Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Membentengi Anggaran Makan Bergizi: Ujian Akuntabilitas dan Integritas SPIP

  • account_circle Amrullah
  • calendar_month Kamis, 30 Apr 2026
  • visibility 237
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Anggaran publik seharusnya tidak hanya dipahami sebagai deretan angka yang tersusun rapi dalam dokumen resmi negara. Lebih dari itu, anggaran merupakan bentuk nyata dari komitmen pemerintah kepada masyarakat, sekaligus ukuran sejauh mana negara mampu menjaga kepercayaan yang telah diberikan. Oleh karena itu, ketika anggaran dialokasikan untuk program makan bergizi, persoalannya tidak berhenti pada aspek teknis seperti penyaluran dana atau distribusi bahan makanan. Ada persoalan yang jauh lebih mendasar, yaitu apakah anggaran tersebut benar-benar digunakan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, atau justru terserap dalam praktik kebocoran, sekadar formalitas administratif, serta pola birokrasi yang kehilangan arah integritas. Di titik inilah kritik terhadap pengelolaan anggaran menjadi relevan, karena tanpa sistem pengawasan yang kuat, program yang baik sekalipun berpotensi berubah menjadi kegiatan simbolis tanpa dampak nyata.

Program makan bergizi pada hakikatnya memiliki nilai strategis yang sangat tinggi dalam pembangunan sosial. Program ini berkaitan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia, kesehatan anak-anak, kemampuan belajar, hingga masa depan pembangunan nasional secara keseluruhan. Namun, justru karena menyentuh aspek kebutuhan dasar masyarakat, program ini juga memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap berbagai bentuk penyimpangan. Besarnya alokasi anggaran, panjangnya rantai distribusi, keterlibatan banyak pihak, serta proses pengadaan barang dan jasa membuka peluang terjadinya inefisiensi maupun kecurangan. Dalam kenyataannya, kebocoran anggaran tidak selalu muncul dalam bentuk korupsi yang terlihat jelas. Ia bisa muncul dalam bentuk penggelembungan harga, pengadaan yang tidak sesuai standar, laporan yang tidak sesuai fakta, pemborosan administratif, atau distribusi yang tidak tepat sasaran. Dengan demikian, persoalan anggaran tidak hanya berkaitan dengan tindakan pencurian, tetapi juga menyangkut ketidakmampuan sistem dalam memastikan bahwa setiap rupiah memberikan manfaat yang optimal.

Dalam kondisi seperti ini, Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) seharusnya berperan sebagai benteng utama dalam menjaga tata kelola anggaran. SPIP dirancang untuk memastikan bahwa penyelenggaraan pemerintahan berjalan secara efektif, efisien, sesuai dengan peraturan, serta menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya. Idealnya, SPIP tidak hanya berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi kesalahan setelah terjadi, tetapi juga sebagai mekanisme pencegahan sejak awal proses berjalan. Sistem ini bekerja melalui berbagai unsur, seperti lingkungan pengendalian, penilaian risiko, kegiatan pengendalian, sistem informasi dan komunikasi, serta pemantauan yang berkelanjutan. Dengan struktur seperti itu, SPIP seharusnya mampu menutup berbagai celah yang dapat dimanfaatkan untuk penyimpangan sebelum berkembang menjadi kerugian negara. Namun dalam praktiknya, kekuatan konsep SPIP sering kali tidak diikuti oleh kualitas implementasi yang memadai. Secara administratif sistem terlihat tertata, tetapi dalam pelaksanaannya sering kali pengendalian hanya dijalankan sebagai kewajiban formal, bukan sebagai bagian dari budaya kerja yang hidup.

Permasalahan pertama dapat dilihat dari lemahnya fungsi pengawasan internal di banyak instansi. Pengendalian masih sering dianggap sebagai tugas tambahan, bukan sebagai bagian utama dari proses kerja organisasi. Akibatnya, kegiatan audit internal dan pemeriksaan sering dilakukan setelah masalah terjadi, bukan untuk mencegahnya sejak awal. Dalam konteks program makan bergizi, kondisi ini sangat berisiko karena kesalahan kecil pada tahap perencanaan atau pengadaan dapat berdampak besar terhadap kualitas pelaksanaan di lapangan. Misalnya, kualitas makanan yang menurun, sasaran penerima yang tidak tepat, atau penggunaan anggaran yang tidak sebanding dengan hasil yang diperoleh. Lemahnya pengawasan juga menyebabkan tidak jelasnya pembagian tanggung jawab. Ketika terjadi masalah, setiap pihak cenderung menghindari tanggung jawab dan saling menyalahkan, sehingga penyelesaian masalah menjadi tidak efektif.

  • Penulis: Amrullah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    Ukasyah bin Mihshan: Sahabat Yang Menuntut Balas Kepada Nabi (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #15)

    • calendar_month Kamis, 5 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 329
    • 0Komentar

    Ukasyah bin Mihshan adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad  yang dikenal karena keberanian, kesetiaan, dan kedekatannya dengan Rasulullah dalam berbagai peperangan serta kehidupan sehari-hari. Ia berasal dari suku Bani Asad. Biografi lengkapnya tidak banyak tercatat, tetapi riwayat sejarah menunjukkan bahwa Ukasyah ikut serta dalam berbagai ekspedisi militer penting, termasuk Perang Badr, Uhud, dan Khandaq. Ia dikenal […]

  • Ketua TMI Gorontalo Rian Uno Soroti Dampak Investasi: Perusahaan Harus Evaluasi Diri dan Jangan Rugikan Petani

    Ketua TMI Gorontalo Rian Uno Soroti Dampak Investasi: Perusahaan Harus Evaluasi Diri dan Jangan Rugikan Petani

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Ketua Tani Merdeka Indonesia (TMI) Provinsi Gorontalo, Rian Uno, menyampaikan pernyataan tegas terkait dampak investasi sejumlah perusahaan besar di wilayah Gorontalo, khususnya di Kabupaten Pohuwato. Menurutnya, polemik seputar investasi tersebut telah mencapai tingkat yang mengkhawatirkan hingga mendorong pembentukan panitia khusus (pansus) di tingkat daerah. “Pansus pertambangan dan pansus sawit telah dibentuk untuk menyikapi persoalan ini. […]

  • Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    Akbar Ramadhan Tegaskan Siap Kawal Pengisian Jabatan Kosong di Desa Majannang

    • calendar_month Rabu, 20 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 271
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Anggota Karang Taruna Desa Majannang, Akbar Ramadhan, menyampaikan komitmennya untuk mengawal proses pengisian sejumlah jabatan yang saat ini masih kosong di Desa Majannang. Menurutnya, kekosongan beberapa posisi penting di desa harus segera mendapat perhatian serius demi menjaga stabilitas pelayanan dan jalannya pemerintahan desa. Adapun posisi yang menjadi sorotan di antaranya jabatan Kepala […]

  • Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    Sampaikan Amanat Ketum Muhaimin, Nihayatul Tegaskan Empat Pilar Politik Perjuangan PKB

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 314
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Provinsi Gorontalo menggelar Orientasi Politik yang dirangkaikan dengan Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) serta pengukuhan pengurus masa bakti 2026–2031. Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi dan penegasan arah perjuangan partai menjelang Pemilu 2029. Dalam kegiatan tersebut, Anggota Komisi IX DPR RI sekaligus Ketua Perempuan Bangsa DPP PKB, […]

  • Sudah Tahu? Ini Nominal Zakat Fitrah dan Fidyah Terbaru Tahun 1447 H

    Sudah Tahu? Ini Nominal Zakat Fitrah dan Fidyah Terbaru Tahun 1447 H

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 299
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI resmi menetapkan besaran zakat fitrah tahun 1447 Hijriah/2026 Masehi sebesar Rp50.000 per jiwa atau setara dengan 2,5 kilogram atau 3,5 liter beras premium. Selain itu, BAZNAS juga menetapkan besaran fidyah sebesar Rp65.000 per jiwa per hari. Ketua BAZNAS RI, Noor Achmad, menyampaikan bahwa penetapan tersebut dilakukan setelah […]

  • Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

    Anak Miskin Jadi Sarjana: Bukan Keajaiban, Tapi Tanda Gagalnya Sistem Pendidikan

    • calendar_month Kamis, 29 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Kisah-kisah tentang keluarga miskin yang  berhasil menyekolahkan anaknya hingga mencetak sarjana bahkan sampai meraih gelar doktor, selalu mengalirkan inspirasi.  Di media sosial ceritanya memantik perhatian yang tinggi. Narasinya dibagikan berulang-ulang. Orang menanggapinya dengan pujian dan rasa haru. Keberhasilan  orang-orang miskin itu menorehkan kesan yang kuat. Sebab mereka meraih sarjana dengan perjuangan yang berdarah-darah. Ada yang […]

expand_less