Deviden Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 59
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak./ Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Coba bayangkan kalau malaikat benar-benar menggunakan standar akuntansi seperti kita. Mungkin ada PSAK: Pernyataan Standar Akuntansi Kebaikan. Dalam Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK), tertulis: “Sedekah sebesar Rp100.000 dinilai sebesar Rp1.000.000 karena dilakukan dengan ikhlas.” Tapi di baris lain: “Sedekah Rp1.000.000 didiskon menjadi Rp10.000 karena disertai pamer di media sosial.” Nah, di sinilah letak humor sekaligus kritiknya: manusia sering sibuk memperbesar angka, tapi lupa memperbaiki kualitas.
Ramadhan seharusnya menjadi momentum revaluasi aset spiritual. Kalau perusahaan melakukan revaluasi aset tetap, kita pun perlu menilai ulang aset hati: keikhlasan, kesabaran, dan empati. Jangan-jangan selama ini aset kita sudah impairment (penurunan nilai), tapi tidak pernah diakui. Kita merasa kaya pahala, padahal laporan kita belum diaudit oleh nurani.
Dalam tradisi pesantren, ada guyonan: “Orang yang paling sibuk di Ramadhan adalah yang paling takut bangkrut di akhirat.” Ini bukan tanpa dasar. Kita seperti investor yang panik di akhir kuartal, buru-buru mengejar target. Bedanya, di Ramadhan ini targetnya bukan laba dunia, tapi deviden langit yang dijanjikan berlipat ganda.
Namun di tengah semangat itu, kita juga perlu waspada terhadap “creative accounting spiritual”. Misalnya, menunda bayar zakat tapi rajin unggah foto buka puasa bersama. Atau memperbanyak ibadah yang terlihat, tapi mengabaikan yang tersembunyi. Dalam istilah akuntansi, ini seperti memoles laporan agar terlihat sehat, padahal arus kasnya bermasalah.
Humor ala Gus Dur mengingatkan kita bahwa agama itu bukan hanya soal kesalehan formal, tapi juga kemanusiaan. Kalau kita rajin ibadah tapi masih mudah marah di jalan, mungkin laporan kita perlu direvisi. Kalau kita dermawan di masjid tapi pelit pada keluarga, mungkin ada misclassification dalam akun kita.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar