Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Bukber oleh Funco Tanipu

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 26 Mei 2025
  • visibility 309
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Asal muasalnya, bukber atau buka puasa bersama dilaksanakan di tiap masjid saat Ramadan. Lambat laun, perkembangannya menjadi lebih transformatif. Bukber bukan saja soal tradisi buka puasa sebagai bagian dari ritus Ramadan. Bukber hari ini berkembang menjadi praktik sosio-religius yang modern.

Jika kita pantau dari timeline media sosial seperti Facebook, Instagram, WhatsApp dan berbagai story media sosial, bukber adalah praktik “mengingat”. Kita sebut sebagai praktik mengingat karena lebih banyak bukber dilaksanakan oleh komunitas “masa lalu” yang dihadirkan pada hari ini. Bisa kita lihat bukber alumni SD, SMP, SMA, kuliah, satu kos, sepermainan.

Bukber terjadi karena dirangkai oleh ingatan pada masa lalu. Ada memori yang hendak dibangkitkan untuk dikenang dan dirayakan sambil tertawa dengan bahagia. Bukber konteks ini berhenti pada sekedar mengingat.

Selain itu, bukber juga terjadi karena alasan-alasan kekinian, misalnya satu kantor, se-organisasi, se-profesi, keluarga dan bahkan satu hobi serta karena kepentingan politis. Bukber dalam konteks ini diikat oleh kepentingan kekinian, kepentingannya untuk merawat harmoni agar masa depan bisa lebih solid.

Bukber selalu ditutup oleh foto bersama dan juga selfie. Bahkan di beberapa komunitas, mulai digunakan spanduk sebagai penanda komunitas tersebut. Misalnya angkatan sekolah, tahun lulus atau brand komunitas tersebut.

Tujuannya adalah mengikat memori klasik untuk solidaritas yang lebih kuat. Namun, bukber tidak bisa berhenti pada praktik konsumsi semata, atau sekedar mengingat memori, tapi mesti lebih transformatif. Bukber mesti menjadi ajang untuk menjalin solidaritas kebatinan untuk kebangkitan umat dan bangsa.

Di tengah banyaknya derita yang dialami bangsa ini dan di tengah jutaan kaum miskin yang tidak bisa mengikuti praktik bukber yang diadakan selama ini, sudah semestinya bukber sebagai praktik berkumpul menjadi ajang untuk memupuk kebaikan.

Bukber transformatif adalah bukber yang memiliki agenda kebangsaan dan keumatan. Bukber mesti menjadi momentum untuk menggalang solidaritas pada kaum miskin dan korban rezim.

Sehingga, pada konteks itu, buka puasa di bulan Ramadan tidak sekedar menjadi praktik kuliner yang bersifat privat. Bukber bukan lagi ajang kontestasi, tapi sebagai praktik keagamaan yang berdampak pada kebangkitan umat secara kolektif.

Habib Umar bin Hafidz dalam bukunya “Amal Pemusnah Kebaikan”, Habib Umar menyampaikan bahwa salah satu penyebab kehancuran terbesar bagi anak Adam adalah nafsu terhadap makanan (syahwat al-bathn).

Karena nafsu tersebut, Adam dan Hawa dikeluarkan dari negeri kedamaian. Nafsu ini akan diikuti oleh nafsu birahi (syahwat al-farj), lalu dibuntuti oleh nafsu pada kedudukan dan harta, lalu diikuti oleh bentuk kebebalan dan kebencian.

Kemudian lahir darinya penyakit pamer, bangga dan sombong. Ini yang kemudian menyebabkan tingkat kezaliman dan kemungkaran. Semua hal ini adalah buah dari kelalaian dalam mengendalikan lambung dan mencegahnya dari kekenyangan.

Tujuan dari penjagaan ketiga nafsu itu untuk pengendalian. Apa-apa yang menjadi praktik kita selama ini masih bisa dikendalikan secara sadar, dikelola dan hingga berdampak positif pada bangkitnya umat Islam, bukan pada arah yang sebaliknya; kehancuran.

Penulis : Dr. Funco Tanipu, MA – (Akademisi di Universitas Negeri Gorontalo)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    Dijaga TNI, Tapi Cuma Pisang dan Ubi: Sengketa Lahan Warga vs Pertamina di Maros Makin Panas

    • calendar_month Jumat, 16 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 230
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAROS–Sengketa kepemilikan lahan antara warga dan PT Pertamina di Jalan Pertamina, Kelurahan Temmapaduae, Kecamatan Marusu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, kian memanas dan memicu sorotan publik. Ahli waris menegaskan bahwa di lokasi tersebut tidak terdapat kilang, pipa, maupun aktivitas produksi Pertamina, Jumat (16/1/2026). Meski demikian, sejumlah oknum TNI terlihat berjaga di lahan yang diklaim sebagai […]

  • Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    Pembangunan Kopdes Merah Putih di Bonto Matene Resmi Dimulai, Menteri Yandri: “Ekosistem Ekonomi Desa Harus Terbentuk”

    • calendar_month Selasa, 2 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 172
    • 0Komentar

    nulondalo.com, Maros– Pembangunan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih di Desa Bonto Matene, Kecamatan Mandai, Kabupaten Maros, resmi dimulai setelah dilakukan peletakan batu pertama oleh Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT) RI, Yandri Susanto, bersama Wakil Menteri Koperasi dan UKM RI, Farida Farichah, Selasa (2/12/2025). Kopdes ini dibangun di atas lahan hibah dari […]

  • Adab di Atas Algoritma

    Adab di Atas Algoritma

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Ahmad Kadir
    • visibility 524
    • 0Komentar

    Zaman terus bergerak. Teknologi melaju tanpa menunggu siapa pun. Informasi datang bertubi-tubi, nyaris tanpa jeda untuk berpikir. Apa yang dulu dibahas berjam-jam di pesantren, melalui kitab, halaqah-halaqah, dan bimbingan guru namun hari ini kerap hadir dalam potongan video berdurasi tiga puluh detik. Cepat, ringkas, tetapi sering kali tidak utuh. Di tengah arus itu, santri hidup […]

  • Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    Work From Home sebagai Gerakan Nasionalisme

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 439
    • 0Komentar

    Pernahkah kita berpikir bahwa diam di rumah bisa menjadi tindakan patriotik? Bagi sebagian orang, terutama mereka yang memahami nasionalisme sebagai gerak—kerja keras, mobilisasi, dan kehadiran fisik di ruang publik—gagasan ini mungkin terasa aneh. Nasionalisme selama ini dibayangkan sebagai sesuatu yang tampak: tindakan yang bisa disaksikan, diukur, bahkan dirayakan. Dalam bayangan itu, diam justru sering diposisikan […]

  • Kasus Dugaan Persekusi Banser di Tangerang, Habib Bahar Bin Smith Ditetapkan Tersangka

    Kasus Dugaan Persekusi Banser di Tangerang, Habib Bahar Bin Smith Ditetapkan Tersangka

    • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 385
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Metro Tangerang Kota resmi menetapkan Assayid Bahar Bin Smith alias Habib Bahar Bin Ali Bin Smith sebagai tersangka dalam kasus dugaan persekusi terhadap kader Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di Kota Tangerang. Penetapan tersangka tersebut tertuang dalam Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) Nomor B/43/I/RES.1.24/2026/Reskrim yang beredar pada Sabtu, […]

  • IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    IKPM-HT Yogyakarta Bedah Riset Transmigrasi Maba Utara Jelang Dialog Publik di UGM

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Risman Lutfi
    • visibility 485
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Yogyakarta – Ikatan Komunikasi Pelajar Mahasiswa Halmahera Timur (IKPM-HT) Yogyakarta menggelar diskusi internal untuk membedah riset mendalam mengenai kondisi Transmigrasi di Maba Utara, Kabupaten Halmahera Timur, Provinsi Maluku Utara, Jum’at (2/1/2026). Agenda pembacaan riset ini merupakan langkah strategis organisasi dalam mematangkan data dan substansi sebelum dibawa ke forum Dialog Publik bersama Pusat Studi Pedesaan […]

expand_less