Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dakwah dengan Akhlak, Bukan Amarah: Pesan KH. Hasyim Asy’ari yang Relevan Hingga Kini

  • account_circle Djemi Radji
  • calendar_month Kamis, 12 Feb 2026
  • visibility 498
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

nulondalo.com – Bagaimana seharusnya Islam hadir di tengah masyarakat yang belum sepenuhnya menjalankan syariat? Pertanyaan inilah yang menjadi pokok bahasan dalam sebuah pengajian yang digelar secara mendadak dan disiarkan melalui kanal youtube NUtizen Televisi, pada dua tahun yang lalu.

Pengajian tersebut disampaikan oleh KH. Abdullah Aniq Nawawi, MA, Katib Syuriyah PWNU Gorontalo sekaligus Pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU. Ia juga dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Pohuwato.

Dalam pegajian bertemakan ‘Islam dan Masyarakat dalam Pandangan KH. Hasyim Asy’ari’, Gus Aniq mengajak warga Nahdlatul Ulama menelusuri pandangan KH. Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama, tentang bagaimana ulama dan dai seharusnya menghadapi realitas sosial yang kerap tidak ideal. Mulai dari masyarakat yang belum salat, masih mengonsumsi minuman keras, hingga perilaku yang dinilai bertentangan dengan ajaran agama.

Menurutnya, pendekatan Islam ala Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana diwariskan para ulama NU, tidak bertumpu pada kemarahan apalagi penghakiman, melainkan pada akhlak, kebijaksanaan, dan kesabaran.

Nahdlatul Ulama (NU) menegaskan pentingnya dakwah yang berorientasi pada manhaj wasathiyyah atau pendekatan moderasi. Prinsip tersebut dirumuskan dalam Khashaish Aswaja An-Nahdhiyyah yang ditetapkan melalui Keputusan Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur, pada 2015. Pendekatan ini menekankan keseimbangan, toleransi, serta cara penyampaian yang bijak di tengah keberagaman masyarakat.

Ustad Ahmad Ali MD, sebagaimana dilansir dari laman resmi NU, menjelaskan bahwa prinsip dakwah dapat merujuk pada Al-Qur’an, di antaranya Surat An-Nahl ayat 125 dan Surat Ali Imran ayat 110. Ayat tersebut mengajarkan agar dakwah dilakukan dengan hikmah, nasihat yang baik, serta dialog yang santun dan proporsional. Selain itu, umat Islam juga didorong untuk menjalankan amar makruf nahi munkar sebagai bagian dari identitas umat terbaik.

Dalam praktiknya, pola dakwah yang dianjurkan meliputi tiga pendekatan utama, yakni bil hikmah (kebijaksanaan), bil mau’izhah al-hasanah (nasihat yang baik), dan bil mujadalah billati hiya ahsan (perdebatan yang dilakukan secara adil dan santun). NU juga menekankan pentingnya penguatan Trilogi Ukhuwah yang mencakup ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama Muslim), ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan kebangsaan), serta ukhuwah basyariyah atau insaniyyah (persaudaraan kemanusiaan).

Lebih lanjut, dalam menjalankan dakwah amar makruf nahi munkar, seorang dai atau daiyah diharapkan memenuhi sejumlah syarat moral dan spiritual. Dalam kitab al-Ghunyah li Thalib Thariq al-Haqq, Sulthanul Auliya’ Syaikh ‘Abdul Qadir Al Jilani menekankan bahwa dakwah harus dilakukan dengan niat meraih ridha Allah, bukan untuk riya, sum’ah, atau mencari popularitas. Tujuan utamanya adalah membimbing masyarakat agar meninggalkan kemungkaran dan menuju kebaikan secara ikhlas.

Di tengah derasnya arus informasi digital, prinsip dakwah moderat menjadi semakin relevan. Para dai diharapkan mampu memanfaatkan teknologi tanpa meninggalkan etika dakwah yang santun, sejuk, dan menyejukkan, sehingga pesan keagamaan dapat diterima luas sekaligus menjaga harmoni sosial di tengah masyarakat yang beragam.

Merujuk pada kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari, Gus Aniq menjelaskan bahwa seorang ulama atau dai memiliki setidaknya 20 adab dan karakter yang harus dijaga. Salah satu yang paling ditekankan adalah adab ke-16, yakni menghadapi masyarakat dengan akhlak yang mulia.

Namun, akhlak di sini tidak boleh dipersempit maknanya sebatas etika lahiriah.

“Akhlak itu bukan hanya cium tangan atau bahasa yang halus. Akhlak adalah karakter jiwa,” tegasnya dalam pengajian tersebut.

Penjelasan ini sejalan dengan pandangan Imam Fakhruddin ar-Razi yang mendefinisikan akhlak sebagai malakah nafsaniyah, yakni karakter batin yang mendorong seseorang melakukan kebaikan secara spontan, konsisten, dan tanpa paksaan.

Islam Mengajarkan Keseimbangan Hidup

Dalam pengajian tersebut, Gus Aniq juga menyinggung pentingnya prinsip tawazun (keseimbangan) dalam Islam. Ia mengisahkan peristiwa sahabat Abu Darda dan Salman al-Farisi, yang kemudian diluruskan langsung oleh Rasulullah SAW.

Rasulullah menegaskan bahwa setiap manusia memiliki hak dan kewajiban yang harus ditunaikan secara adil: kepada Allah, kepada diri sendiri, kepada keluarga, dan kepada masyarakat.

“Tubuhmu punya hak, istrimu punya hak, dan Tuhanmu punya hak. Maka tunaikanlah semuanya secara adil,” pesan Rasulullah SAW.

Kisah ini menjadi penegasan bahwa Islam tidak mengajarkan sikap berlebihan dalam ibadah hingga melalaikan tanggung jawab sosial dan keluarga. Keberagamaan yang benar justru lahir dari keseimbangan antara ibadah, kehidupan pribadi, dan peran sosial.

Menariknya, pengajian ini juga mengaitkan akhlak Islam dengan nilai cinta tanah air (hubbul wathan). Meski tidak disebutkan secara eksplisit dalam satu ayat Al-Qur’an, para ulama menemukan banyak isyarat tentang pentingnya ikatan manusia dengan tanah kelahirannya.

Salah satunya melalui tafsir ayat yang menggambarkan betapa beratnya perintah meninggalkan kampung halaman, yang disandingkan dengan perintah membunuh diri sendiri. Dari ayat ini, para ulama menyimpulkan bahwa mencintai tanah air adalah bagian dari fitrah manusia dan sejalan dengan nilai-nilai Islam.

“Keluar dari tanah air itu berat, sebagaimana beratnya kehilangan nyawa. Maka mencintai negeri adalah bagian dari akhlak Islam,” jelas KH. Abdullah Aniq Nawawi.

Di tengah dinamika sosial dan perbedaan pandangan keagamaan yang kerap mengeras, pesan KH. Hasyim Asy’ari yang diulas kembali dalam pengajian ini terasa semakin relevan. Islam tidak hadir untuk menakut-nakuti, melainkan untuk membimbing dan memperbaiki.

Bagi masyarakat Gorontalo yang dikenal religius serta menjunjung tinggi adat dan kearifan lokal, pendekatan dakwah yang santun dan seimbang ini menjadi pengingat bahwa keberagamaan tidak hanya diukur dari ritual semata, tetapi juga dari akhlak, karakter, dan sikap dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PETI Molalahu Mulolo: Banyak yang Tahu, Tambang Terus Mengoyak (Bagian 2)

    PETI Molalahu Mulolo: Banyak yang Tahu, Tambang Terus Mengoyak (Bagian 2)

    • calendar_month Kamis, 23 Jul 2026
    • account_circle Momy Hunowu
    • visibility 184
    • 0Komentar

    RDP pada 21 Juli 2026 akhirnya berjalan, meski kursi kepolisian tetap kosong. Di ruang rapat itu, warga telah membuka satu demi satu persoalan. Alat berat yang masuk tanpa rasa takut, police line yang ditinggalkan ekskavator, desa-desa di hilir yang menunggu kiriman lumpur, serta pertanyaan tentang siapa yang sebenarnya berdiri di belakang kegiatan PETI. Namun, persoalannya […]

  • Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    Aliansi Tolak RUU TNI Gelar Aksi di Ternate Soroti Soal Ancaman Demokrasi

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Sejumlah elemen organisasi yang tergabung dalam Aliansi Tolak RUU TNI, yakni LMID Pembebasan, Sekolah Critis MU, Sekber, KPR, FSPBI, AMP, LPM Aspirasi, Aksi Kamisan, dan FIB, menggelar aksi demonstrasi jalanan. Aksi ini menolak revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) yang dinilai mengancam demokrasi dan hak asasi manusia. Ternate, 20 Maret 2025. Aksi dimulai di […]

  • Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    Diduga Ada Keterlibatan Oknum Pejabat Imigrasi Kota Medan Soal TPPO, APPRI Gelar Demo di Depan Kementrian Imigrasi dan Mabes Polri 

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Aliansi pemuda peduli rakyat Indonesia (APPRI) gelar aksi demonstrasi soal tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di depan kementrian imigrasi dan mabes polri pada Jum’at, 22 Agustus 2025. APPRI mendesak kepada Kapolri dan menteri imigrasi agar melakukan pemeriksaan terhadap oknum pejabat imigrasi Sumatera Utara dan imigrasi kota Medan karena diduga terlibat dalam tindak pidana perdagangan orang. […]

  • Tak Tunggu Air Naik: Camat Maros Baru, KSB, dan Relawan Bergerak Cepat Pantau Wilayah Rawan

    Tak Tunggu Air Naik: Camat Maros Baru, KSB, dan Relawan Bergerak Cepat Pantau Wilayah Rawan

    • calendar_month Sabtu, 10 Jan 2026
    • account_circle Sakti
    • visibility 334
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Kecamatan Maros Baru resmi menetapkan status Siaga 1 Banjir menyusul meningkatnya intensitas hujan dan naiknya debit air di sejumlah titik rawan. Menyikapi kondisi tersebut, Camat Maros Baru menunjukkan respons cepat dengan turun langsung ke lapangan melakukan patroli dan pemantauan wilayah, bersama unsur relawan dan masyarakat. Patroli tersebut melibatkan Ketua Kampung Siaga Bencana […]

  • Mengapa Harus Panahan? photo_camera 2

    Mengapa Harus Panahan?

    • calendar_month Sabtu, 3 Jan 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 422
    • 0Komentar

    Catatan Antropolog tentang Disiplin, Rasa, dan Jalan Pulang pada Diri Ada olahraga yang membuat kita berkeringat. Ada yang memacu adrenalin. Dan ada satu yang membuat kita diam namun justru di sanalah kita menemukan diri sendiri. Panahan adalah yang terakhir. Saya menulis ini sebagai antropolog—dan pengalaman itu diperkaya oleh perjumpaan panjang dengan Bang Ade Permana, seorang […]

  • Kas Langit

    Kas Langit

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle Dr. Muhammad Aras Prabowo, M.Ak.
    • visibility 359
    • 0Komentar

    Ramadhan itu unik. Ia seperti auditor independen yang datang tanpa diundang, memeriksa laporan keuangan batin kita. Bedanya, auditor ini tidak membawa kertas kerja, tapi membawa pahala. Ia tidak bertanya soal aset lancar, tetapi soal amal lancar. Dan yang paling penting, ia tidak bisa “diajak negosiasi”. Sebagai orang akuntansi, saya sering merenung: mengapa kita begitu teliti […]

expand_less