

  • Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    Istighosah Tutup Rangkaian Pekan Ekonomi Syariah Nahdlatul Ulama Gorontal

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan istighosah sebagai salah satu rangkaian dari Pekan Ekonomi Syariah PWNU Gorontalo . Kegiatan ini berlangsung di Kantor PWNU Gorontalo, dihadiri oleh jajaran pengurus, para kiai, tokoh agama, dan peserta dari berbagai kalangan serta seluruh masyarakat Nahdatul ulama, kamis  (30/10/2025) Istighosah tersebut dipimpin KH. Muhyidin Zeni Wakil […]

  • Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    Aktivis Bakal menggelar Aksi Demo, Desak Kejati dan Polda Gorontalo Tangkap Wahyudin Moridu

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 161
    • 0Komentar

    Gelombang kritik terhadap praktik korupsi di tubuh elit politik Gorontalo semakin menguat. Aktivis muda Gorontalo, Kevin Lapendos, dengan lantang meminta Kejaksaan Tinggi (Kejati) dan Polda Gorontalo segera mengambil langkah hukum tegas terhadap Wahyudin Moridu, anggota legislatif Provinsi Gorontalo dari fraksi PDIP, yang diduga kuat terlibat dalam praktik korupsi saat masih menjabat sebagai anggota DPRD Boalemo […]

  • Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    Ramadhan dan Ilusi Stabilitas Demokrasi

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Suko Wahyudi
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan jeda dalam hiruk pikuk kehidupan publik. Ia bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga ruang refleksi kebangsaan. Dalam suasana menahan lapar dan dahaga, manusia diajak menata ulang relasinya dengan Tuhan, sesama, dan dirinya sendiri. Dalam konteks Indonesia hari ini, Ramadhan memberi kita cermin untuk membaca kondisi hukum dan politik yang tampak stabil, tetapi […]

  • Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    Menag Kukuhkan Muhammad Aras Prabowo Jadi Doktor Akuntansi di UNTIRTA

    • calendar_month Kamis, 4 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 149
    • 0Komentar

    Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, resmi mengukuhkan Muhammad Aras Prabowo sebagai Doktor Ilmu Akuntansi dalam sidang terbuka di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA), Sabtu (27/9). Aras meraih gelar doktor lewat disertasi berjudul “Nilai-Nilai Teseng dalam Konstruksi Akuntabilitas di Sektor Pertanian”. Penelitiannya mengangkat kearifan lokal masyarakat Bugis Bone, khususnya […]

  • Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    Spirit Qurban: Manifestasi Iman dan Solidaritas Kemanusiaan

    • calendar_month Minggu, 10 Mei 2026
    • account_circle Amsar A. Dulmanan
    • visibility 250
    • 0Komentar

    Ibadah qurban merupakan  simbol spiritual paling mendalam pada tradisi Islam. Qurban tidak sekadar ritual penyembelihan hewan pada momentum Idul Adha, melainkan representasi perjalanan batin manusia dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT sekaligus memperkuat relasi kemanusiaan. Dalam tindakan qurban terkandung pesan pengorbanan, keikhlasan, ketundukan, dan solidaritas sosial yang melampaui makna formal ibadah. Di tengah kehidupan modern […]

expand_less