Julaybib (Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #1)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month Kamis, 19 Feb 2026
- visibility 117
- print Cetak

Ilustrasi suasana medan perang pada masa awal Islam saat senja menjelang. Julaybib digambarkan berdiri dengan wajah tenang dan penuh keteguhan setelah pertempuran usai, di tengah hamparan gurun yang berdebu.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Peristiwa itu menjadi bagian paling dikenal dari kisahnya. Di hadapan para sahabat, Nabi SAW bersabda, “Ia bagian dariku dan aku bagian darinya.”
Tidak banyak yang tercatat tentang kehidupan Julaybib selain peristiwa ini. Ia bukan tokoh besar dalam sejarah, bukan pemimpin kabilah, dan bukan perawi hadis yang banyak meriwayatkan ilmu. Namun satu pernyataan Nabi SAW sudah cukup menjadikan namanya dikenang. Kisahnya memperlihatkan bahwa kemuliaan dalam Islam tidak selalu ditentukan oleh nasab, harta, atau kedudukan sosial, melainkan oleh iman, keberanian, dan ketulusan—hal-hal yang mungkin tidak selalu tampak, tetapi dinilai tinggi oleh Nabi Muhammad SAW.
Dari kisah Julaybib kita bisa belajar bahwa menjadi istimewa tidak selalu berarti menjadi orang besar atau terkenal. Nilai seseorang tidak diukur dari status, harta, atau kedudukan, tetapi dari ketulusan, keberanian, dan kesetiaan dalam tindakan sehari-hari. Kita tidak perlu menunggu pengakuan dunia untuk merasa berarti; cukup menjadi diri sendiri, melakukan hal-hal yang benar, dan berkontribusi dengan apa yang kita bisa. Julaybib menunjukkan bahwa tindakan kecil yang tulus, meski sederhana, bisa meninggalkan jejak yang abadi.
Penulis : Jamaah Gusdurian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar