Gus Yahya dan Ikhtiar Menguatkan Khidmah Keagamaan NU
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 6 jam yang lalu
- visibility 12
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
NULONDALO.COM – Satu periode membersamai KH Yahya Cholil Staquf dalam kepengurusan PBNU 2022–2026 memberikan banyak pengalaman dan pelajaran bagi saya. Tentu setiap masa kepemimpinan memiliki dinamika, tantangan, kekurangan, sekaligus capaian yang kelak akan dinilai secara lebih jernih oleh sejarah. Namun, ada satu hal yang sejak awal saya tangkap dari Gus Yahya: kesadarannya bahwa Nahdlatul Ulama pertama-tama adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah—organisasi keagamaan dan kemasyarakatan—dan kata diniyyah berada di depan.
Saya masih ingat ketika Gus Yahya meminta saya ikut membantu beliau sebagai Wakil Ketua Umum PBNU. Dalam percakapan itu, beliau menekankan bahwa NU adalah jam’iyyah diniyyah ijtima’iyyah. Karena itu, menurut beliau, bidang keagamaan harus memperoleh perhatian yang sungguh-sungguh dan menjadi salah satu poros utama kerja PBNU.
Kepercayaan tersebut tentu merupakan amanah yang berat. Saya kemudian banyak berkoordinasi dan bekerja bersama orang-orang yang memiliki perhatian besar terhadap khazanah keislaman, fikih, dan pemikiran keagamaan NU. Di antaranya Gus Ulil Abshar Abdalla, Kiai Tajul mafakhir, Gus Fahrur Rozi, Gus Aab, Kiai Mahbub, Gus Silahuddin, Kiai Khodri, Gus Aniq, dan banyak kiai, akademisi, serta kader NU lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu per satu.
Dari kerja bersama itulah lahir dan berkembang berbagai ikhtiar di bidang keagamaan. Ada Halaqah Fikih Peradaban, penguatan metodologi istinbath hukum, seminar-seminar keagamaan, penataan berbagai Peraturan Perkumpulan NU (Perkum), serta sejumlah agenda lain untuk memperkuat tradisi intelektual dan kelembagaan NU. Bersamaan dengan itu, melalui Digdaya Persuratan, tata kelola administrasi organisasi juga mulai diarahkan menjadi lebih tertib dan terdigitalisasi.
Perhatian kepengurusan periode ini terhadap turats dan khazanah keislaman Nusantara juga merupakan hal yang patut dicatat. Bersama Kiai Tajul dan kawan-kawan, saya berkesempatan terlibat dalam sejumlah kerja untuk menggali, menghimpun, dan menghadirkan kembali warisan intelektual para ulama. Di antaranya penyusunan Majmū‘ Mu’allafāt Ulama Indonesia, yang menghimpun karya-karya ulama Nusantara, serta penyusunan kitab Tsaquf al-Akhyar menjelang Seminar Internasional Fikih Peradaban.
Bagi saya, ikhtiar semacam ini penting karena NU tidak boleh tercerabut dari akar keilmuannya. Membicarakan masa depan NU dan peradaban dunia harus berjalan beriringan dengan merawat sanad keilmuan, membaca kembali turats, dan mengenalkan karya para ulama Nusantara kepada generasi berikutnya. Berpikir tentang masa depan tidak berarti meninggalkan khazanah masa lalu. justru dari akar keilmuan yang kuat itulah NU dapat memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan baru.
Program-program tersebut tentu bukan karya satu atau dua orang. Semuanya merupakan hasil kerja kolektif banyak kiai, pengurus, lembaga, dan kader NU. Namun, saya kira patut dicatat bahwa Gus Yahya memberikan ruang dan dukungan organisatoris agar berbagai ikhtiar tersebut dapat berjalan dan berkembang.
Saya juga menyaksikan sendiri bagaimana Gus Yahya menempatkan bidang keagamaan dalam struktur kepengurusan. Ketika pernah muncul usulan agar Wakil Ketua Umum yang membidangi sektor lain ditempatkan secara urutan di atas Wakil Ketua Umum bidang keagamaan, Gus Yahya tetap meminta agar Wakil Ketua Umum yang membidangi keagamaan ditempatkan pada urutan pertama dan langsung setelah Ketua Umum.
Bagi sebagian orang, urutan seperti itu mungkin terlihat sebagai persoalan administratif yang sederhana. Tetapi bagi saya, keputusan tersebut menggambarkan cara pandangnya tentang identitas dasar NU: sebesar apa pun NU berkembang dalam bidang sosial, ekonomi, politik kebangsaan, pendidikan, teknologi, dan berbagai bidang lainnya, ruh utamanya tetaplah khidmah keagamaan.
Tentu kepemimpinan Gus Yahya selama satu periode tidak berlangsung tanpa perdebatan. Ada keputusan yang mendapatkan dukungan, ada pula yang mengundang kritik. Itu merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi sebesar NU. Saya sendiri tidak selalu mempunyai pandangan yang sama dalam setiap persoalan. Tetapi perbedaan pandangan tidak semestinya membuat kita kehilangan kemampuan untuk mengakui hal-hal baik yang telah dikerjakan.
Beberapa warisan periode ini menurut saya layak dijaga dan dikembangkan: Digdaya, Halaqah Fikih Peradaban, perhatian terhadap turats dan karya ulama Nusantara, penguatan sistem dan Perkum NU, serta pengembangan metodologi istinbath melalui berbagai seminar dan forum keilmuan. Yang sudah baik perlu diteruskan, yang masih kurang perlu disempurnakan, dan yang belum selesai perlu dituntaskan.
Secara pribadi, saya juga menyadari bahwa berbagai kepercayaan yang kemudian saya terima dari banyak kiai, pengurus, dan warga NU selama beberapa tahun terakhir tidak dapat dilepaskan dari keputusan Gus Yahya yang memberikan kepercayaan kepada saya untuk menjadi Wakil Ketua Umum PBNU. Amanah itu memperluas ruang khidmah saya sekaligus mempertemukan saya dengan begitu banyak kiai, kader, dan jaringan NU di berbagai daerah.
Karena itu, untuk kepercayaan dan kesempatan berkhidmah tersebut, saya menyampaikan terima kasih kepada Gus Yahya. Kepercayaan seseorang sering kali membuka jalan bagi tumbuhnya kepercayaan dari banyak orang lainnya. Dalam perjalanan khidmah saya selama satu periode ini, saya tidak melupakan bahwa salah satu pintu itu dibukakan oleh Gus Yahya.
Pada akhirnya, jabatan dalam NU datang dan pergi, sedangkan khidmah kepada jam’iyyah harus terus berjalan. Setiap kepemimpinan menerima warisan dari pendahulunya, kemudian mempunyai kewajiban untuk merawat yang baik, memperbaiki yang kurang, dan menghadirkan pembaruan sesuai kebutuhan zamannya.
Karena itu, kepada Gus Kikin, Ketua Umum PBNU yang mendapat amanah untuk periode berikutnya, saya menaruh harapan besar. Semoga beliau dapat meneruskan hal-hal baik yang telah dibangun pada masa Gus Yahya, sekaligus menyempurnakan apa yang masih memerlukan perbaikan. Terutama, saya berharap khidmah keagamaan tetap ditempatkan sebagai ruh utama PBNU, tradisi keilmuan dan turats para ulama terus diperkuat, serta seluruh potensi besar yang dimiliki NU dapat dirangkul untuk bekerja bersama.
Setiap zaman mempunyai tantangannya dan setiap pemimpin mempunyai caranya. Yang tidak boleh berubah adalah tujuan kita: menjaga agama, merawat jam’iyyah, dan menghadirkan kemaslahatan sebesar-besarnya bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.
Penulis KH Zulfa Mustofa
Waketum PBNU masa khidmat 2022- 2026
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar