Runtuhnya Masyarakat Sipil?
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 4 jam yang lalu
- visibility 49
- print Cetak

Ilustrasi kontras antara gerakan masyarakat sipil di ruang fisik dan aktivitas digital di media sosial, menggambarkan pergeseran kritik dari aksi kolektif menjadi fragmentasi opini di era digital.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Pertanyaannya kemudian, apakah masyarakat sipil benar-benar runtuh, atau justru sedang mengalami transformasi? Bisa jadi yang kita saksikan bukanlah kematian, melainkan perubahan medium dan logika. Namun perubahan ini belum diikuti oleh adaptasi yang memadai—baik dalam strategi, metode, maupun produksi pengetahuan.
Jika masyarakat sipil ingin kembali menemukan relevansinya, ia perlu melampaui sekadar produksi narasi. Ia harus kembali pada fondasi awalnya: membangun basis data, memperkuat riset, dan menciptakan model konsolidasi yang mampu bertahan di tengah arus digital yang cair. Tanpa itu, masyarakat sipil akan terus terjebak dalam siklus reaktif—ramai sesaat, lalu menghilang tanpa jejak.
Dengan demikian, “runtuhnya masyarakat sipil” mungkin bukan sebuah kesimpulan final, melainkan sebuah peringatan. Tanpa rekonstruksi yang serius, masyarakat sipil berisiko kehilangan perannya sebagai penyeimbang kekuasaan. Dan ketika itu terjadi, demokrasi tidak serta-merta mati, tetapi kehilangan salah satu penopang utamanya: kekuatan warga yang terorganisir dan berpengetahuan.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar