Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tradisi Ketupat, Wahdah Islamiyah Gorontalo dan Tuduhan tak Berdasar

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 8 Mei 2022
  • visibility 325
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Namun setelah melihat podcast itu dengan khidmat hingga selesai, asumsi-asumsi yang membuat saya jadi kesal di awal itu runtuh seketika. Tak ada sama sekali pernyataan Ust. Bakari yang saya lihat “bengkok” ataupun intensinya untuk benar-benar “meluruskan” perayaan Ketupatan. Bahkan, saya pikir, argumen-argumen Ust. Bakari di dalam podcast itu terjelaskan dengan baik: mulai dari caranya menyelisik sejarah ketupatan, makna filosofis ketupat, tradisi silaturahmi, bahkan yang paling anggun misalnya, Ust. Ishak bilang kalau tradisi ini tidak bertentangan dengan Islam.
Di titik lain, Ust. Ishak sebenarnya mau bilang bahwa kecenderungan saat ini, orang-orang tidak memaknai lagi bagaimana tradisi ini dilakukan pada zaman dulu. Padahal, menurut Ust. Ishak, ketupat itu memiliki makna filosofis-etis:“…beras yang dimasukkan ke dalam ketupat adalah pertanda nafsu dunia; janur adalah hati nurani; bentuk ketupat yang melambangkan empat penjuru mata angin adalah sebuah penanda bahwa kemana pun Anda pergi, jangan lupa salat.”
“Jangan sampai kita berdesak-desakan sampai tengah hari, waktu Dzuhur lupa. Padahal tradisi ini berkenaan [berkesinambungan] dengan Ramadan. [Maka] semestinya, yang perlu kita utamakan adalah bagaimana [tradisi] ini dijaga dan tidak sekadar seremonial.” Ini argumen normatif. Fasetnya tidak ada. Maka sampai di sini, sebenarnya, di mana salahnya? Apa yang bengkok dari pernyataan-pernyataannya itu? Di mana Ust. Bakari menyatakan bahwa ini tradisi yang “haram” di dalam Islam, sehingga mesti diluruskan?
  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Re-historiografi Gorontalo”

    “Re-historiografi Gorontalo”

    • calendar_month Selasa, 29 Apr 2025
    • account_circle Dr. Samsi Pomalingo, MA
    • visibility 177
    • 0Komentar

    Dalam sebuah obrolan melalui whatsApp, sahabat saya Arief Abbas mencoba mengajak saya untuk membincang kembali Gorontalo, yang dimaksud adalah “Re-historigrafi Gorontalo”. Menurut Arief selama ini sejarah Gorontalo hanya menjelaskan Sultan Amai, Matolodulakiki, Raja Eyato dan beberapa lainnya. Bagi Arief banyak hal soal Gorontalo yang kurang diulas misalnya Wato, Dayango, Sejarah mengenai orang-orang tertindas/terpinggirkan dan lain […]

  • Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    Sawah dan Masa Depan Sebuah Bangsa

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Dr. H. Ahmad Shaleh Amin, Lc., M.A
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Membaca Kepemimpinan Dr. Yasir Machmud dalam Perspektif Ibnu Khaldun, Muhammad al-Tahir bin Asyur, dan Nabi Yusuf a.s. “Peradaban tidak lahir dari istana. Ia tumbuh dari tanah yang diolah dengan amanah.” Suatu pagi, ribuan tahun yang lalu, seorang raja Mesir terbangun dengan wajah yang tidak biasa. Malam sebelumnya ia bermimpi melihat tujuh ekor sapi gemuk dimakan […]

  • Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    Mudzakarah Istiqlal Bahas Wacana Pembayaran Dam Haji di Tanah Air: Antara Dimensi Ta‘abbudi dan Maqashid Syariah

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 394
    • 0Komentar

    Menurutnya, ayat-ayat tentang hadyu dalam Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang ritual penyembelihan semata, tetapi juga mengandung pesan distribusi kesejahteraan dan jaminan konsumsi bagi umat Islam yang membutuhkan. “Tujuan utama penyembelihan hewan hadyu bukan pada darah yang mengalir, melainkan pada kemanfaatannya bagi manusia,” jelasnya. Pandangan tersebut, lanjutnya, sejalan dengan tafsir Syaikh Muhammad Thahir bin ‘Asyur dalam […]

  • KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    KH Rasyid Kamaru: Gorontalo Dibangun Dengan Dasar Pancasila

    • calendar_month Minggu, 30 Jun 2019
    • account_circle Yusran Laindi
    • visibility 205
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Gorontalo, KH. Abd Rasyid Kamaru mengatakan bahwa Provinsi Gorontalo dibangun dengan dasar Pancasila. Hal tersebut disampaikan dalam ‘Ngaji Kebangsaan’ yang digagas oleh Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Gorontalo, Sabtu (29/6/2019). Dalam acara dialog yang di hadiri ratusan peserta dari berbagai lintas organisasi […]

  • PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    PWNU Gorontalo Gelar Pekan Ekonomi Syariah, Dorong Kemandirian Umat Lewat Ekonomi Syariah

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Gorontalo resmi menggelar Pekan Ekonomi Syariah, Selasa (28/10/2025). Kegiatan ini berlangsung di pelataran Kantor PWNU Gorontalo, Jalan Samratulangi, Kelurahan Limba U1, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo. Acara tersebut turut dihadiri oleh perwakilan dari Bursa Efek Indonesia (BEI), Pintraco, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) SulutGo, KNEX, Bank Indonesia, serta Pemerintah Provinsi Gorontalo […]

  • Inilah Komoditas Gorontalo yang Diekspor Melalui Daerah Lain

    Inilah Komoditas Gorontalo yang Diekspor Melalui Daerah Lain

    • calendar_month Selasa, 29 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Ada yang menarik dari rilis Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo terkait ekspor sejumlah komoditas asal daerah ini. Dwi Alwi Astuti Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo menyebut sebagian komoditas yang berasal dari Provinsi Gorontalo diekspor melalui pelabuhan/bandara di provinsi lain. Komoditas tersebut adalah kelompok komoditas Ikan dan Udang/Kepiting (HS 03) senilai US$58.762 diekspor melalui Bandara […]

expand_less