Warga menyiapkan dan menyajikan ketupat dalam suasana kebersamaan, mencerminkan tradisi Lebaran Ketupat yang sarat makna silaturahmi dan kebersamaan.
Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diajukan sebab di media sosial, ada banyak sekali yang tergesa-gesa dan terlalu cepat mengambil kesimpulan atas judul podcast itu dan, barangkali, mereka tidak menonton acaranya. Untuk itulah, tuduhan yang dilayangkan kepada Ust. Ishak, sebelum bahkan sesudah podcast itu tayang, sebenarnya merupakan premis yang tidak berdasar. Yang paling membikin kasihan sebenarnya, tuduhan ini keluar dari kalangan orang-orang terdidik yang semestinya membaca dan mengonfirmasi kejelasan hal ini. Tidak dengan basis kecurigaan dan asumsi-asumsi liar. Ini mesti dilakukan untuk memastikan kondisi media sosial kita tetap jernih.
Argumen yang mereka ajukan sebagai tanding adalah “narasi Islam moderat” yang mengakomodir realitas kebudayaan ketupatan. Tidak ada persoalan sebenarnya. Toh memang, moderasi Islam itu meniscayakan penerimaan dan penghargaan terhadap tradisi. Namun menempatkan narasi Islam moderat di dalam kasus ini sebenarnya tidak relevan. Justru, sebaliknya, saya pikir, argumen Ust. Ishak di dalam podcast itu, sebagaimana tampak di atas, sangat moderat.
Ust. Ishak mengakui tradisi ketupatan, ia mengapresiasinya, menjelaskan bagaimana sejarah dan makna filosofisnya, bahkan melihatnya sebagai tradisi yang harus dilestarikan karena ia mengeratkan silaturahmi. Yang disitir Ust. Ishak, tentang “desak-desakan sehingga lupa waktu Dzuhur” juga bukannya bagian dari dakwah Islam moderat? Sampai di sini, lagi-lagi, apa yang keliru?
Di samping itu, Ust. Ishak juga telah mengeluarkan pernyataan bahwa judul podcast itu bukan darinya. Ketika disodori tema itu, ia bahkan menyatakan bahwa temanya sangat sensitif. Ust. Ishak juga menelepon langsung pada pihak Mimoza agar memperbaiki temanya. Setelah mendapatkan berbagai masukan, judulnya berubah menjadi “Memaknai Tradisi Perayaan Ketupatan”. Jadi, Ust. Ishak sepenuhnya tidak salah. Tidak ada intensi darinya untuk menegasikan perayaan ketupatan itu. Tuduhan yang disampaikan kepadanya, dengan demikian, tidak berdasar!
Jika mau, sebenarnya yang perlu dikritisi ada di pihak redaksi penyelenggara acara. Apa yang mereka pikirkan ketika memberi judul podcast itu? Mengapa mengundang Ust. Ishak sebagai narasumber dengan judul podcast seperti itu? Jika memang berniat menarasikan tradisi Ketupatan dengan tafsir yang lebih terbuka, memangnya, kenapa tidak mengundang intelektual, tokoh adat, para pelaku tradisi khususnya masyarakat Jawa Tondano, dan para pendakwah dari kalangan Nahdlatul Ulama atau Muhammadiyah yang punya konsen terhadap tradisi ketupatan?
Saat ini belum ada komentar