Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Di Bawah Bayang-Bayang AI: Percepatan Perubahan dan Tantangan Memahami Dunia yang Kian Tak Terduga

  • account_circle Muhammad Kamal
  • calendar_month Kamis, 4 Jun 2026
  • visibility 157
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jika pada awal tahun 2000-an Yasraf Amir Piliang berbicara tentang pelipatan ruang, waktu, dan tanda oleh media serta teknologi informasi, maka kecerdasan buatan hari ini membawa proses itu ke tingkat yang jauh lebih radikal. Bukan lagi sekadar pelipatan dunia, melainkan pelipatan pengetahuan, kreativitas, imajinasi, bahkan realitas itu sendiri. Kita sedang menyaksikan sebuah fase yang bisa disebut sebagai hiper-pelipatan, ketika mesin tidak lagi berfungsi sebagai medium yang menyalurkan informasi, melainkan perlahan menjelma menjadi arsitek utama yang membentuk cara manusia melihat, memahami, dan memaknai dunia.

Sampai dua atau tiga tahun lalu, banyak orang masih menganggap kecerdasan buatan (AI) sebagai teknologi masa depan. Sesuatu yang menarik untuk dibicarakan, tetapi belum cukup dekat untuk mengubah kehidupan sehari-hari secara drastis. Hari ini, anggapan itu terasa usang.

Dalam waktu yang relatif singkat, AI telah masuk ke hampir semua ruang kehidupan. Ia membantu mahasiswa menyusun tugas, mempermudah pekerjaan kantor, membuat desain, menulis artikel, menerjemahkan bahasa, bahkan menjadi teman diskusi. Perubahannya begitu cepat sehingga banyak orang merasa tidak lagi mampu membayangkan seperti apa dunia dua atau tiga tahun ke depan.

Yang berubah bukan hanya teknologinya, melainkan ritme kehidupan kita. Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, perubahan sosial tidak lagi berlangsung dalam hitungan generasi, melainkan dalam hitungan pembaruan aplikasi. Ketika masyarakat belum selesai beradaptasi dengan satu inovasi, inovasi berikutnya sudah datang membawa perubahan baru.

Analisis Yasraf Amir Piliang dalam Dunia yang Dilipat menjadi semakin relevan. Jauh sebelum ledakan AI terjadi, Yasraf telah menuliskan bahwa perkembangan teknologi akan membuat ruang, waktu, dan berbagai tanda dalam kehidupan manusia mengalami “pelipatan”. Yang jauh menjadi dekat. Yang lampau dapat hadir kembali dalam sekejap. Yang semula hanya representasi perlahan memengaruhi bahkan menggantikan realitas itu sendiri.

Namun jika internet dan media sosial melipat informasi, AI tampaknya melipat sesuatu yang lebih mendasar yaitu kemampuan manusia untuk menghasilkan pengetahuan. Dulu seseorang membutuhkan waktu berhari-hari untuk menyusun laporan, merangkum buku, atau membuat ilustrasi. Kini pekerjaan yang sama dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Tentu saja ini membawa banyak manfaat. Produktivitas meningkat. Akses terhadap pengetahuan menjadi lebih mudah. Hambatan teknis yang selama ini membatasi kreativitas semakin berkurang. Namun di saat yang sama, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting: apa yang terjadi ketika manusia semakin terbiasa menerima hasil tanpa mengalami proses yang melahirkannya?

Pertanyaan ini penting karena pengetahuan tidak hanya soal menemukan jawaban yang benar. Pengetahuan juga lahir dari proses berpikir, keraguan, pencarian, dan kemampuan menghubungkan berbagai informasi menjadi pemahaman yang utuh. Ketika teknologi mampu menyediakan jawaban secara instan, ada risiko bahwa kita memperoleh lebih banyak informasi tetapi tidak selalu memperoleh pemahaman yang lebih dalam.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik ketika bertemu dengan budaya media sosial di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, ruang publik kita semakin dipengaruhi oleh logika viralitas. Perhatian menjadi komoditas yang diperebutkan. Akibatnya, banyak isu sosial dan politik dikemas agar mudah dibagikan, mudah dikomentari, dan mudah memancing emosi.

Di sinilah muncul fenomena yang bisa disebut sebagai populisme disertai candaan receh. Sialnya Banyak aktor politik lebih mudah menjangkau publik melalui meme, humor, atau konten ringan dibandingkan melalui penjelasan kebijakan yang panjang. Politik perlahan bergerak mengikuti logika media sosial: yang penting bukan selalu yang paling substantif, melainkan yang paling mampu menarik perhatian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara kita berkomunikasi, tetapi juga mengubah cara kita berpolitik dan memahami realitas. Ketika perhatian menjadi sumber daya yang paling berharga, maka kemampuan mengendalikan perhatian publik menjadi bentuk kekuasaan baru.

AI berpotensi memperkuat kecenderungan ini. Teknologi tersebut memungkinkan produksi konten dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tulisan, gambar, video, hingga suara dapat dibuat secara cepat dan murah. Batas antara informasi, hiburan, promosi, dan propaganda menjadi semakin tipis. Dalam situasi seperti ini, tantangan terbesar bukan lagi menemukan informasi, melainkan memilah mana yang layak dipercaya.

Pemikir Prancis Guy Debord pernah memperingatkan tentang lahirnya masyarakat tontonan, yaitu masyarakat yang semakin banyak berhubungan dengan citra dibandingkan kenyataan. Jika konsep itu digunakan untuk membaca kondisi hari ini, kita mungkin sedang memasuki tahap yang lebih jauh. Kita tidak hanya hidup di tengah banjir citra, tetapi juga di tengah banjir citra yang dapat diproduksi tanpa batas oleh mesin.

Karena itu, perdebatan mengenai AI seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan apakah teknologi ini akan menggantikan pekerjaan manusia atau tidak. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah bagaimana manusia mempertahankan kemampuan berpikir kritis di tengah dunia yang bergerak semakin cepat.

Sebab persoalan terbesar abad ini mungkin bukan kekurangan informasi, melainkan kelebihan informasi yang tidak selalu menghasilkan pemahaman. Kita mengetahui lebih banyak hal dibanding generasi sebelumnya, tetapi belum tentu memahami dunia dengan lebih baik.

dalam percepatan yang nyaris tanpa jeda ini, kemampuan paling penting adalah membaca lebih dalam, berpikir lebih lambat, dan tidak terburu-buru mempercayai apa pun yang muncul di layar. Karena dalam era AI, tantangan sesungguhnya bukan sekadar mengikuti perkembangan teknologi, melainkan menjaga agar akal sehat tidak tertinggal di belakangnya.

  • Penulis: Muhammad Kamal

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    Laba Bisa Ditulis, Tapi Keseimbangan Neraca Tidak Bisa Dibohongi

    • calendar_month Sabtu, 26 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Dalam dunia keuangan, laporan laba rugi sering jadi primadona. Investor melihatnya, direksi memamerkannya, media mengutipnya. Tapi bagi seorang akuntan, neraca—ya, struktur aset, kewajiban, dan ekuitas—adalah panggung sesungguhnya di mana kekuatan dan kelemahan suatu entitas benar-benar bisa dinilai. Maka ketika saya membaca laporan keuangan PT Bank Pembangunan Daerah Sulawesi Utara Gorontalo (BSG) per 31 Desember 2024, […]

  • Marhaban Ya Ramadhan

    Marhaban Ya Ramadhan

    • calendar_month Senin, 16 Feb 2026
    • account_circle Ilham Sopu 
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Dalam salah satu bukunya yang masuk kategori best seller yakni Lentera Al-Qur’an, kisah dan hikmah kehidupan, salah satu tema yang dikupas Prof Quraish adalah menyangkut ramadhan. Ada dua kata yang digunakan untuk menyambut tamu yang datang, yakni marhaban dan ahlan wa sahlan, keduanya berarti selamat datang, tapi beda dalam penggunaan kalimat tersebut. Menurut Prof Quraish, […]

  • Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    Kader Muda NU Barru Konsolidasi Jelang Konfercab, Dorong Perubahan Kepemimpinan

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 180
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Menjelang pelaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kabupaten Barru, dinamika internal organisasi mulai menghangat. Sejumlah badan otonom (Banom) dan kader muda NU Barru menyatakan tengah melakukan konsolidasi untuk mendorong perubahan kepemimpinan serta pembenahan organisasi. Dorongan tersebut muncul setelah berbagai kalangan menilai NU Barru membutuhkan penyegaran agar kembali aktif menjalankan program keummatan, kaderisasi, dan […]

  • Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    Api yang Tak Pernah Padam: Menjaga Tujuan, Merawat Sejarah, dan Menyemai Masa Depan Himpunan Mahasiswa Islam

    • calendar_month Kamis, 5 Feb 2026
    • account_circle Dr. Husin Ali
    • visibility 434
    • 0Komentar

    Tujuh puluh sembilan tahun bukanlah bilangan kecil dalam kalender sebuah organisasi. Ia adalah rangkuman dari denyut generasi, dari tarikan napas para mahasiswa yang datang silih berganti, membawa kecemasan zamannya masing-masing, sekaligus memikul harapan bangsa yang tak pernah sederhana. Pada usia inilah HMI berdiri hari ini—bukan sekadar sebagai organisasi kemahasiswaan, melainkan sebagai sekolah peradaban yang telah […]

  • Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    Ada Apa dengan (Haji) Bawakaraeng

    • calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Kalau Anda bertanya kepada seorang muslim, apakah ia punya niatan naik haji, maka dari  jutaaan mereka nyaris punya jawaban yang sama, “ingin berhaji melengkapi rukun Islam kelima. Saya pun adalah satu dari sekian banyak umat Islam yang selalu mengharu-birukan doa untuk mendapat undangan Sang Khaliq ke Rumah-Nya yang suci itu. Naik haji ke Baitullah (Makkah […]

  • Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    Pertemuan 3 Jam Prabowo dan Anwar Ibrahim di Istana Merdeka, Bahas Isu Global dan Persahabatan

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 297
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Presiden Prabowo Subianto menerima kunjungan sahabat lamanya yang juga Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, di Istana Merdeka pada Jumat, 27 Maret 2026. Pertemuan tersebut berlangsung selama kurang lebih tiga jam dalam suasana hangat dan penuh keakraban. Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyampaikan bahwa pertemuan itu tidak hanya menjadi ajang silaturahmi Lebaran, tetapi juga […]

expand_less