Bagaimana jika Ramadan Bukan Bulan yang Paling Istimewa?
- account_circle Tarmizi Abbas
- calendar_month Sabtu, 26 Apr 2025
- visibility 101
- print Cetak

Ilustrasi/pixabay
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kesinambungan ini bahkan merentang hingga ke dalam praktik agama Yahudi. Dalam hal ini, hari Asyura, di 10 Muharram, menjadi cikal-bakal munculnya tradisi puasa di bulan Ramadan. Mun’im Sirry, di dalam Islam Revisionis (2018), menyebut hal ini dengan dua alasan kunci: 1) Nabi memerintahkan puasa pada hari tersebut (hadist); 2) karena puasa Asyura sudah rutin dilakukan oleh kaum Quraisy. Dua alasan ini, jika di beber jantungnya, berdaras pada peristiwa Hari Pengampunan (YomKippur), ketika umat Yahudi terbebas dari keangkuhan Fir’aun di Mesir sekaligus awal Eksodus Nabi Musa. Hanya saja, setelah perintah puasa Ramadan ini turun, status puasa Asyura turun menjadi sunnah dan puasa Ramadan menjadi wajib dilakukan bagi umat Islam. Lantas apa yang distingtif sekaligus membuat puasa Ramadan menjadi begitu istimewa dan agung, selain dari paralelitas ini?
Tentu saja, lanjut Sirry (2018) karena pertama, ada ayat al-Quran yang memerintahkan; kedua, karena hal ini berkaitan dengan keagungan-keagungan yang terjadi selama Ramadan: suhuf Ibrahim diturunkan pada 1 Ramadan, Taurat diturunkan pada Nabi Musa As., pada 6 Ramadan, Injil diturunkan pada Nabi Isa As., pada 13 Ramadan, Zabur diturunkan pada Dawud pada 11 Ramadan, dan Al-Quran diturunkan pada Nabi Muhammad Saw., pada 24 Ramadan. Berbagai domain-domain “agung” inilah yang sebenarnya membentuk persepsi eskatologis mengapa Ramadan menjadi bulan yang paling agung. Dengan demikian, Ramadan tidak akan menjadi istimewa jika fenomena-fenomena ini tidak terjadi.
Perkembangan Tradisi Muslim
Berbagai fenomena di atas adalah domain-domain pembentuk mengapa Ramadan disebut bulan paling agung. Namun demikian, menarik untuk melihat bagaimana melihat keagungan Ramadan ini semakin pusparagam ditafsirkan oleh masyarakat Muslim pasca Kenabian Nabi Muhammad Saw. Interpretasi ini merujuk pada berbagai fenomena sosiokultural dan keagamaan yang lahir dari bagaimana umat Islam lantas menyambut Ramadan sesuai dengan konteks geografis di mana mereka tinggal.
- Penulis: Tarmizi Abbas

Saat ini belum ada komentar