Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Tradisi Ketupat, Wahdah Islamiyah Gorontalo dan Tuduhan tak Berdasar

  • account_circle Tarmizi Abbas
  • calendar_month Minggu, 8 Mei 2022
  • visibility 323
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Baru siang tadi, beredar flyer podcast dengan judul “Meluruskan Tradisi Perayaan Ketupatan” yang diselenggarakan oleh Mimoza Podcast Gorontalo via Whatsapp. Podcast itu menghadirkan Ust. Ishak Bakari, ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Wahdah Islamiyah Gorontalo sebagai narasumber kunci dan dimoderatori langsung oleh Nurhadi Taha. Ketika melihatnya saya kaget bukan main. Judul podcast ini provokatif: kata awal “meluruskan” mengindikasikan adanya sesuatu yang bengkok. Jika demikian, apa yang bengkok dari perayaan ketupat dan mengapa ia perlu diluruskan?
Semua orang yang membaca judul podcast itu barangkali juga menemukan kekesalan yang sama dengan saya. Ini tidak mengherankan. Sebab, pertama, Ust. Ishak Bakari ini dikenal luas sebagai salah satu figur yang cenderung ketat dan literal-atomistik dalam menafsirkan Islam di Gorontalo. Kedua, Wahdah Islamiyah, organisasi keagamaan yang ia pimpin, juga memiliki ideologi gerakan dakwah pemurnian terhadap ajaran Islam. Jadi, tidak heran jika orang-orang, bahkan saya, lantas berasumsi bahwa kata “meluruskan” di dalam podcast itu berarti muncul dari intensi Ust. Ishak sendiri yang melihat tradisi tersebut “bengkok”, perlu “diluruskan” karena ia “bukan bagian daripada Islam”.
Ada banyak respons yang muncul persis dengan asumsi-asumsi ini. Isinya penghakiman: orang-orang menyalahkan Ust. Ishak karena pandangan dan aliran pemikiran keagamaannya yang dinilai konservatif. Salah satu screenshoot layar yang muncul di berbagai grup-grup Whatsapp bahkan memperlihatkan intervensi untuk mengganti judul tersebut lantaran dinilai berpotensi menimbulkan ketersinggungan kelompok/suku tertentu. Argumen yang diajukan juga persis dengan apa yang saya tulis di atas. Alhasil, beberapa jam kemudian, bahkan hingga tayang, judulnya podcast-nya pun berubah menjadi “Memaknai Tradisi Perayaan Ketupatan”.
  • Penulis: Tarmizi Abbas

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    Sam’un Al-Gazi; Inspirasi untuk Lailatul Qadr (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan # 17)

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 384
    • 0Komentar

    Edisi 17 Ramadhan ini, saya buat sedikit berbeda dan keluar dari tema besar. Ini karena 17 Ramadhan sering dianggap sebagai malam turunnya Al-Qur’an untuk pertama kali, sekaligus menjadi penanda bahwa malam Lailatul Qadr akan segera datang pada malam-malam ganjil berikutnya di bulan Ramadhan. Turunnya Lailatul Qadr sering dikaitkan dengan kisah seorang tokoh dari zaman Bani […]

  • Pembelajaran Online dan Dinamikanya

    Pembelajaran Online dan Dinamikanya

    • calendar_month Senin, 13 Apr 2026
    • account_circle Pepi Al-Bayqunie
    • visibility 273
    • 0Komentar

    Di tengah arus digitalisasi yang semakin deras, pembelajaran online tidak lagi relevan diperdebatkan pada level “perlu atau tidak”. Ia telah menjelma menjadi bagian dari infrastruktur pendidikan itu sendiri. Persoalannya kini bergeser: bukan lagi soal menerima atau menolak, melainkan bagaimana menempatkannya secara tepat agar tidak kehilangan ruh pendidikan. Di titik ini, kita berhadapan dengan dilema klasik—antara […]

  • Dugaan Setoran PETI di Pasir Putih Disorot FKPR, Aparat Diminta Telusuri Aliran Uang

    Dugaan Setoran PETI di Pasir Putih Disorot FKPR, Aparat Diminta Telusuri Aliran Uang

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Ikbal Kau
    • visibility 232
    • 0Komentar

    GORONTALO, NULONDALO.COM – Dugaan adanya praktik setoran atau “atensi” dalam aktivitas pertambangan tanpa izin (PETI) di kawasan Pasir Putih, Kabupaten Gorontalo, kembali menjadi sorotan. Ketua Umum Forum Kaum Pembela Rakyat (FKPR) Wilayah Provinsi Gorontalo, Rahman Patingki, meminta aparat penegak hukum menindaklanjuti informasi mengenai dugaan adanya pihak yang disebut-sebut menjadi pengepul setoran dari aktivitas PETI. Sorotan […]

  • Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

    Menakar Hari Jadi Molalahu Mulolo (Sebuah Tawaran Interpretatif)

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 503
    • 0Komentar

    Pada pertemuan komunitas Molalahu Mulolo, Kamis, 2 Juli 2026 di Kantor Desa Molalahu, satu pertanyaan 26 tahun yang lalu kembali muncul dan terasa belum benar-benar selesai, yaitu kapan sebenarnya hari lahir Molalahu? Pertanyaan tersebut tidak berdiri sendiri. Dalam forum yang sama, pembahasan justru lebih dulu mengarah pada isu yang lebih mendesak, yakni aktivitas tambang tanpa […]

  • Pelantikan PMII Maros Periode 2026-2027: Teguhkan Gerakan Intelektual dan Keumatan

    Pelantikan PMII Maros Periode 2026-2027: Teguhkan Gerakan Intelektual dan Keumatan

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 251
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, MAROS — Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Maros bersama Korps PMII Putri (KOPRI) PC PMII Maros resmi dilantik dalam prosesi khidmat yang berlangsung di Ruang Pola Kantor Bupati Maros, Sabtu (16/5/2026). Kegiatan tersebut mengusung tema “Mengakar di Maros, Bergerak untuk Peradaban” sebagai spirit perjuangan kader PMII dalam merawat nilai, tradisi, dan […]

  • Menertawakan Kekuasaan

    Menertawakan Kekuasaan

    • calendar_month Selasa, 13 Jan 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 506
    • 0Komentar

    Orang kecil itu sebenarnya tidak bodoh. Mereka cuma capek. Capek mendengar janji, capek membaca berita korupsi, capek melihat pejabat miskin di LHKPN tapi kaya di pesta pernikahan anaknya. Maka jangan heran kalau rakyat akhirnya memilih tertawa. Karena kalau tidak tertawa, bisa-bisa marah. Dan kalau marah terus, tekanan darah naik, sementara kebijakan tidak pernah turun. Dalam […]

expand_less