Masjid, Modal Kecil, dan Imajinasi Besar
- account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
- calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
- visibility 191
- print Cetak

Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A/ istimewa
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Seringkali, perubahan tidak lahir dari ruang rapat. Melainkan Ia muncul dari percakapan yang tak direncanakan.
Jumat siang itu (27/3/2026), di Cinere, kami hanya berniat melihat-lihat mobil. Saya dengan sahabat, K.H. Romdhoni Hamzah. Tidak lebih. Namun, seperti banyak hal dalam hidup, niat yang sederhana sering menjadi pintu bagi sesuatu yang lebih besar.
Di sanalah kami bertemu seorang pengusaha muda: Salman al-Kahfi namanya.
Namanya segera memanggil ingatan pada Salman Al-Farisi—sahabat Nabi yang menggagas strategi parit dalam Perang Khandaq. Sebuah ide sederhana, tetapi menentukan arah sejarah. Saya sempat bertanya dalam hati: apakah setiap zaman memang selalu membutuhkan “Salman”-nya sendiri?
Salman yang ini tidak menggali parit. Namun, Ia “menggali” kemungkinan.
Ia bercerita tentang kampungnya di Palembang. Tentang masjid. Tentang Ramadhan. Dan tentang sesuatu yang sering kita anggap kecil: tiga ratus ribu rupiah.
- Penulis: Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A

Saat ini belum ada komentar