Arqam, Sang Pemilik Rumah Legendaris (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #7)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 16 jam yang lalu
- visibility 27
- print Cetak

Ilustrasi suasana rumah Al-Arqam di kaki Bukit Shafa, Mekah, yang menjadi tempat pertemuan rahasia Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat pada masa awal dakwah, ketika wahyu dipelajari dan komunitas Muslim pertama dibina dalam suasana sederhana namun penuh keteguhan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Bagi kader Muhammadiyah, istilah Darul Arqam tentu sudah akrab. Darul Arqam adalah sebutan untuk jenjang pengkaderan yang menjadi bagian penting dalam pembinaan anggota dan kader Muhammadiyah. Secara harfiah, Darul Arqam berarti “rumah Arqam”, merujuk pada sahabat Nabi Muhammad SAW, Arqam, yang rumahnya menjadi tempat berkumpul dan belajar para sahabat Muslim pertama. Dari sinilah prinsip pengkaderan dan pembinaan komunitas yang aman dan terstruktur terinspirasi, lalu diterapkan dalam tradisi Darul Arqam Muhammadiyah hingga kini.
Lalu, siapa Arqam itu?
Arqam bin Abdul Manaf bin Asad termasuk dalam as-sabiqunal awwalun — mereka yang menerima Islam di masa awal kenabian Nabi SAW di Mekah. Riwayat menyebutkan, ia berada di antara tujuh atau delapan orang pertama yang memeluk Islam setelah Rasulullah SAW mulai menyampaikan wahyu. Ada pula yang mengatakan Arqam masih remaja ketika mengambil keputusan besar itu, sementara keluarganya saat itu bukan pendukung Rasulullah.
Arqam lahir di Mekah dari suku Quraisy, tepatnya klan Banu Makhzum — sebuah klan yang berpengaruh dan disegani. Ayahnya, Abu al-Arqam (Abd Manaf ibn Asad), adalah tokoh dari klan tersebut, sedangkan ibunya disebut bernama Umama binti Al Harith dari suku Khuza’ah. Arqam kemudian menikah dengan Hind binti Abdullah dari suku Asad, dan dari pernikahan itu lahirlah anak-anak seperti Umayya dan Maryam.
Yang membuat nama Arqam bin Arqam abadi dalam sejarah adalah keberaniannya membuka rumahnya bagi kaum Muslimin. Pada masa dakwah yang masih sangat awal, ketika Islam disampaikan secara rahasia dan penuh risiko, Nabi SAW dan para sahabat tidak bisa berkumpul secara terbuka. Pertemuan semacam itu bisa berujung penganiayaan. Dalam kondisi genting itulah, Arqam menawarkan rumahnya sebagai tempat berkumpul yang aman.
Rumah itu berdiri di kaki Bukit Safa, tidak jauh dari pusat kota Mekah, namun cukup tersembunyi dari pandangan orang-orang yang menentang Islam. Bangunannya sederhana, rumah biasa di kawasan permukiman. Di rumah itu, Nabi SAW dan para sahabat membentuk majelis pembelajaran, menelaah wahyu yang turun, dan yang terpenting menjadi penopang awal komunitas muslim.
Peran rumah Arqam begitu penting hingga sebagian sejarawan menyebutnya sebagai “madrasah pertama dalam sejarah Islam.” Dari tempat sederhana itu, lahir tokoh-tokoh besar yang kelak menyebarkan Islam ke berbagai wilayah setelah dakwah semakin terbuka dan komunitas Muslim berkembang pesat.
Rumah Arqam selalu tercatat dalam sejarah Islam. Namanya tetap dikenal sebagai bagian dari perjalanan dakwah Nabi Muhammad SAW. Berabad-abad kemudian, rumah kecil di kaki Bukit Safa itu masih menjadi inspirasi bagi pengkaderan dan pembinaan generasi Muslim.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar