Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Elite Dorong Pilkada Lewat DPRD, Kritik Soal Penyempitan Hak Rakyat Menguat

  • account_circle Redaksi
  • calendar_month Jumat, 2 Jan 2026
  • visibility 248
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Wacana mengembalikan mekanisme pemilihan kepala daerah melalui Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) kembali menguat di kalangan elite politik nasional. Usulan ini memantik perdebatan luas karena dinilai berpotensi menyempitkan hak politik rakyat dan menandai kemunduran demokrasi pasca-Reformasi.

Lebih dari dua dekade setelah Reformasi 1998 dan hampir 20 tahun sejak pilkada langsung pertama kali digelar pada 2005, gagasan memindahkan kembali pemilihan gubernur, bupati, dan wali kota ke tangan parlemen daerah kembali mencuat. Alasan yang dikemukakan para pengusul relatif seragam: tingginya biaya politik, maraknya politik uang, konflik sosial, serta efektivitas pemerintahan daerah.

Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia menyebut pilkada langsung bukan satu-satunya bentuk demokrasi. Golkar, kata dia, membuka peluang formulasi baru pemilihan kepala daerah melalui DPRD dengan tetap melibatkan aspirasi publik. Salah satu opsi yang ditawarkan adalah mekanisme “setengah konvensi”, di mana survei publik dilakukan terlebih dahulu sebelum partai-partai menawarkan kandidat kepada publik dan memutuskan melalui mekanisme perwakilan.

“Survei dilakukan dulu. Kemudian partai-partai itu menawarkan kepada publik. Jadi semacam ada proses, ya setengah konvensi lah,” ujar Bahlil dalam diskusi di Jakarta.

Nada serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno. Menurutnya, pilkada langsung selama satu dekade terakhir tidak lepas dari persoalan politik identitas, politik dinasti, dan terutama politik uang. Eddy menilai pemilihan kepala daerah oleh DPRD layak dipertimbangkan sebagai alternatif.

“Kami melihat ini sebagai usulan yang memang layak dipertimbangkan,” kata Eddy. Ia berpendapat biaya politik yang tinggi dalam pilkada langsung kerap membebani kepala daerah terpilih dengan janji kepada sponsor dan donor politik. Dalam skema pemilihan melalui DPRD, beban tersebut diharapkan berkurang.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga berada di barisan yang sama. Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar secara terbuka menyebut pilkada langsung tidak produktif dan perlu dievaluasi. Sementara Partai Gerindra menyatakan terbuka terhadap perubahan sistem pilkada, dengan alasan ongkos politik yang sangat besar, baik bagi kandidat maupun negara.

Ketua OKK DPP Partai Gerindra Prasetyo Hadi mengatakan kajian internal partainya menemukan banyak sisi negatif dari pilkada langsung. Ia bahkan menyebut pembahasan revisi undang-undang pemilihan kepala daerah telah berlangsung sejak pemerintahan sebelumnya.

Dengan PAN, PKB, Golkar, dan Gerindra berada di jalur yang relatif searah, peta politik terkait perubahan sistem pilkada dinilai mulai mengeras.

Namun, penolakan datang dari PDI Perjuangan. Ketua DPP PDIP Said Abdullah mengingatkan agar wacana tersebut tidak dilakukan secara gegabah. Menurutnya, pilkada langsung merupakan bagian dari demokrasi substantif yang telah diperjuangkan sejak Reformasi.

“Hati-hati. Kita sudah begitu maju. Jangan tiba-tiba ditarik mundur lagi ke belakang,” tegas Said. Ia mempertanyakan asumsi bahwa pilkada melalui DPRD otomatis lebih murah dan bersih dari praktik politik uang.

Sejumlah pengamat menilai wacana pilkada oleh DPRD lebih dari sekadar evaluasi teknis. Direktur Eksekutif Aljabar Strategic Indonesia, Arifki, menyebut skema tersebut berpotensi menguntungkan partai besar yang memiliki kursi dan jaringan kuat di parlemen daerah.

“Kompetisi berpindah dari arena publik ke ruang tertutup parlemen, tempat lobi dan kesepakatan elite menjadi penentu,” ujarnya. Dalam kondisi itu, partai kecil, calon independen, dan figur non-elite dinilai akan semakin tersisih.

Kritik juga disampaikan Direktur Eksekutif Lingkar Madani (LIMA) Ray Rangkuti. Ia menilai argumen penolakan pilkada langsung—mulai dari politik uang hingga konflik sosial—bukanlah persoalan sistem, melainkan budaya dan kualitas pendidikan politik partai.

“Kalau politik uang marak di semua pemilihan, maka masalahnya bukan pada sistem, tetapi pada budaya politik,” kata Ray. Menurutnya, mengubah mekanisme pilkada justru berisiko merampas hak rakyat untuk memilih pemimpinnya sendiri.

Di tengah tarik-menarik kepentingan elite, wacana pilkada oleh DPRD dinilai menjadi ujian serius arah demokrasi Indonesia. Publik kini dihadapkan pada pilihan antara demokrasi yang lebih rapi namun tertutup, atau demokrasi yang bising tetapi tetap memberi ruang bagi kedaulatan rakyat.

  • Penulis: Redaksi
  • Editor: Djemi Radji

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 945 Santri TPA-TPQ se-Kota Gorontalo Ikuti Wisuda dan Khatam Raya 2026

    945 Santri TPA-TPQ se-Kota Gorontalo Ikuti Wisuda dan Khatam Raya 2026

    • calendar_month Rabu, 22 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 281
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Pemerintah Kota Gorontalo menggelar Wisuda dan Khatam Raya santri TPA-TPQ se-Kota Gorontalo tahun 2026 yang dipusatkan di Lapangan Taruna Remaja, Ahad (19/4/2026) malam. Sebanyak 945 santri yang merupakan siswa kelas VI sekolah dasar dari sembilan kecamatan ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Wisuda ini menjadi bentuk apresiasi atas keberhasilan para santri menuntaskan pembelajaran baca […]

  • Laporan Langit

    Laporan Langit

    • calendar_month Minggu, 1 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 298
    • 0Komentar

    Ramadhan selalu menghadirkan audit tahunan yang paling jujur: audit hati. Bedanya dengan audit laporan keuangan, auditor Ramadhan tidak bisa diajak negosiasi, tidak bisa diundang buka puasa bersama, dan tidak mengenal istilah “koreksi minor”. Ia langsung tembus ke niat. Dalam bahasa akuntansi, Ramadhan mengajarkan kita satu sistem pencatatan paling canggih: double entry dunia–akhirat. Dalam akuntansi modern, […]

  • Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    Detik-Detik Mencekam Kebakaran Panti Jompo Manado, Lansia Terpanggang Saat Tidur!

    • calendar_month Selasa, 30 Des 2025
    • account_circle Redaksi
    • visibility 270
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Malam Minggu (28/12/2025) menjadi malam yang penuh duka bagi Panti Werdha Damai, Kelurahan Ranomuut, Kecamatan Paal Dua, Kota Manado. Sebanyak 16 lansia meninggal dunia dalam kebakaran hebat, sementara belasan lainnya selamat tetapi mengalami luka bakar dan trauma mendalam. Kabid Humas Polda Sulut, Kombes Pol Alamsyah P. Hasibuan, menjelaskan bahwa pihak kepolisian dan Polda […]

  • Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    Bappeda Gorontalo Gelar FGD Bahas Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah karena Faktor Ekonomi

    • calendar_month Selasa, 7 Okt 2025
    • account_circle Rivaldi Bulilingo
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi Gorontalo menggelar kegiatan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Strategi Penanggulangan Anak Putus Sekolah SMP karena Faktor Ekonomi Keluarga di Provinsi Gorontalo”. Kegiatan ini berlangsung di kantor Bappeda Provinsi Gorontalo dan dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan di bidang pendidikan, senin (27 Oktober 2025). Kegiatan dibuka secara resmi oleh Sekretaris […]

  • Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    Ketika Karamah dan Budaya Menyatu: Menelusuri Jejak Spiritualitas Islam Gorontalo Lewat Sosok Bapu Paci Nurjana

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle M. Fadhil Hadju
    • visibility 267
    • 0Komentar

    Di tanah Gorontalo, Islam tidak hanya dipeluk dalam syariat, tetapi juga dirawat dalam budaya. Dalam ritus seperti modikili, tahlilan, maulidan, dan doa arwah, agama dan adat saling menyatu. Di antara masyarakat yang memegang teguh warisan ini, terdapat satu nama yang tetap harum hingga hari ini: KH Yahya Podungge, atau yang lebih dikenal dengan Bapu Paci […]

  • Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    Alasan Ridwan Kamil Kerap Menyebut Nama Aura Kasih dalam Pantun

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Redaksi
    • visibility 292
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Ridwan Kamil kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah pantun lama yang menyebut nama penyanyi Aura Kasih viral di media sosial. Pantun-pantun tersebut kemudian memicu spekulasi warganet terkait hubungan personal antara keduanya. Isu ini mencuat setelah akun-akun gosip mengunggah jejak digital Ridwan Kamil yang beberapa kali menyelipkan nama Aura Kasih dalam pantun, baik […]

expand_less