Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Hirarki Pengabdian Gus Dur

  • account_circle Ilham Sopu
  • calendar_month Senin, 19 Jan 2026
  • visibility 332
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Peringatan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi momentum reflektif untuk membaca sosok Gus Dur secara lebih utuh dan jernih. Membaca Gus Dur secara parsial kerap melahirkan kesalahpahaman: ia dianggap liberal, kontroversial, bahkan menyimpang dari arus utama. Padahal, jika ditelusuri secara menyeluruh, pemikiran dan laku hidup Gus Dur justru memperlihatkan konsistensi yang kuat dan berakar. Gus Dur adalah sosok dengan pandangan keagamaan yang pluralistik, demokratis, dan berpijak kokoh pada nilai-nilai kemanusiaan. Ia memberi ruang luas bagi kebebasan berpikir, memperlakukan semua agama secara setara, mengakui Konghucu sebagai agama, serta menempatkan keindonesiaan sebagai fondasi penting dalam menjaga keutuhan bangsa yang majemuk. Salah satu penjelasan paling jernih tentang arah hidup Gus Dur disampaikan oleh putrinya, Alissa Wahid, dalam salah satu peringatan haul Gus Dur. Ia mengungkapkan pesan Gus Dur tentang **hirarki pengabdian hidupnya**: agama (keislaman), Indonesia (keindonesiaan), NU, dan terakhir keluarga. Hirarki ini bukan sekadar pilihan personal, melainkan cerminan etika pengabdian seorang tokoh publik. Gus Dur meletakkan kepentingan yang lebih luas di atas kepentingan yang sempit, tanpa menafikan tanggung jawab personalnya sebagai individu dan kepala keluarga. Keislaman yang diprioritaskan Gus Dur bukanlah Islam yang eksklusif atau sektarian. Islam baginya adalah agama dengan visi universal—melampaui batas primordialisme—yang menempatkan kemanusiaan, keadilan, dan penghormatan terhadap martabat manusia sebagai nilai utama. Dari sinilah keberpihakan Gus Dur kepada kelompok minoritas menemukan dasar etik dan teologisnya, meski sering disalahpahami. Dalam konteks Indonesia, keislaman Gus Dur menemukan bentuk praksisnya melalui gagasan *pribumisasi Islam*. Islam, menurut Gus Dur, tidak harus tampil dalam wajah Arab, tetapi dapat hidup dan berkembang melalui budaya lokal Nusantara. Pendekatan ini menjadikan Islam lebih membumi, mudah diterima, dan berakar kuat dalam kehidupan masyarakat. Pemikiran keislaman yang inklusif dan kontekstual ini tidak lahir dari ruang hampa. Gus Dur ditempa oleh tradisi pesantren klasik—Tebuireng, Krapyak, hingga Tegalrejo—yang memberinya kedalaman dalam fiqh, tafsir, hadis, tasawuf, dan ilmu bahasa. Pada saat yang sama, ia memperkaya wawasannya dengan ilmu-ilmu modern seperti sosiologi dan antropologi melalui pengembaraan intelektualnya di Timur Tengah dan Eropa. Setelah Islam, Indonesia menempati posisi sentral dalam pengabdian Gus Dur. Ia mewarisi semangat kebangsaan para pendiri NU yang memandang nasionalisme sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. Bagi Gus Dur, menjaga Indonesia yang plural dan berkeadilan adalah bentuk nyata dari pengamalan ajaran agama. Negara harus hadir melindungi semua warga tanpa diskriminasi, sebagaimana dijamin oleh konstitusi. NU kemudian menjadi ruang praksis intelektual dan kultural Gus Dur. Di bawah kepemimpinannya, NU tidak hanya kokoh secara tradisi, tetapi juga berkembang sebagai kekuatan pemikiran. Gus Dur meletakkan fondasi intelektual yang melahirkan banyak kader muda NU dengan pandangan moderat, wawasan kebangsaan yang luas, serta kemampuan menjembatani tradisi dan modernitas. Hari ini, NU menikmati kelimpahan kader dengan kualitas tersebut. Tantangannya adalah memastikan bahwa warisan pemikiran Gus Dur tidak berhenti sebagai nostalgia, tetapi terus hidup dalam praksis keagamaan, kebangsaan, dan kemanusiaan. Jika itu terjaga, maka “Gus Dur-Gus Dur muda” akan terus lahir, dan NU akan tetap relevan dalam menjawab tantangan zaman. (Bumi Pambusuang, Januari 2026)

  • Penulis: Ilham Sopu
  • Editor: Ilham Sopu

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    64 Pejabat Dilantik, Pemkab Maros Siap Gaspol Jalankan Program

    • calendar_month Senin, 5 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 389
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Pemerintah Kabupaten Maros kembali melakukan perombakan birokrasi melalui pengumuman dan pelantikan pejabat pimpinan tinggi pratama (eselon II) serta pejabat administrator, Senin, 5 Januari 2025. Prosesi pelantikan berlangsung khidmat di Lapangan Pallantikang, Kabupaten Maros. Sebanyak 10 jabatan eselon II resmi diisi melalui mekanisme lelang jabatan, menandai tuntasnya pengisian seluruh posisi strategis di lingkup […]

  • Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    Intelektual Muda NU Dukung Pengembalian Konsesi Tambang ke Pemerintah

    • calendar_month Minggu, 7 Des 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 211
    • 0Komentar

    Sejumlah intelektual muda di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) menyerukan agar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) segera mengembalikan konsesi tambang yang diberikan pemerintah kepada organisasi. Mereka menilai bahwa kepemilikan dan pengelolaan tambang oleh ormas keagamaan seperti NU berisiko merusak marwah NU sebagai jam’iyah, dan dapat membawa mudharat yang jauh lebih besar dibanding manfaatnya, Minggu(7/12/2025). Salah satu […]

  • Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    Upacara Penurunan Bendera HUT ke-81 RI Tingkat Kecamatan Bontoa Berlangsung Khidmat dan sukses

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–Bontoa,17 Agustus 2026 – Camat Bontoa Muh Maudu S.Hut M.Sp memimpin Upacara Penurunan bendera HUT ke-81 Kemerdekaan RI tingkat Kecamatan Bontoa pada Minggu sore Di lapangan Mannan talawe Upacara diikuti Forkopimcam, ASN,Kepala Desa/Kelurahan TNI-Polri,Ormas,OKP,pelajar,PKK dan Masyarakat.Petugas penurunan bendera adalah anggota Paskibraka Kecamatan Bontoa 2026 Sebanyak 25 orang dari Perwakilan SMA/MA Sederajat se kecamatan Bontoa. Camat […]

  • Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    Potensi Perbedaan Awal Ramadhan 1447 H, Pemerintah dan NU Diprediksi Mulai Puasa 19 Februari 2026

    • calendar_month Sabtu, 14 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 359
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Umat Islam di Indonesia diperkirakan akan kembali menghadapi kemungkinan perbedaan dalam penetapan awal Ramadhan 1447 Hijriah atau tahun 2026 Masehi. Perbedaan tersebut dipicu oleh kondisi astronomis hilal yang belum memenuhi kriteria kesepakatan regional pada saat pemantauan. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menjelaskan bahwa berdasarkan […]

  • Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    Dari Maros ke Provinsi, Mahasiswa IAI DDI Maros, Raih Juara1 Dai Mitra Polri Sulsel 2026

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 314
    • 0Komentar

    nulondalo.com, MAKASSAR – Salah satu Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam Institut Agama Islam DDI Maros sekaligus eks Ketua Dewan Eksekutif Mahasiswa IAI DDI Maros berhasil meraih Juara I Lomba Dai Mitra Polri Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2026. Capaian ini menegaskan konsistensi perguruan tinggi dalam mengembangkan kemampuan di bidang dakwah. Penghargaan tersebut diserahkan secara langsung […]

  • Rezim Klarifikasi dan Politik Ekstraktivisme di Maluku Utara

    Rezim Klarifikasi dan Politik Ekstraktivisme di Maluku Utara

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 188
    • 0Komentar

    Oleh : Riskiyawan Hasan Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat Maluku Utara disuguhi berbagai “klarifikasi” yang disampaikan Gubernur Maluku Utara melalui podcast, media nasional da berbagai saluran digital lainnya. Sekilas, langkah itu terlihat seperti usaha untuk memperbaiki pandangan publik. Namun jika dilihat dalam perspektif komunikasi politik, situasi ini lebih tepat dipahami munculnya apa yang kemudian disebut […]

expand_less