Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Kegetiran di balik Wisuda Siswa dan Sumbangan ‘Sukarela’ Sekolah

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
  • visibility 168
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Saya tetap datang meski acara telah berada di penghujung. Wajah sumringah sang putri dan semangatnya untuk hadir bak serdadu yang mau merangsek ke markas musuh, membuat saya tak tega. Saya datang demi melihatnya tersenyum di atas panggung, meski hanya sekejap. Dan di atas segalanya ini adalah tentang  rasa syukur. Maka hadirlah saya tepat ketika semua orang beranjak meninggalkan tempat duduknya. Acara itu adalah wisuda bagi santri TPA yang telah menuntaskan dirasa al-Qurannya.

Sudah lama saya bertanya-tanya, mengapa wisuda anak-anak itu kini menjadi penting dan terkesan genting jika tak digelar. Padahal tradisi ini awalnya hanya dikenal bagi mahasiswa yang telah menamatkan kuliahnya. Sekarang bahkan anak TK yang belum tahu membuang ingus pun ikut-ikutan diwisuda. Saya merasa semakin janggal karena tradisi itu juga menjangkiti pendidikan al-Qur’an. Di antara TPA itu bahkan selama ini dikenal alergi meniru tradisi di luar Islam. Padahal asal tahu saja, wisuda dengan segala simbol-simbolnya berasal dari tradisi Romawi dan Yunani lalu dikembangkan dalam lingkungan gereja.

Alasan memang terasa mulia; memotivasi anak, membangun rasa percaya diri, dan memberi momen kebanggaan untuk orang tua. Tapi sadar atau tidak, di balik kebanggaan itu ada anak-anak yang dikurung murung dan tersisih dalam sedih. Mereka adalah anak-anak yang terpaksa tak bisa turut serta. Tak sanggup orang tuanya membayar biaya wisuda yang bagi mereka sulit dan tak terjangkau. Bagi orang-orang kelas atas, biaya itu mungkin bukanlah apa-apa, tak lebih banyak dari uang jajan anaknya saban hari.

Tetapi bagi mereka yang selama ini berada dalam lembah kemelaratan, biaya wisuda amatlah berarti. Mereka harus menghitung beberapa kali harga makan sehari-hari yang harus dihemat untuk mengumpulkan biaya itu. Jika selama ini sudah harus mengikat pinggang erat-erat, maka ditambah pembayaran listrik, air, ini dan itu, lalu datang lagi biaya wisuda, maka bisa jadi ususnya pun harus dibebat.

Adanya pembayaran itu mau tidak mau membuat kita ingin mengorek sesuatu di balik panggung perhelatan wisuda tersebut. Jangan-jangan di balik kebanggaan yang ditebar, ada motif ekonomi sedang disusun. Saya tak ingin berhitung ya, tapi coba saya bayangkan berapa sewa baju wisuda, pembayaran katering dan segala tetek bengek wisuda itu. Kira-kira siapa untung dan siapa buntung di sini?

Tapi apakah dengan demikian tak perlu merayakan kelulusan sang anak? Tentu saja boleh. Apalagi jika dimaksudkan sebagai rasa syukur pada Allah dan berterima kasih pada sang guru. Tetapi tentu tanpa ada yang terbebani sekaligus tersisihkan. Di kampung ada tradisi menamatkan al-Qur’an yang digelar secara sederhana dan khidmat, Pakkanre Tamma namanya.

Anak yang tamat datang ke gurunya membawa apa yang ada pada mereka. Pisang, kelapa atau ayam. Kemudian bersama-sama makan di rumah guru dan diakhiri dengan doa tamat membaca al-Qur’an. Pakkanre Tamma bisa ditunda dan diulur waktunya. Kadang nanti mau menikah baru dilakukan. Dirangkaikan dengan acara pernikahan, biayanya bisa dihemat.

Yang menjadi kegelisahan lebih luas lagi, praktik membebani orang tua dengan berbagai biaya tidak hanya terjadi saat wisuda. Kini, sekolah-sekolah juga kerap menyelipkan beragam kegiatan yang biayanya harus ditanggung sepenuhnya oleh wali murid. Kegiatan keagamaan, infaq untuk membeli alat ajar, sumbangan per lomba, seragam kegiatan, bahkan kebutuhan administrasi yang seharusnya bisa dibiayai dari anggaran pendidikan. Kadang-kadang memang diselipkan kata-kata ‘sukarela’, ‘yang mau saja’, tetapi dalam praktiknya tidak sesederhana itu. Murid atau siswa dalam relasi kuasa ini berada dalam posisi inferior.

Mereka merasa cemas untuk tidak ikut serta. Orang tuanya pun didesak agar ikut urunan. Situasi ini telah membangun budaya yang kurang sehat di sekolah. Siswa yang tidak bisa terlibat atau tidak ikut menyumbang ‘ini itu’ padahal mungkin tidak mampu, tersisih. Temannya yang lain bisa mencibirnya tak kompak. Belum lagi jika guru pun mulai menempatkannya sebagai murid/siswa yang tak masuk hitungan gara-gara tak terlibat dalam berbagai even.

Dalam situasi semacam itu murid bersangkutan akan merasa semakin tidak nyaman, lingkungan sekolah mulai menjepit jiwanya.  Ironisnya, ini terjadi di saat anggaran pendidikan nasional terus meningkat tiap tahun, dan seruan efisiensi keuangan digaungkan di berbagai lini.

Padahal jika kita kembali pada amanat konstitusi, pendidikan dasar mestinya dijamin oleh negara dan tak menjadi beban bagi rakyat kecil. Ketika segala sesuatunya diminta dari kantong orang tua, apakah ini bukan sebuah tanda bahwa sistem telah melimpahkan tanggung jawabnya pada yang paling tak berdaya?

Kita sedang hidup di masa sulit. Semua orang diminta berhemat. Tapi beberapa sekolah dan lembaga pendidikan justru makin rajin membuat kegiatan yang membebankan biaya pada orang tua siswa. Di mana kepekaan itu? Bukankah semestinya dunia pendidikan jadi tempat paling pertama yang belajar tentang empati?

Di era di mana kita sedang dianjurkan untuk berhemat dan hidup lebih efisien, tradisi wisuda—dan berbagai praktik pungutan atas nama sumbangan dan lainnya—mungkin sudah waktunya direvisi. Sekolah seharusnya membuat semua anak bisa mengecap pendidikan dan merayakan kelulusan tanpa harus khawatir tentang biaya. Mungkin sudah waktunya kita memprioritaskan kebahagiaan dan kesetaraan semua anak, daripada mempertahankan tradisi yang hanya membuat kesenjangan makin melebar.

Anak-anak adalah titipan bangsa. Hari depan ada di tangan mereka. Kita harus memastikan bahwa mereka semua memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan merayakan kesuksesan. Tidak ada anak yang harus merasa tersisih. Semua anak, tanpa kecuali, pantas merayakan kelulusan mereka dengan bangga dan bahagia.

Sekolah bukan tempat yang membuat lara,
melainkan ruang tumbuh penuh cita.
Bukan gedung megah penuh kasta,
tapi taman bermain bagi jiwa-jiwa merdeka.

Di sana ilmu dibagi dengan cinta,
oleh mereka yang tulus menjaga asa.
Tak ada murid yang merasa hina,
karena suara, rupa, atau tanpa harta.

Buku dan papan bukan milik segelintir saja,
tapi untuk semua yang haus makna.
Pendidikan bukan ladang usaha,
melainkan titipan luhur bangsa yang mulia.

Semua anak duduk setara,
tanpa pungutan yang membungkam rasa.
Tak ada pesta untuk yang kaya,
sementara yang miskin menahan air mata.

Sekolah harus jadi rumah yang ramah,
tempat tawa dan harapan menjelma indah.
Tempat anak pulang dengan bahagia,
bukan beban yang menyiksa dada.

Oleh : Ijhal Thamaona memiliki nama lengkap Dr. Syamsurijal Adhan, S.Ag., M.Si adalah Peneliti Khazanah Agama dan Peradaban di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    Perdagangan Gas Dunia Terhenti, Asia Terancam Krisis Energi

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 262
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Perdagangan gas alam cair (LNG) global mengalami gangguan serius menyusul meningkatnya konflik di Timur Tengah, dengan jalur vital Selat Hormuz praktis terhenti. Situasi ini memicu kekhawatiran krisis energi baru, terutama di kawasan Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk. Data pelacakan kapal menunjukkan sejumlah tanker LNG menghentikan perjalanan dari dan menuju Qatar […]

  • 10 Tanaman Pengusir Nyamuk yang Bisa Ditanam di Rumah

    10 Tanaman Pengusir Nyamuk yang Bisa Ditanam di Rumah

    • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 12
    • 0Komentar

    Nulondalo.com — Nyamuk bukan sekadar mengganggu kenyamanan saat beraktivitas atau beristirahat. Serangga ini juga dapat menularkan penyakit, seperti demam berdarah dengue (DBD), malaria, dan chikungunya. Selain menjaga kebersihan lingkungan dan menghilangkan genangan air, masyarakat dapat memanfaatkan tanaman tertentu sebagai salah satu upaya pendukung untuk mengurangi gangguan nyamuk di sekitar rumah. Sejumlah tanaman memiliki aroma atau […]

  • Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    Kapolres Sleman Dinonaktifkan, Polri Merespons Kritik Publik soal Kasus Korban Penjambretan

    • calendar_month Jumat, 30 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 212
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Gelombang kritik publik terhadap penanganan kasus hukum yang menjerat Hogi Minaya, seorang suami korban penjambretan, akhirnya berujung pada keputusan tegas dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Kapolres Sleman Kombes Pol Edy Setyanto resmi dinonaktifkan sementara dari jabatannya. Keputusan tersebut diambil menyusul polemik penetapan status tersangka terhadap Hogi Minaya, yang justru diproses hukum setelah berusaha […]

  • IAI Gorontalo Desak Hentikan Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Tinggi, Ingatkan Ancaman Pidana

    IAI Gorontalo Desak Hentikan Pembongkaran Cagar Budaya Rumah Tinggi, Ingatkan Ancaman Pidana

    • calendar_month Minggu, 21 Jun 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 515
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Gorontalo mendesak seluruh pihak untuk segera menghentikan segala bentuk pembongkaran dan perusakan terhadap bangunan bersejarah “Rumah Tinggi” atau bekas Kantor dan Rumah Dinas Kepala Jawatan Pos, Telegraf, dan Telepon (PTT) di Kota Gorontalo. Desakan tersebut disampaikan melalui Pernyataan Sikap Nomor 081/PS/IAI-GTO/VI/2026 yang diterbitkan pada 18 Juni 2026 sebagai respons […]

  • Sekjen PP MBS Persoalkan Hubungan Ketua Bawaslu Padang Lawas Dengan Bupati Yang Diduga Melanggar Kode Etik 

    Sekjen PP MBS Persoalkan Hubungan Ketua Bawaslu Padang Lawas Dengan Bupati Yang Diduga Melanggar Kode Etik 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Akun pribadi TikTok Komisioner Bawaslu Padang Lawas, Alex Nasution pada saat live yang memunculkan wajah bupati Padang Lawas, Putra Mahkota Alam Hasibuan, dikritik Sekretaris Pengurus Pusat Mahasiswa Bebas Merdeka (Sekjen PP MBS), Hamzah Siddik Harahap. Hamzah menganggap Fenomena yang tergambar dalam tangkapan layar ini memperlihatkan sebuah persoalan serius dalam ranah etika dan integritas lembaga penyelenggara […]

  • Pangkep undercover, Sisi gelap Pangkep Pemerintah dan Aparat tutup Mata

    Pangkep undercover, Sisi gelap Pangkep Pemerintah dan Aparat tutup Mata

    • calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
    • account_circle Hardiansyah
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Nulondalo.com–PANGKEP — Gemerlap lampu hiburan dari sejumlah kafe dan warung kopi di sepanjang Jalan Poros Makassar–Parepare, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, menjadi pemandangan yang lazim ketika malam tiba. Namun, di balik aktivitas tersebut, muncul informasi mengenai dugaan praktik yang patut mendapat perhatian serius aparat penegak hukum dan pemerintah daerah. Tim investigasi Perserikatan Journalist Siber Indonesia […]

expand_less