Relasi Sunni dan Syiah Dibedah: Diskusi Buku M. Quraish Shihab Hadirkan Perspektif Baru
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 10 jam yang lalu
- visibility 78
- print Cetak

Suasana diskusi Tadarus Buku “Sunnah–Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?” di Pondok Pesantren Mahasiswa Burhan Al-Hadharah, menghadirkan narasumber seperti Gus Aniq Nawawi, Wahab Nasaru, dan Arrang Batara dengan peserta mahasiswa dan santri yang antusias mengikuti dialog interaktif.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Gus Abdullah Aniq Nawawi menekankan bahwa di luar perbedaan imamah atau kepemimpinan umat, terdapat banyak kesamaan antara Sunni dan Syiah, terutama dalam praktik keagamaan di Indonesia. Ia menyinggung kecintaan umat terhadap Ahlul Bait, yang bahkan tercermin dalam ungkapan Imam al-Shafi’i dan sikap Abu Hanifa.
Ia menekankan pentingnya melihat persamaan yang bisa menjadi jembatan untuk persatuan umat. “Kalau kita dalami, justru lebih banyak persamaan yang bisa menjadi jembatan daripada perbedaan yang memisahkan,” ujarnya. Gus Aniq juga mengisahkan kisah Al-Farazdaq yang membela kehormatan Ali Zainal Abidin di hadapan Marwan ibn Abd al-Malik, menunjukkan bahwa kecintaan kepada Ahlul Bait mampu melampaui batas politik.
Dalam penutupannya, Gus Aniq menyatakan bahwa relasi Sunni dan Syiah tidak bisa dipahami secara hitam-putih. “Sejarah Islam menunjukkan banyak tokoh Sunni yang dalam sikap politiknya condong kepada Ahlul Bait. Ini realitas yang tidak sesederhana dikotomi Sunni dan Syiah,” pungkas Katib Syuriyah PWNU Gorontalo.
- Penulis: Tim Redaksi
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar