Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tradisi Ketupat, Wahdah Islamiyah Gorontalo dan Tuduhan tak Berdasar

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 8 Mei 2022
  • visibility 328
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ini pertanyaan penting karena memiliki irisan dengan isu representasi dan rekognisi. Tak pantas bicara ketupatan tanpa representasi dari para pelaku tradisinya. Sebab bagaimanapun seseorang memahami Ketupatan, namun jika yang menjelaskannya bukanlah figur otoritatif yang datang dari tradisi tersebut, problem yang dikandung sama saja: mereka jadi subaltern, kelompok pinggiran yang selalu dinarasikan oleh orang lain.
Tak pantas juga bicara ketupatan yang dilekatkan dengan tradisi Islam, tanpa pandangan tokoh agama yang memiliki tafsir terbuka terhadap ketupatan. Aspek pengakuan ini penting untuk koeksistensi tradisi Ketupatan. Dari tafsir terbuka, kita bisa memahami bahwa ketupatan itu tidak lahir dari ruang vakum sejarah. Melainkan lewat proses reartikulasi yang sangat panjang dengan tanpa sedikitpun menegasikan identitas, paham keagamaan dan konteks budaya saat itu. Di dalam spektrum yang lebih luas, hal ini sebenarnya lagi-lagi mengingatkan kita tentang wacana Islam yang masih pada tahap “berebut tempat” di ruang publik.
Terakhir, saya menulis ini bukan karena memiliki kedekatan dengan Ust. Ishak. Saya juga tidak berafiliasi dengan Wahdah Islamiyah bahkan, saya cenderung kontradiktif dengan pandangan-pandangan mereka. Saya Muslim, kebetulan pandangan-pandangan saya, koheren dengan Nahdlatul Ulama. Namun mau menyebut diri saya sebagai Nahdliyin, rasanya juga sungkan. Saya belum bisa meneladani kejernihan dan keterbukaan NU dalam menerima perbedaan dan keragaman.
Saya cuman mau melihat problem ini sejernih mungkin. Barangkali juga punya faset. Namun jika ia bisa diselesaikan sambil makan ketupatan, nasi bulu, opor ayam, di Kampung Jawa 8 Syawal nanti, bareng-bareng, meskipun berdesakan dan masbuk di waktu dzhuhur, kenapa tidak? hihi…
  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • GUSDURian Makassar Siapkan FGD Demokrasi Gen Z

    GUSDURian Makassar Siapkan FGD Demokrasi Gen Z

    • calendar_month Senin, 26 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 307
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Komunitas GUSDURian Makassar menggelar rapat persiapan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Perspektif Demokrasi Gen Z di Era Disrupsi”. Pertemuan berlangsung di Kampung Buku Inninnawa, Jalan Abdullah Daeng Sirua, Makassar, dan dihadiri sejumlah para penggerak inti Gusdurian, Senin, 26 Januari 2026 Dalam rapat tersebut, peserta membahas berbagai kebutuhan teknis yang akan digunakan dalam pelaksanaan […]

  • Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    Pemda Buol Setop MBG, Usai 141 Siswa Keracunan

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 330
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kabupaten Buol menghentikan sementara pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Bunobogu menyusul dugaan keracunan makanan yang dialami 141 siswa dari sejumlah sekolah, Rabu (28/1/2026). Berdasarkan data terakhir, puluhan siswa masih menjalani perawatan medis di berbagai fasilitas kesehatan. Sebanyak 21 siswa dirawat di RSUD Mokoyurli Buol, tiga siswa di RS Pratama […]

  • Abu Ayyub Al-Ansari: Ketika Unta Nabi Memilih Rumahnya (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #27)

    Abu Ayyub Al-Ansari: Ketika Unta Nabi Memilih Rumahnya (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #27)

    • calendar_month Selasa, 17 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 486
    • 0Komentar

    Namun keadaan ini justru membuat Abu Ayyub merasa tidak nyaman. Ia khawatir langkah kakinya di atas akan mengganggu Nabi yang berada di bawah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu malam air minum mereka tidak sengaja tumpah di lantai. Abu Ayyub dan istrinya segera mengeringkan air itu dengan kain yang mereka miliki karena takut air tersebut […]

  • Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    Reinterpretasi Sejarah 22 Desember: Dari Hari Perempuan Menjadi Perayaan Ibu

    • calendar_month Senin, 22 Des 2025
    • account_circle Adythia Al Ghozaly
    • visibility 345
    • 0Komentar

    Oleh: Adythia Al Ghozaly Kaempe, S.H   Setiap 22 Desember, kita disuguhi narasi nasional yang menyesatkan: peringatan “Hari Ibu” seolah menjadi satu-satunya representasi perempuan. Padahal, lebih dari sembilan dekade silam, perempuan-perempuan Nusantara berkumpul dalam Kongres Perempuan 1928, menuntut hak politik, kebebasan, pendidikan, dan pengakuan sosial yang setara. Namun, patriarki dengan cerdik merampas tanggal itu, membungkusnya […]

  • Ramadhan Yang Robek

    Ramadhan Yang Robek

    • calendar_month Minggu, 16 Mar 2025
    • account_circle Asrul G.H. Lasapa
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Oleh : Asrul G.H. Lasapa – (Pegiat Dakwah Gorontalo) Puasa merupakan kawah candradimuka yang menjadi tempat melatih dan menggembleng seseorang agar memiliki mental spiritual yang agung dan mulia. Ritual puasa tidak hanya sekedar penampakan simbolitas permukaan yang nyata berupa tidak makan, minum dan hubungan seksual semata, tetapi puasa adalah kemampuan pengendalian jiwa dari keterpurukan emosional. […]

  • Mahasiswa PKUMI Perluas Jejaring Akademik Global di UCR

    Mahasiswa PKUMI Perluas Jejaring Akademik Global di UCR

    • calendar_month Sabtu, 4 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 187
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Delegasi mahasiswa Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI) terus memperluas jejaring akademik di tingkat internasional. Pada Jumat (3/4/2026), para mahasiswa mengikuti kegiatan International Scholars Coffee Hour di University of California, Riverside. Kegiatan ini menjadi ruang strategis bagi mahasiswa untuk berdialog dan bertukar gagasan dengan para cendekiawan dari berbagai negara. Dalam forum tersebut, mahasiswa […]

expand_less