Empat Desa di Molalahu Mulolo Merajut Ingatan Bersama di Tengah Isu Lingkungan
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 65
- print Cetak

Foto bersama peserta usai pertemuan Komunitas Molalahu Mulolo di Aula Kantor Desa Molalahu, Kabupaten Gorontalo, Kamis (2/7/2026). Pertemuan yang diikuti perwakilan empat desa—Molalahu, Molamahu, Toyidito, dan Ayumolingo—membahas penguatan sejarah dan budaya, pelestarian lingkungan, serta rencana mendorong Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan DPRD Kabupaten Gorontalo terkait dugaan aktivitas pertambangan tanpa izin yang berdampak pada kawasan hulu dan bantaran sungai.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
nulondalo.com, Gorontalo – Komunitas Molalahu Mulolo yang digagas oleh mantan aktivis tahun 2000 menggelar pertemuan bersama pemerintah desa, tokoh masyarakat, akademisi, dan generasi muda di Aula Kantor Desa Molalahu, Kabupaten Gorontalo, Kamis, 2 Juli 2026.
Pertemuan yang dihadiri sekitar 30 tokoh dari empat desa, yakni Molalahu, Molamahu, Toyidito, dan Ayumolingo, ini menjadi ruang konsolidasi bersama untuk membahas penguatan kearifan lokal, pelestarian budaya, isu lingkungan, serta arah pembangunan kawasan Molalahu Mulolo ke depan.
Gagasan “Molalahu Mulolo” ditegaskan bukan sebagai ajakan untuk kembali ke masa lalu, melainkan sebagai upaya menjadikan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal sebagai kekuatan pemersatu empat desa dalam membangun masa depan yang lebih berkelanjutan.
Akademisi IAIN Sultan Amai Gorontalo, Momy Hunowu, dalam pemaparan historisnya menjelaskan bahwa kawasan Molalahu Mulolo pada masa lampau merupakan satu kesatuan wilayah dalam lingkup lemboa di Linula Tomilito. Ia juga menjelaskan bahwa nama Molalahu diyakini berasal dari istilah “lalalalahu” yang berarti menguning, merujuk pada kisah pancaran cahaya matahari yang mengenai bongkahan emas di wilayah tersebut.
Inisiator kegiatan, Ariyanto Mopangga, menyampaikan bahwa secara alamiah empat desa di kawasan ini memiliki kekhasan masing-masing yang saling melengkapi. Desa Molamahu diproyeksikan sebagai kawasan situs budaya, Desa Ayumolingo sebagai kawasan konservasi, Desa Toyidito sebagai sentra olahraga dan kesenian, sementara Desa Molalahu sebagai pusat pendidikan dengan berbagai lembaga seperti TK Pembina, SD, SMP, SMK, hingga pondok pesantren.
Sementara itu, akademisi Unisan Gorontalo Utara, Parmin Ishak, menambahkan bahwa kawasan Ayumolingo memiliki potensi besar sebagai wilayah konservasi yang bahkan dapat terhubung hingga wilayah Gorontalo Utara.
Diskusi yang dipandu Ismail Side, juga menyoroti persoalan lingkungan yang terjadi di wilayah hulu dan bantaran sungai. Perwakilan Pemerintah Desa Molamahu dan Kepala Dusun Transmigrasi dari Toyidito memaparkan kronologi dampak kerusakan lingkungan yang mulai dirasakan masyarakat, terutama yang diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan tanpa izin.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar