Solidaritas PC PMII Baabullah Kota Ternate Untuk Sumatera dan Aceh Sekaligus Berikan Warning Wilayah Maluku Utara
- account_circle Asril
- calendar_month Senin, 8 Des 2025
- visibility 131
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Nulondalo.com – Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Baabullah Kota Ternate menggelar aksi kemanusiaan untuk korban bencana alam di Sumatra dan Aceh, sekaligus mengampanyekan peringatan darurat ekologi bagi Maluku Utara yang saat ini dikepung oleh aktivitas pertambangan secara masif. Ternate, 7 Desember 2025.
Aksi yang berlangsung di depan Lank Mart itu diisi dengan penggalangan donasi, orasi kemanusiaan, serta kampanye penyelamatan lingkungan. Bencana yang melanda Sumatra tidak bisa dipandang sebagai peristiwa alam semata, melainkan juga sebagai akibat dari kerusakan lingkungan yang berlangsung secara sistematis.
Ketua Umum PMII Cabang Baabullah Kota Ternate sahabat Supriman, dalam orasinya menegaskan bahwa aksi ini bukan hanya bentuk solidaritas untuk korban bencana, tetapi juga peringatan serius bagi Maluku Utara.
“Hari ini kita mengulurkan tangan untuk Sumatra, tetapi di saat yang sama kita sedang memperingatkan Maluku Utara. Bencana bukan sekadar peristiwa alam, melainkan juga akibat dari keserakahan manusia yang merusak hutan dan ruang hidup,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua II Bidang Advokasi PMII Cabang Baabullah, Sahabat Ibnu Haris, menegaskan bahwa bencana di Sumatra harus dilihat sebagai cerminan masa depan Maluku Utara jika sistem ekonomi yang eksploitatif terus dibiarkan.
“Fenomena alam di Sumatra hari ini adalah cerminan masa depan Maluku Utara atas sistem kapitalisme yang jahat dan eksploitatif. Di Maluku Utara terdapat kurang lebih 100 IUP. Bukan tidak mungkin lima atau sepuluh tahun ke depan Maluku Utara akan mengalami nasib yang sama seperti Sumatra,” tegas Ibnu.
Ia menambahkan bahwa bencana tidak boleh dipandang sebagai murni kehendak Tuhan, karena terdapat campur tangan manusia di baliknya, terutama para pemegang kekuasaan.
“Olehnya itu, fenomena ini tidak boleh dipandang semata-mata sebagai bencana dari Tuhan. Ada campur tangan manusia di dalamnya. Dan manusia yang kami maksud adalah para pemegang kekuasaan, karena mereka memiliki legitimasi penuh atas kejadian ini, baik secara politik maupun ekonomi,” lanjutnya.
Menurutnya, pembiaran terhadap perusakan hutan dan ekspansi tambang merupakan bentuk kejahatan struktural yang kelak akan dibayar mahal oleh rakyat.
“Jika hari ini negara memberi karpet merah kepada pertambangan, maka rakyatlah yang akan menanggung ongkosnya di masa depan melalui banjir, longsor, krisis air, dan hilangnya ruang hidup,” tambahnya.
Senada dengan itu, salah satu peserta aksi, Sahabat Gufran, menyampaikan bahwa aksi kemanusiaan ini adalah upaya membangun kesadaran kolektif bahwa isu lingkungan merupakan bagian tak terpisahkan dari isu kemanusiaan.
“Ketika alam dihancurkan, yang menjadi korban pertama adalah manusia. Maka membela lingkungan sama dengan membela kemanusiaan. Aksi hari ini adalah pesan moral agar negara tidak terus menutup mata,” katanya.
Dalam aksi tersebut, PMII Baabullah juga membagikan selebaran (propaganda) bertajuk “melihat sumatra menyadari Maluku Utara”.
Mereka juga berkomitmen untuk terus mengawal isu lingkungan hidup sebagai bagian dari perjuangan kemanusiaan di Maluku Utara.
Aksi ini mendapat respons positif dari masyarakat pengguna jalan yang turut menyumbangkan bantuan serta memberikan dukungan terhadap kampanye penyelamatan lingkungan yang disuarakan.
- Penulis: Asril
- Editor: Risman Lutfi

Saat ini belum ada komentar