Dari Pasar Ambuwa, Pesan Menjaga Alam dan Masa Depan Gorontalo
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month Minggu, 7 Jun 2026
- visibility 64
- print Cetak

Narasumber dan peserta diskusi berfoto bersama usai kegiatan peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia di Pasar Ambuwa, Desa Huntu Selatan, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (6/6/2026).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Acara yang terbuka untuk umum itu dihadiri berbagai kalangan, mulai dari aktivis lingkungan, akademisi, komunitas seni, hingga masyarakat umum.
Dalam sesi diskusi, peserta diberi kesempatan menyampaikan pandangan dan pertanyaan. Salah satu peserta, Abdul Kadir Lawero, mempertanyakan sejauh mana organisasi masyarakat sipil yang fokus pada isu lingkungan dapat membangun kolaborasi lebih luas dengan tokoh agama dan organisasi keagamaan.
Menurut Kadir, isu lingkungan bukan hanya tanggung jawab aktivis atau organisasi lingkungan semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat.
“Apakah memungkinkan organisasi masyarakat sipil di Gorontalo yang selama ini fokus pada isu dan advokasi lingkungan menjalin kolaborasi dengan organisasi lain, termasuk tokoh agama, dalam memperjuangkan isu lingkungan?” tanya Kadir.
Kader Nahdlatul Ulama Gorontalo itu menilai pendekatan keagamaan dapat menjadi strategi efektif untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai krisis lingkungan yang tengah dihadapi Gorontalo.
Menurutnya, tokoh agama memiliki pengaruh besar dalam membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral.
Ia berharap organisasi keagamaan dapat dilibatkan lebih aktif dalam kampanye lingkungan maupun advokasi kebijakan terkait tata kelola sumber daya alam di Gorontalo.
Diskusi kemudian mengerucut pada isu yang selama ini menjadi perhatian berbagai kalangan, yakni ancaman deforestasi yang dinilai berpotensi muncul akibat kebijakan transisi energi nasional.
Berdasarkan data Japesda, kebijakan transisi energi yang digadang-gadang ramah lingkungan justru berpotensi menimbulkan tekanan baru terhadap kawasan hutan.
Salah satu penyebabnya adalah penggunaan biomassa berupa pelet kayu sebagai bahan bakar pendamping batu bara (co-firing) pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
Data tersebut menyebutkan pemerintah menargetkan pemanfaatan biomassa pada 52 PLTU dengan kebutuhan mencapai 3,65 juta ton biomassa pada 2026.
Bagi para pegiat lingkungan, angka tersebut menimbulkan kekhawatiran besar terhadap keberlanjutan hutan, termasuk di Gorontalo yang memiliki kawasan hutan penting sebagai penyangga kehidupan masyarakat.
Di Gorontalo sendiri terdapat sejumlah perusahaan yang bergerak di sektor produksi pelet kayu, di antaranya PT Biomasa Jaya Abadi, PT Banyan Tumbuh Lestari (BTL), dan PT Inti Global Laksana (IGL) yang berada dalam kelompok usaha PT Biomasa Abadi Group.
Para pegiat lingkungan menilai kebutuhan biomassa dalam jumlah besar berpotensi mendorong pembukaan lahan secara masif apabila tidak diimbangi tata kelola yang ketat dan berkelanjutan.
Melalui kegiatan ini, para penyelenggara berharap isu lingkungan di Gorontalo tidak berhenti pada peringatan seremonial tahunan, melainkan mampu melahirkan kesadaran kolektif dan kolaborasi lintas sektor dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup.
Di tengah ancaman perubahan iklim dan deforestasi, diskusi di Pasar Ambuwa menjadi penanda bahwa masa depan lingkungan tidak dapat diserahkan kepada satu kelompok saja. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat sipil, tokoh agama, pelaku seni, akademisi, hingga organisasi keagamaan untuk menjaga keberlanjutan alam Gorontalo.
Pesan tentang pentingnya menjaga lingkungan malam itu tidak hanya disampaikan melalui data dan hasil riset lapangan. Para seniman yang tergabung dalam komunitas Tupalo juga menyuarakannya melalui karya seni.
Menjelang akhir acara, sebuah lukisan karya Yayat dilelang kepada pengunjung. Lelang tersebut menjadi penutup yang simbolis.
- Penulis: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar