Dari Tanah Bugis ke Kairo: Tudang Sipulung Merawat Persaudaraan Diaspora Indonesia
- account_circle Djemi Radji
- calendar_month 21 jam yang lalu
- visibility 60
- print Cetak

Direktur PKUMI, Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A., bersama Dekan FEB UNUSIA, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., dan mahasiswa serta komunitas diaspora Indonesia di Mesir dalam kegiatan Silaturahmi Tudang Sipulung di Sekretariat IKAKAS Mesir, Hay Sabi, Kairo, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum mempererat persaudaraan dan merawat kearifan lokal Indonesia di tanah rantau. (Foto: Dok. PKUMI–FEB UNUSIA)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KAIRO, NULONDALO.COM – Jauh dari tanah air, kerinduan terhadap kampung halaman sering kali hadir melalui hal-hal sederhana. Mulai dari percakapan dengan sesama perantau, cerita tentang keluarga, ingatan pada tradisi, hingga kebiasaan berkumpul yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Suasana itulah yang terasa dalam Silaturahmi Tudang Sipulung yang mempertemukan Pendidikan Kader Ulama Masjid Istiqlal (PKUMI), Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (FEB UNUSIA), Ikatan Alumni dan Keluarga As’adiyah (IKAKAS) Mesir, serta Kerukunan Keluarga Sulawesi (KKS) Mesir, Jumat (30/10/2026).
Bertempat di Sekretariat IKAKAS Mesir, Hay Sabi, Kairo, pertemuan tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang berada ribuan kilometer dari kampung halaman, Tudang Sipulung menjadi ruang untuk merawat ikatan persaudaraan, mempertemukan pengalaman, sekaligus menjaga ingatan kolektif tentang identitas budaya.
Tudang Sipulung sendiri merupakan tradisi masyarakat Bugis-Makassar yang secara sederhana berarti duduk bersama. Namun, maknanya jauh melampaui aktivitas berkumpul. Di dalamnya terdapat semangat musyawarah, kesetaraan, keterbukaan, dan kesediaan untuk saling mendengarkan.
Nilai-nilai tersebut terasa relevan bagi komunitas diaspora yang hidup dalam lingkungan sosial dan budaya berbeda. Sebab, merantau bukan hanya tentang menempuh pendidikan atau mencari pengalaman baru, melainkan juga tentang bagaimana seseorang tetap terhubung dengan akar kebudayaannya.
Direktur PKUMI, Prof. Dr. KH. Ahmad Thib Raya, M.A., melihat Tudang Sipulung sebagai tradisi yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai persaudaraan dalam Islam.
Baginya, pendidikan kader ulama tidak boleh berhenti pada penguasaan ilmu agama. Seorang kader ulama juga dituntut memiliki kepekaan sosial, kemampuan membangun hubungan kemanusiaan, serta kesanggupan merawat persaudaraan di tengah masyarakat yang beragam.
“Pendidikan kader ulama tidak hanya membangun kedalaman ilmu agama, tetapi juga kepekaan sosial dan kemampuan merawat persaudaraan. Tudang Sipulung memperlihatkan bagaimana tradisi lokal Indonesia dapat menjadi kekuatan dalam membangun solidaritas umat di tingkat internasional,” ungkap Ahmad Thib Raya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa tradisi lokal bukan sesuatu yang harus ditinggalkan ketika seseorang melangkah ke ruang pergaulan global. Sebaliknya, kearifan lokal dapat menjadi jembatan untuk membangun komunikasi dan solidaritas lintas komunitas.
Kearifan Lokal sebagai Modal Sosial
Dekan FEB UNUSIA, Dr. Muhammad Aras Prabowo, S.E., M.Ak., mengajak peserta melihat Tudang Sipulung dari perspektif sosial dan ekonomi.
Ia menguraikan tiga nilai penting dalam kebudayaan Bugis-Makassar, yakni sipakatau (saling memanusiakan), sipakalebbi (saling menghormati), dan sipakainge (saling mengingatkan).
Ketiganya bukan sekadar ungkapan filosofis, melainkan prinsip yang dapat menjadi fondasi kehidupan bersama. Dalam komunitas diaspora, nilai tersebut dapat diterjemahkan menjadi sikap saling membantu, membangun kepercayaan, menghargai perbedaan, dan mengembangkan tanggung jawab kolektif.
“Tudang Sipulung bukan sekadar duduk bersama, melainkan ruang membangun kesetaraan, kepercayaan, dan tanggung jawab kolektif. Dalam perspektif ekonomi, nilai tersebut merupakan modal sosial yang memperkuat tata kelola komunitas, kemandirian, dan kesejahteraan diaspora,” jelas Aras.
Ia juga mengingatkan bahwa kegiatan ini merupakan kelanjutan dari program PkM Internasional PKUMI–FEB UNUSIA. Sebelumnya, kedua lembaga tersebut telah memberikan pembekalan adaptasi sosial budaya, tata kelola keuangan, dan transaksi internasional kepada 54 mahasiswa Indonesia di Kairo.
Pembekalan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kapasitas mahasiswa agar tidak hanya mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, tetapi juga memiliki bekal untuk menjalani kehidupan sosial dan ekonomi secara lebih mandiri.
Menjaga Ikatan di Tengah Jarak
Bagi keluarga besar As’adiyah di Mesir, pertemuan semacam ini memiliki arti tersendiri. Jarak geografis yang memisahkan mereka dari tanah kelahiran tidak seharusnya memutus hubungan kekeluargaan dan tradisi keilmuan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Ketua IKAKAS Mesir, Muh. Nurul Muqaffi, menegaskan pentingnya menjaga ikatan tersebut agar nilai keilmuan, akhlak, dan kebersamaan tetap hidup di tengah komunitas perantauan.
“Silaturahmi ini menjadi wadah mempererat persaudaraan alumni dan keluarga As’adiyah. Kami berharap nilai keilmuan, akhlak, dan kebersamaan terus hidup meskipun berada jauh dari tanah air,” ujarnya.
Semangat serupa disampaikan Punggawa KKS Mesir, Muhammad Auflah Khalifah, Lc. Menurutnya, komunitas Sulawesi di Mesir memiliki peran penting sebagai ruang kebersamaan sekaligus tempat saling menguatkan bagi mahasiswa dan masyarakat Indonesia.
“KKS Mesir berkomitmen menjadi rumah kebersamaan bagi warga Sulawesi. Kolaborasi dengan PKUMI dan FEB UNUSIA membuka ruang penguatan kapasitas, jejaring sosial, serta pemberdayaan masyarakat perantauan,” tuturnya.
Kehadiran komunitas seperti IKAKAS dan KKS memperlihatkan bahwa solidaritas diaspora dapat tumbuh melalui hubungan kekeluargaan, kesamaan pengalaman, dan kesediaan untuk saling menopang.
Di tengah dinamika kehidupan internasional, ruang-ruang kebersamaan seperti ini menjadi penting. Bukan hanya untuk mengenang kampung halaman, melainkan juga membangun kekuatan sosial agar masyarakat perantauan mampu tumbuh bersama.
Dari Tradisi Lokal Menuju Persaudaraan Global
Silaturahmi Tudang Sipulung di Kairo memberikan gambaran bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak selalu harus hadir dalam bentuk kegiatan formal, pelatihan, atau program pemberdayaan yang terstruktur.
Ada pengabdian yang tumbuh melalui percakapan, perjumpaan, pelestarian tradisi, dan upaya sederhana menjaga hubungan antarmanusia.
Kolaborasi PKUMI dan FEB UNUSIA bersama komunitas diaspora Indonesia tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa pendidikan, keagamaan, kebudayaan, dan pemberdayaan ekonomi memiliki ruang pertemuan yang saling menguatkan.
Pada akhirnya, Tudang Sipulung mengajarkan satu hal sederhana: sejauh apa pun seseorang pergi, selalu ada nilai-nilai yang dapat membawanya kembali kepada akar kebudayaan dan persaudaraan.
Di Kairo, tradisi yang tumbuh dari tanah Bugis-Makassar itu menemukan ruang baru. Bukan sekadar sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai modal sosial untuk membangun kehidupan diaspora yang lebih kuat, mandiri, dan saling menghargai.
- Penulis: Djemi Radji
- Editor: Djemi Radji

Saat ini belum ada komentar