Runtuhnya Masyarakat Sipil?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 50
- print Cetak

Ilustrasi kontras antara gerakan masyarakat sipil di ruang fisik dan aktivitas digital di media sosial, menggambarkan pergeseran kritik dari aksi kolektif menjadi fragmentasi opini di era digital.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Di sisi lain, para pengkritik pun tidak sepenuhnya lepas dari problem. Banyak kritik berhenti pada level narasi makro—retoris, tajam, tetapi minim data. Kritik terhadap isu-isu strategis, seperti program Makanan Bergizi Gratis, sering kali lebih didominasi oleh analisis politis ketimbang kajian empiris. Figur-figur aktivis kampus, misalnya, masih menggunakan pola kritik ala 1990-an, tetapi tanpa dukungan data yang memadai. Akibatnya, argumen mereka mudah dipatahkan oleh kelompok sipil pro-pemerintah. Kritik pun berakhir sebagai komoditas media, bukan sebagai pemantik gerakan. Ia kehilangan daya gugah karena gagal menawarkan alternatif yang konkret.
Pada titik ini, terlihat bahwa pelemahan masyarakat sipil tidak semata-mata disebabkan oleh represi negara, tetapi juga oleh krisis epistemik di dalam dirinya sendiri. Masyarakat sipil tidak lagi cukup kuat dalam memproduksi pengetahuan; ia lebih banyak bereaksi daripada merumuskan. Dalam formulasi yang lebih tajam, masyarakat sipil hari ini cenderung menjadi konsumen wacana, bukan produsen pengetahuan.
Konfigurasi politik kontemporer menunjukkan simbiosis yang problematik: negara semakin adaptif dalam mengelola kritik, sementara masyarakat sipil semakin sulit mengonsolidasikan diri. Negara tidak selalu perlu membungkam; cukup dengan membiarkan masyarakat sipil terfragmentasi, maka daya tekan itu akan melemah dengan sendirinya. Dalam situasi ini, “keruntuhan” masyarakat sipil tidak terjadi secara dramatis, melainkan melalui proses erosi yang perlahan dan nyaris tak terasa.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar