Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Jenderal Salim: Teladan Integritas dari Tanah Mandar Sulbar

  • account_circle -
  • calendar_month Sabtu, 31 Jan 2026
  • visibility 1.000
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jenderal Salim, putra Mandar dengan pangkat bintang dua, dikenal sebagai pribadi kharismatik. Ketegasan, integritas, serta sikapnya yang tidak suka berbelit-belit membuatnya dihormati banyak orang. Pandangan hidupnya selalu tegak lurus, sementara kecerdasannya senantiasa diarahkan untuk kemaslahatan masyarakat.

Dalam setiap pidato, narasinya sederhana, langsung pada inti, tegas, dan tanpa kompromi. Pesan-pesan moral selalu mewarnai ucapannya. Penampilannya pun sederhana dan rendah hati. Ia mampu berbicara dengan siapa saja, bahkan dengan anak kecil, sambil tetap menjadi pendengar yang baik.

Sejak memilih pensiun dini dari TNI, ia mengabdikan diri dalam dunia politik dan dakwah. Langkahnya menapaki kampung-kampung, mendengar keluhan warga, dan menyampaikan pesan moral menjadi bagian dari keseharian. Bagi sebagian orang, ia adalah jenderal yang sulit diarahkan, terutama bila menyangkut keadilan dan moralitas yang ia junjung tinggi.

Meski hidup sederhana, cita-citanya tidak kecil. Ia bertekad memajukan daerahnya dengan menyiapkan generasi muda Sulawesi Barat agar kelak mampu menjadi pemimpin yang bijak dan berintegritas. Tentu saja hal ini tidak mudah, apalagi di tengah godaan pragmatisme politik yang kian menggila. Namun ia tetap optimis, dan selalu menekankan pentingnya keteladanan kepemimpinan bagi generasi muda.

Dalam komunikasi terakhir, 14 Agustus 2025, ia berpesan agar senantiasa menjaga integritas dan tidak terjerumus dalam kezaliman. “Terbaik, jaga diri agar tidak menzalimi diri sendiri dengan hal yang terlihat membahagiakan, tetapi sesungguhnya merusak diri lahir dan batin,” ujarnya penuh makna.

Pesan itu ia sampaikan saat kami mengapresiasi pidato beliau tentang komitmen menuntaskan kasus korupsi di Sulbar. Baginya, Sulbar hanya akan menjadi malaqbi (bermartabat) jika para pemimpin dan pejabatnya mampu meneladankan nilai-nilai kemalaqbian. Tanpa itu, mustahil visi perjuangan Sulbar tercapai.

Pandangan semacam ini tidak lahir begitu saja. Sejak kecil, pria kelahiran Pambusuang, Polewali Mandar, 24 September 1951 ini sudah diperkenalkan dengan ulama. Ayahnya, Syekh Mengga, kerap membawanya menemui ulama di tanah Mandar untuk didoakan agar kelak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan bermartabat.

Kemampuannya berceramah agama juga tidak terlepas dari kedekatannya dengan ulama sepanjang karier militernya. Salah satunya adalah Kyai Maemun Subair, yang ia temui saat menjabat sebagai Kepala Staf Kodam IV/Diponegoro.

Pengalaman panjang itu membentuk karakter dan kompetensi yang membuat kredibilitas serta pengaruhnya di Sulawesi Barat begitu kuat. Dalam menjalankan amanah, ia selalu mengedepankan integritas, kejujuran, konsistensi, kerendahan hati, dan keberanian.

Saya pribadi tidak terlalu akrab dengannya, namun ada momen tertentu kami intens berinteraksi. Pertama kali saat ia maju di Pilkada pertama Sulbar berpasangan dengan Hatta Dai, berhadapan dengan pasangan Anwar Adnan Saleh–Amri Sanusi. Saat berkunjung ke Masjid Almutaqin di Mandar Baru untuk ceramah maulid pada 2006 silam, ia sempat bertanya tentang dukungan saya.

Ketika saya menjawab mendukung Anwar Adnan Saleh, ia hanya tersenyum dan berkata, “Tetap komitmen, jangan sekali-kali mengkhianati calonmu.” Dari situ saya belajar: baginya perbedaan pilihan politik adalah hal biasa, yang terpenting adalah kesetiaan terhadap komitmen.

Keakraban kami semakin terjalin ketika saya menjabat sebagai Sekretaris Umum Kerukunan Keluarga Mandar Sulawesi Barat (KKMSB) Makassar, sementara beliau menjadi Ketua Umum KKMSB Pusat. Kami sering berkomunikasi, bertukar pikiran, dan bersama-sama mengurus kegiatan Halalbihalal (HBH). Pada momen HBH pertama di Sulsel, ketika panitia “kesulitan” menghadirkan Prof. Quraish Shihab sebagai penceramah, Jenderal Salim turun tangan melobi langsung.

Dalam sambutannya di acara tersebut, ia menegaskan bahwa KKMSB tidak boleh terlibat dalam dukung-mendukung Pilkada Sulbar. “Saya haramkan KKMSB terlibat dukung mendukung di Pilkada Sulbar, ” katanya kala itu. Sikap itu menunjukkan konsistensinya menjaga organisasi tetap netral, meski dirinya sendiri saat itu maju sebagai kandidat gubernur yang kedua kalinya berhadapan dengan petahana.

Salah satu momen tak terlupakan adalah ketika saya menghadiri acara maulid yang diselenggarakan KKMSB Pusat di Jakarta pada tahun 2013. Saat itu, Jenderal Salim memanggil saya dan bertanya dengan penuh perhatian, “Sejak kapan datang, dan di mana menginap?” Asri Anas yang berada di sampingnya menjawab bahwa akomodasi saya selama di Jakarta aman.

Mendengar itu, Jenderal Salim tampak lega. Namun ia tidak berhenti di situ, dengan nada hangat ia menambahkan, “Kalau ada apa-apa soal kepulangan, jangan sungkan menelepon ya?” Itulah Jenderal Salim yang saya kenal: sosok peduli, tegas, demokratis, dan selalu menempatkan integritas di atas segalanya.

Ia berjuang bukan hanya di medan militer, tetapi juga di medan moral dan sosial, demi kemaslahatan masyarakat Mandar dan Sulbar. Keunikan lain yang sulit diteladani darinya adalah konsistensi menjaga bahasa ibu. Kendati puluhan tahun meninggalkan kampung halamannya, ia tetap fasih berbahasa Mandar.

Saat berinteraksi dengan orangtua, kepiawaiannya menggunakan bahasa Mandar tempo dulu begitu terasa, seolah ia ingin memastikan bahwa akar budaya Mandar masih tetap hidup dalam dirinya. Namun, kabar duka seolah mengakhiri segalanya. Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, meninggal dunia pada 31 Januari 2026 pagi di Rumah Sakit Siloam Makassar, Sulawesi Selatan, dalam usia 74 tahun.

Teladan itu telah pergi, meninggalkan sejuta kenangan dan inspirasi. Kepergiannya bukan hanya kehilangan bagi masyarakat Mandar dan Sulbar, tetapi juga bagi bangsa yang membutuhkan teladan kepemimpinan berintegritas. Semoga generasi Mandar kelak mampu melanjutkan cita-cita perjuangannya, menjaga martabat, dan meneruskan jejak integritas yang telah diwariskan.

Penulis: Suaib Prawono

(Sekretaris Umum BPC KKMSB Makassar, 2012-2016)

  • Penulis: -
  • Editor: Suaib Pr

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satu Tubuh, Banyak Identitas

    Satu Tubuh, Banyak Identitas

    • calendar_month Senin, 8 Des 2025
    • account_circle Pepy al-Bayqunie
    • visibility 286
    • 0Komentar

    Tubuh yang sama, tetapi identitasnya beraneka-ragam. Identitas tidak pernah tunggal atau statis; ia muncul dan berubah karena interaksi dengan lingkungan, pengalaman, dan relasi sosial. Setiap bagian diri lahir dari pertemuan antara harapan, tanggung jawab, dan kenyataan yang selalu bergerak. Perpecahan identitas bukan kelemahan, melainkan kondisi yang memungkinkan refleksi, adaptasi, dan tindakan yang relevan di berbagai […]

  • Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    Pendamping Desa Tuntut Pencopotan Mendes PDT Yandri Susanto

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Suaib Pr
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Ratusan Pendamping Desa menggelar aksi demonstrasi di Kantor Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) di Jakarta, pada Rabu, 16 April 2025. Dalam aksi tersebut mereka menolak Kebijakan Menteri Desa Yandri Susanto yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) kepada 1.040 pendamping desa eks caleg di Pemilu 2024. Koordinator Aksi Robby Maulana menyebut demonstrasi ini […]

  • Solidaritas Perempuan Makassar Mengalir untuk Korban Bencana Sumatera

    Solidaritas Perempuan Makassar Mengalir untuk Korban Bencana Sumatera

    • calendar_month Senin, 15 Des 2025
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 157
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Kepedulian lintas daerah kembali ditunjukkan masyarakat Sulawesi Selatan. Kali ini, sejumlah komunitas perempuan di Kota Makassar mengulurkan tangan bagi saudara-saudara mereka yang terdampak bencana hidrometeorologi di Pulau Sumatera. Melalui penggalangan dana bersama, terkumpul donasi senilai Rp102 juta yang diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan untuk disalurkan kepada korban banjir dan longsor. Penyerahan bantuan […]

  • Pendaftaran Calon Ketua Umum BPD HIPMI Papua Tengah Periode 2025–2028 Resmi Dibuka 

    Pendaftaran Calon Ketua Umum BPD HIPMI Papua Tengah Periode 2025–2028 Resmi Dibuka 

    • calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Panitia Pelaksana Musyawarah Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Papua Tengah Ke-I secara resmi membuka pendaftaran Bakal Calon Ketua Umum untuk masa bakti 2025–2028. Proses pendaftaran ini menjadi bagian penting dari rangkaian menuju Musyawarah Daerah (MUSDA) BPD HIPMI Papua Tengah yang akan memilih figur pemimpin untuk memperkuat peran pengusaha muda dalam pembangunan ekonomi daerah. Sebagai […]

  • Jejak Yusril dalam Harmoni Islam dan Pancasila

    Jejak Yusril dalam Harmoni Islam dan Pancasila

    • calendar_month Senin, 6 Apr 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 341
    • 0Komentar

    Sepanjang pembacaan saya atas karya-karya Prof. Yusril, beberapa di antaranya: Modernisme dan Fundamentalisme dalam Politik Islam (1999), Membangun Indonesia yang Demokratis dan Berkeadilan (2000), ditambah delapan buku barunya dirilis pada 2026 yang merangkum 50 tahun pemikirannya, serta melihat dari perjalanan panjang beliau dalam panggung politik nasional, saya menangkap satu kesan bahwa beliau bukan sekadar seorang […]

  • Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

    • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 239
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi. Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar […]

expand_less