Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jenderal Salim: Teladan Integritas dari Tanah Mandar Sulbar

  • account_circle -
  • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
  • visibility 944
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jenderal Salim, putra Mandar dengan pangkat bintang dua, dikenal sebagai pribadi kharismatik. Ketegasan, integritas, serta sikapnya yang tidak suka berbelit-belit membuatnya dihormati banyak orang. Pandangan hidupnya selalu tegak lurus, sementara kecerdasannya senantiasa diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat.

Dalam setiap pidato, narasinya sederhana, langsung pada inti, tegas, dan tanpa kompromi. Pesan-pesan moral selalu mewarnai ucapannya. Penampilannya pun sederhana dan rendah hati. Ia mampu berbicara dengan siapa saja, bahkan dengan anak kecil, sambil tetap menjadi pendengar yang baik.

Sejak memilih pensiun dini dari TNI, ia mengabdikan diri dalam dunia politik dan dakwah. Langkahnya menapaki kampung-kampung, mendengar keluhan warga, dan menyampaikan pesan moral menjadi bagian dari keseharian. Bagi sebagian orang, ia adalah jenderal yang sulit diarahkan, terutama bila menyangkut keadilan dan moralitas yang ia junjung tinggi.

Meski hidup sederhana, cita-citanya tidak kecil. Ia bertekad memajukan daerahnya dengan menyiapkan generasi muda Sulawesi Barat agar kelak mampu menjadi pemimpin yang bijak dan berintegritas. Tentu saja hal ini tidak mudah, apalagi di tengah godaan pragmatisme politik yang kian menggila. Namun ia tetap optimis, dan selalu menekankan pentingnya keteladanan kepemimpinan bagi generasi muda.

Dalam komunikasi terakhir, 14 Agustus 2025, ia berpesan agar senantiasa menjaga integritas dan tidak terjerumus dalam kezaliman. “Terbaik, jaga diri agar tidak menzalimi diri sendiri dengan hal yang terlihat membahagiakan, tetapi sesungguhnya merusak diri lahir dan batin,” ujarnya penuh makna.

Pesan itu ia sampaikan saat kami mengapresiasi pidato beliau tentang komitmen menuntaskan kasus korupsi di Sulbar. Baginya, Sulbar hanya akan menjadi malaqbi (bermartabat) jika para pemimpin dan pejabatnya mampu meneladankan nilai-nilai kemalaqbian. Tanpa itu, mustahil visi perjuangan Sulbar tercapai.

Pandangan semacam ini tidak lahir begitu saja. Sejak kecil, pria kelahiran Pambusuang, Polewali Mandar, 24 September 1951 ini sudah diperkenalkan dengan ulama. Ayahnya, Syekh Mengga, kerap membawanya menemui ulama di tanah Mandar untuk didoakan agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat.

Kemampuannya berceramah agama juga tidak terlepas dari kedekatannya dengan ulama sepanjang karier militernya. Salah satunya adalah Kyai Maemun Subair, yang ia temui saat menjabat sebagai Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro.

Pengalaman panjang itu membentuk karakter dan kompetensi yang membuat kredibilitas serta pengaruhnya di Sulawesi Barat begitu kuat. Dalam menjalankan amanah, ia selalu mengedepankan integritas, kejujuran, konsistensi, kerendahan hati, dan keberanian.

Saya pribadi tidak terlalu akrab dengannya, namun ada momen tertentu kami intens berinteraksi. Pertama kali saat ia maju di Pilkada pertama Sulbar berpasangan dengan Hatta Dai, berhadapan dengan pasangan Anwar Adnan Saleh–Amri Sanusi. Saat berkunjung ke Masjid Almutaqin di Mandar Baru untuk ceramah maulid pada 2006 silam, ia sempat bertanya tentang dukungan saya.

Ketika saya menjawab mendukung Anwar Adnan Saleh, ia hanya tersenyum dan berkata, “Tetap komitmen, jangan sekali-kali mengkhianati calonmu.” Dari situ saya belajar: baginya perbedaan pilihan politik adalah hal biasa, yang terpenting adalah kesetiaan terhadap komitmen.

Keakraban kami semakin terjalin ketika saya menjabat sebagai Sekretaris Umum Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Makassar, sementara beliau menjadi Ketua Umum KKMSB Pusat. Kami sering berkomunikasi, bertukar pikiran, dan bersama-sama mengurus kegiatan Halalbihalal (HBH). Pada momen HBH pertama di Sulsel, ketika panitia “kesulitan” menghadirkan Prof. Quraish Shihab sebagai penceramah, Jenderal Salim turun tangan melobi langsung.

Dalam sambutannya di acara tersebut, ia menegaskan bahwa KKMSB tidak boleh terlibat dalam dukung-mendukung Pilkada Sulbar. “Saya haramkan KKMSB terlibat dukung mendukung di Pilkada Sulbar, ” katanya kala itu. Sikap itu menunjukkan konsistensinya menjaga organisasi tetap netral, meski dirinya sendiri saat itu maju sebagai kandidat gubernur yang kedua kalinya berhadapan dengan petahana.

Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika saya menghadiri acara maulid yang diselenggarakan KKMSB Pusat di Jakarta pada tahun 2013. Saat itu, Jenderal Salim memanggil saya dan bertanya dengan penuh perhatian, “Sejak kapan datang, dan di mana menginap?” Asri Anas yang berada di sampingnya menjawab bahwa akomodasi saya selama di Jakarta aman.

Mendengar itu, Jenderal Salim tampak lega. Namun ia tidak berhenti di situ, dengan nada hangat ia menambahkan, “Kalau ada apa-apa soal kepulangan, jangan sungkan menelepon ya?” Itulah Jenderal Salim yang saya kenal: sosok peduli, tegas, demokratis, dan selalu menempatkan integritas di atas segalanya.

Ia berjuang bukan hanya di medan militer, tetapi juga di medan moral dan sosial, demi kemaslahatan masyarakat Mandar dan Sulbar. Keunikan lain yang sulit diteladani darinya adalah konsistensi menjaga bahasa ibu. Kendati puluhan tahun meninggalkan kampung halamannya, ia tetap fasih berbahasa Mandar.

Saat berinteraksi dengan orangtua, kepiawaiannya menggunakan bahasa Mandar tempo dulu begitu terasa, seolah ia ingin memastikan bahwa akar budaya Mandar masih tetap hidup dalam dirinya. Namun, kabar duka seolah mengakhiri segalanya. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, meninggal dunia pada 31 Januari 2026 pagi di Rumah Sakit Siloam Makassar, Sulawesi Selatan, dalam usia 74 tahun.

Teladan itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan dan inspirasi. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi masyarakat Mandar dan Sulbar, tetapi juga bagi bangsa yang membutuhkan teladan kepemimpinan berintegritas. Semoga generasi Mandar kelak mampu melanjutkan cita-cita perjuangannya, menjaga martabat, dan meneruskan jejak integritas yang telah diwariskan.

Penulis: Suaib Prawono

(Sekretaris Umum BPC KKMSB Makassar, 2012-2016)

  • Penulis: -
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • EKO-AKUNTA-NESIA Diluncurkan, Akademisi Indonesia-Malaysia Dorong Paradigma Ekonomi Berkeadilan

    EKO-AKUNTA-NESIA Diluncurkan, Akademisi Indonesia-Malaysia Dorong Paradigma Ekonomi Berkeadilan

    • calendar_month Kamis, 21 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 142
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Peluncuran buku EKO-AKUNTA-NESIA: Teori, Konsep dan Konteks karya Muhammad Aras Prabowo bersama Meutia, Windu Mulyasari, dan Agus Sholikhan Yulianto mendapat perhatian luas dari kalangan akademisi Indonesia dan Malaysia. Buku yang diterbitkan oleh UNUSIA Press itu dinilai menghadirkan tawaran paradigma baru ekonomi dan akuntansi yang berakar pada keadilan sosial, keberlanjutan ekologis, dan nilai-nilai kerakyatan […]

  • Panas Bumi vs Panas Hati

    Panas Bumi vs Panas Hati

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 245
    • 0Komentar

    Di negeri +62 ini, kadang yang panas bukan cuma bumi, tapi juga hati rakyat. Apalagi kalau yang panas itu proyek panas bumi, lalu terdengar kabar bahwa yang mengelola adalah perusahaan yang terafiliasi dengan Israel. Waduh. Ini bukan sekadar energi terbarukan, ini energi perdebatan. Sebagai bangsa yang sejak dulu tegas mendukung Palestina, kita ini unik. Secara […]

  • Wawancara Eksklusif: MUI Gorontalo Siap Gelar Musda, Siapa yang Layak Memimpin?

    Wawancara Eksklusif: MUI Gorontalo Siap Gelar Musda, Siapa yang Layak Memimpin?

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Gorontalo akan menggelar Musyawarah Daerah (Musda) dalam waktu dekat. Forum resmi itu akan menetapkan program kerja dan memilih Ketua Umum yang baru. Lantas siapa pengganti KH. Abdurrahman Abubakar Bachmid selaku Ketua Umum MUI Gorontalo yang dinilai layak memimpin organisasi sebagai wadah berhimpun ormas keagamaan Islam dan cendekiawan di Gorontalo […]

  • Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    Kader PMII Kota Gorontalo Tegaskan Komitmen Kawal Isu Daerah Hingga ke Tingkat Pusat 

    • calendar_month Minggu, 7 Sep 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 133
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Gorontalo kembali menunjukkan sikap kritisnya terhadap persoalan-persoalan serius yang menghantui daerah. Salah satu aktivisnya, Sandri atau yang lebih akrab disapa Kevin Lapendos, menegaskan komitmennya untuk terus berada di garis depan dalam mengawal isu-isu strategis, mulai dari dugaan tindak pidana korupsi, pertambangan ilegal, hingga persoalan tata kelola sumber […]

  • Dianggap Lalai Atasi Pencemaran Sungai, IMCI Layangkan Peringatan Darurat ke Bupati dan DLH Kabupaten Cirebon

    Dianggap Lalai Atasi Pencemaran Sungai, IMCI Layangkan Peringatan Darurat ke Bupati dan DLH Kabupaten Cirebon

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Ikatan Mahasiswa Cirebon Indonesia (IMCI) melontarkan kritik tajam terhadap Pemerintah Kabupaten Cirebon, khususnya Bupati Cirebon Drs. H. Imron, M.Ag. dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), atas kegagalan bertahun-tahun dalam mengatasi pencemaran limbah industri batu alam di aliran sungai yang berhulu di Dukupuntang dan dikenal luas sebagai Sungai Jamblang. Sekretaris Umum IMCI, Barri Niko, menegaskan bahwa pencemaran […]

  • Koalisi Masyarakat Gorontalo Nilai Gugatan Menteri Pertanian terhadap Tempo Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers

    Koalisi Masyarakat Gorontalo Nilai Gugatan Menteri Pertanian terhadap Tempo Ancaman Serius bagi Kebebasan Pers

    • calendar_month Selasa, 4 Nov 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Sejumlah organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Gorontalo untuk Demokrasi menilai gugatan hukum yang dilayangkan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman terhadap majalah Tempo merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan pers sekaligus ancaman serius bagi demokrasi di Indonesia. Pandangan tersebut mengemuka dalam Diskusi Publik bertajuk “Pembungkaman Ruang Publik dalam Gugatan Perdata Menteri Pertanian terhadap Tempo” […]

expand_less