Intangible Langit
- account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 89
- print Cetak

Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak/Istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Ada yang rajin ibadah di depan orang, tapi lupa Tuhan. Ada yang dermawan di kamera, tapi pelit di kehidupan nyata. Ada juga yang kalau bicara kejujuran seperti profesor etika, tapi kalau parkir motor masih di trotoar.
Ramadhan datang seperti auditor yang berkata dengan santai: “Mohon maaf, ini ada selisih antara laporan niat dan realisasi amal.”
Humor khas Gus Dur pernah mengajarkan bahwa agama tidak perlu selalu disampaikan dengan wajah tegang. Kadang justru humor membuat orang lebih sadar diri.
Bayangkan kalau pahala Ramadhan bisa dilihat seperti saldo bank di layar ATM. Mungkin banyak orang akan panik. “Saldo pahala Anda: Rp 0. Silakan perbanyak sedekah.”
Dalam akuntansi langit intangible yang paling mahal: niat. Dalam akuntansi, nilai aset sering ditentukan oleh manfaat ekonominya di masa depan. Dalam Islam, nilai amal sering ditentukan oleh niatnya. Ini menarik. Karena niat adalah intangible paling mahal di alam semesta.
Shalat dua rakaat dengan niat ikhlas bisa bernilai lebih tinggi daripada seribu kegiatan yang sekadar formalitas. Sedekah seribu rupiah dengan hati tulus bisa lebih berat timbangannya daripada donasi miliaran yang tujuannya hanya pencitraan.
- Penulis: Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.

Saat ini belum ada komentar