Breaking News
dark_mode
Trending Tags

Dari Biluhu ke Bolsel: Kisah Pemburu Tuna

  • account_circle Apriyanto Rajak
  • calendar_month Rabu, 26 Nov 2025
  • visibility 196
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dua orang nelayan tradisional menempuh lebih dari 200 kilometer pada pertengahan Februari 2025 melalui jalur laut. Mereka berangkat dari kampung halamannya Desa Biluhu Barat, Kecamatan Biluhu, Kabupaten Gorontalo menuju Desa Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki, Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, untuk berburu ikan tuna.

Dua nelayan tradisional tersebut bernama Aten Rauf 53 tahun dan Tahir Rajak 52 tahun. Mereka menggunakan perahu fiber memiliki panjang 9 meter, tinggi 70 centimeter dan lebar 60 centimeter. Menggunakan mesin merk Yamaha berkekuatan 15 PK. Melaut ikan tuna di Bolsel mereka telah lakukan berulang kali yang dimulai sejak puluhan tahun lalu. Perjalanan sebelumnya yang paling dekat adalah pada awal tahun 2023.

“Sejak masih usia muda kawasan perairan Tolondadu, Molibagu dan Pinolosian, sangat akrab dengan kami, tempat kami melaut ikan tuna,” kata Tahir.

Tiga desa yang disebutkan Tahir ini berada di Kecamatan Bolaang Uki dan Pinolosian, Kabupaten Bolsel; sebuah daerah yang mekar pada 2008 silam. Di wilayah ini masyarakat bersuku Gorontalo bisa dikatakan mayoritas. Memang sejak zaman dahulu, banyak masyarakat Gorontalo berdiaspora ke Bolsel, yang sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Ada yang kembali pulang ke kampung halaman, ada pula yang menetap. Mudah sekali kita menemukan masyarakat ‘suku’ Gorontalo, antara lain di Desa Tolondadu, Tabilaa, Ilomata, Linawan dan Pinolosian.

Dalam skripsi yang ditulis Muhammad Taufik Lakoro, dengan judul: “Diaspora Etnis Gorontalo di Bolaang Mongondow Selatan (Studi Penelitian di Desa Tolondadu, Kecamatan Bolaang Uki)” menyebutkan, masyarakat Gorontalo melakukan diaspora atau mobilitas ke Desa Tolondadu dimulai sejak tahun 1920-an, 1946, 1957, 1966, 1971, 1975, 1978, 1982 hingga 1999.

Contoh lain dari diaspora adalah saya sendiri. Bapak, Ibu, Kakek dan Nenek saya baik sebelah-menyebelah merupakan masyarakat yang bersuku Gorontalo. Berdasarkan penuturan orang tua saya, di wilayah Bolsel ini, kualitas tanahnya sangat subur, begitu juga hasil tangkapan ikan yang melimpah menjadi daya tarik ke daerah ini. Barangkali, hal demikian pula menjadi alasan oleh sebagian besar masyarakat Gorontalo ketika datang awal kali.

Melaut di Bolsel

Aten dan Tahir memiliki pengalaman puluhan tahun di kawasan laut Bolsel. Selain itu, mereka memiliki keluarga yang telah berdiaspora di daerah itu. Dengan demikian, sebelum melakukan perjalanan “jauh” ke Bolsel mereka harus memastikan terlebih dahulu apakah ikan tuna sudah mudah ditemui di perairan tersebut. Sebab, umumnya diketahui tuna merupakan jenis ikan perenang tercepat yang tidak berhenti berenang dan melakukan migrasi hingga ribuan kilometer.

“Sebelum ke Bolsel, kami hubungi dulu keluarga kami di sana, apakah ikan tuna so ba sandar?,” kata Aten.

“Ba sandar” yang dimaksudkan Aten ialah bahasa umum yang biasa digunakan oleh para nelayan terutama di daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo, yang memiliki arti bahwa ikan tuna telah mudah ditemui di sejumlah rakit atau rompong dengan adanya para nelayan setempat yang mendapat hasil tangkapan ikan tuna.

Aten dan Tahir sama seperti nelayan tradisional penangkap ikan tuna pada umumnya, yang sebelum berangkat ke rakit atau rompong harus memastikan bahan dasar untuk menangkap ikan tuna tersedia: mulai dari tali nilon ukuran bervariasi antara lain nomor 20 sampai 100; kemudian bekal selama melaut seperti beras, rica atau acara; selanjutnya ialah bahan bakar bensin.

“Kami biasanya dalam sekali melaut harus menyiapkan bensin minimal 25 liter. Sebab jarak rakit dari daratan ke laut di atas dari 10 mil,” ucap Aten.

Hampir dua bulan lebih Aten dan Tahir berada di Bolsel, hasil tangkapan tuna yang diperoleh masih jauh dari harapan; masing-masing dari mereka hanya memperoleh dua ekor tuna dengan berat mencapai kurang lebih 50-60 kilogram.

Padahal, kata Aten perairan Bolsel sejak dahulu terkenal dengan perikanannya yang melimpah terutama ikan tuna. Tetapi kini telah menurun. Dengan alasan ini dia dan Tahir kembali ke kampung halaman pada Rabu 9 April 2025. Mereka berangkat pukul 05.30 pagi dan tiba di Biluhu Barat 17.00 wita. Sempat singgah di Desa Manggadaa, Kecamatan Posigadan, Kabupaten Bolsel, sekitar sejam untuk mengistirahatkan mesin perahu.

Fluktuasi Tangkapan Tuna

Data statistik yang dirilis oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia (RI) melalui website resminya menjelaskan, sepanjang lima tahun terakhir mulai dari 2019-2023 menunjukkan fluktuasi produksi perikanan tangkap tuna di Kabupaten Bolsel.

Pada tahun 2019: Tuna sirip kuning; madidihang mencapai 3.483,6 ton. Sedangkan tuna mata besar 870,9 ton. Berikutnya tahun 2020 mengalami penurunan: Tuna sirip kuning; madidihang 2.593,99 ton. Sementara tuna mata besar 349,56 ton.

Penurunan tangkapan tuna kembali terjadi pada tahun 2021: Tuna sirip kuning; madidihang 1.313,82 ton. Sementara untuk tuna mata besar di tahun ini tidak ada hasil tangkapan. Berikutnya pada 2022 mengalami kenaikan signifikan: Tuna sirip kuning; madidihang 5.630,42 ton. Sedangkan tuna mata besar 1.716,9 ton.

Sementara itu, pada 2023 data yang paling mutakhir dirilis oleh KKP RI menjelaskan mengalami penurunan tangkapan dibandingkan tahun sebelumnya, yakni: Tuna sirip kuning; madidihang 3.391,48 ton. Sedangkan tuna mata besar 228,21 ton.

Berdasarkan data tersebut bisa disimpulkan bahwa produksi tangkapan tuna tidak pernah stabil; adakalanya mengalami penurunan yang signifikan demikian juga sebaliknya. Hal ini pula yang dirasakan Aten dan Tahir selama puluhan menjadi seorang nelayan tuna. Itulah mengapa mereka tak berdiam di laut Gorontalo, melainkan harus mengembara dan mencari informasi keberadaan tuna di perairan lain.

Sekembalinya di kampung halaman, Aten dan Tahir tentu berharap ikan tuna mulai “ba sandar” di kawasan laut Biluhu, Gorontalo. Sebuah asa untuk terus melanjutkan hidup demi memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka berdua tidak hanya sang penakluk lautan Bolsel, tetapi perburuan tuna pernah dilakukan sampai ke perairan Marisa Kabupaten Pohuwato bahkan Kecamatan Tinombo, Sulawesi Tengah.*

Penulis: Apriyanto Rajak – (Warga di Pesisir Pantai Selatan, Sulawesi Utara)

  • Penulis: Apriyanto Rajak
  • Editor: Apriyanto Rajak

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    Dadan Hindayana: Dari Akademisi dan Ahli Entomologi hingga Terseret Kasus Dugaan Korupsi Program MBG

    • calendar_month Jumat, 5 Jun 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 201
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Nama Dadan Hindayana kembali menjadi sorotan publik setelah ditetapkan sebagai tersangka dpada perkara dugaan tindak pidana korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Namun jauh sebelum itu, Dadan dikenal sebagai akademisi dan pakar entomologi yang memiliki rekam jejak panjang di dunia pendidikan dan penelitian. Dadan Hindayana lahir di Garut, Jawa Barat, pada […]

  • Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2025 Tuntas, Wakil Bupati Tekankan Aksi Nyata

    Pemilihan Duta Anti Narkoba Maros 2025 Tuntas, Wakil Bupati Tekankan Aksi Nyata

    • calendar_month Minggu, 14 Des 2025
    • account_circle Sakti
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Nulondalo.com, Maros – Rangkaian Pemilihan Duta Anti Narkoba Kabupaten Maros Tahun 2025 resmi berakhir. Grand Final yang digelar di Gedung Serbaguna Pemkab Maros, Sabtu (13/12/2025), melahirkan generasi muda terpilih yang diharapkan menjadi garda terdepan dalam pencegahan penyalahgunaan narkoba di Bumi Turikale. Berdasarkan hasil penilaian dewan juri, Muh Saipul Amry, mahasiswa Universitas Negeri Makassar asal Kecamatan […]

  • Pesantren Kilat Ramadhan The Nusa Institute Tekankan Iman, Akhlak, dan Kesadaran Ekologis Generasi Muda

    Pesantren Kilat Ramadhan The Nusa Institute Tekankan Iman, Akhlak, dan Kesadaran Ekologis Generasi Muda

    • calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 230
    • 0Komentar

    nulondalo.com – Lembaga riset dan pengembangan keislaman The Nusa Institute menyelenggarakan kegiatan Pesantren Kilat Ramadhan 1447 H pada 6–8 Maret 2026 di Aula PKUMI kawasan Masjid Istiqlal. Kegiatan ini mengusung tema “Iman Naik, Akhlak Baik, Lingkungan Asri”, sebagai bagian dari upaya memperkuat pembinaan spiritual, akhlak, serta kesadaran ekologis bagi generasi muda Muslim. Pesantren kilat ini […]

  • Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    Ramadan dan Pelajaran Menerima Kritik dari Rasulullah

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Djemi Radji
    • visibility 340
    • 0Komentar

    Ramadan sering dipahami sebagai bulan peningkatan ibadah. Namun sejatinya, Ramadan juga merupakan momentum untuk memperbaiki akhlak dan cara kita menyikapi kehidupan. Salah satu pelajaran penting yang sering terlupakan adalah bagaimana bersikap terhadap kritik. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menemukan keputusan yang terasa kurang tepat. Baik itu keputusan atasan di kantor, pimpinan organisasi, maupun keputusan dalam […]

  • Nasaruddin Umar Office Apresiasi Komitmen MNC Asset Management Jaga Tata Kelola Investasi Syariah

    Nasaruddin Umar Office Apresiasi Komitmen MNC Asset Management Jaga Tata Kelola Investasi Syariah

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 137
    • 0Komentar

    nulondalo.com –  Direktur Keuangan Nasaruddin Umar Office, Karim Bakri, mengapresiasi komitmen MNC Asset Management dalam menjaga tata kelola investasi syariah melalui penyaluran dana pembersihan (cleansing) reksa dana syariah kepada lembaga sosial dan keagamaan. Apresiasi tersebut disampaikan menyusul penyaluran dana pembersihan reksa dana syariah sebesar Rp35 juta kepada Nasaruddin Umar Office dan Rp35 juta kepada Lazismu. […]

  • Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    Demokrasi (Harus) Menjadi Kebudayaan

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Refleksi Temu Nasional (TUNAS) Jaringan GUSDURian 2025 Oleh : Pepy Al-Bayqunie (Jamaah GUSDURian, tinggal di Sulawesi Selatan yang lahir dengan nama Saprillah) Di Indonesia, demokrasi kerap tampil meriah hanya saat pemilu. Angka, statistik, dan pesta politik menjadi hal yang paling mencolok. Namun, setelah hiruk pikuk itu usai, demokrasi sering kembali sepi. Ia menyusut menjadi prosedur […]

expand_less