Akademisi UNUSIA Kecam Dugaan Penyalahgunaan 900 Identitas Petani dalam Kasus KUR di Jember
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 21
- print Cetak

Muhammad Aras Prabowo/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Aras juga mendesak pemerintah, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian BUMN, serta seluruh perbankan nasional untuk melakukan audit menyeluruh terhadap mekanisme penyaluran KUR di seluruh Indonesia.
Ia mengusulkan penguatan sistem verifikasi biometrik berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK), digital audit trail, audit forensik berkala, penerapan three lines of defense, serta pengawasan berbasis manajemen risiko guna mencegah penyimpangan serupa.
Menurutnya, reformasi tata kelola harus menjadi agenda utama agar kasus yang merugikan petani tidak kembali terulang.
“Korupsi terhadap dana pemberdayaan petani merupakan bentuk pengkhianatan terhadap public trust. Semakin besar kewenangan yang diberikan negara, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dipikul.
Karena itu, hukuman terhadap pelaku tidak cukup hanya bersifat represif, tetapi juga harus memberikan efek jera serta menjadi momentum reformasi tata kelola penyaluran KUR secara nasional.
Akuntabilitas yang kuat bukan hanya menemukan siapa yang salah, tetapi memastikan sistem yang memungkinkan penyimpangan itu terjadi diperbaiki secara menyeluruh,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Aras meminta agar seluruh petani yang identitasnya diduga disalahgunakan memperoleh pemulihan nama baik, perlindungan hukum, serta penghapusan seluruh kewajiban yang timbul akibat tindakan pihak lain.
“Petani adalah tulang punggung ketahanan pangan nasional. Sangat ironis apabila mereka justru menjadi korban praktik korupsi yang memanfaatkan identitas mereka. Negara wajib hadir memulihkan hak-hak mereka dan memastikan peristiwa seperti ini tidak pernah terulang. Melindungi petani berarti menjaga keadilan sosial dan menjaga akuntabilitas negara,” pungkas Dr. Muhammad Aras Prabowo.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar