Jafar bin Abi Thalib: Diplomat Nabi Ke Afrika (Kisah Sahabat Nabi Yang Jarang Diceritakan #16)
- account_circle Pepi Al-Bayqunie
- calendar_month 7 jam yang lalu
- visibility 56
- print Cetak

Ilustrasi yang menggambarkan Ja’far bin Abi Thalib menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an di hadapan Raja Najasyi di istana Habasyah, saat memimpin rombongan sahabat yang hijrah dan memperkenalkan ajaran Islam dengan penuh hikmah dan keteguhan.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kita semua pasti sangat mengenal Ali bin Abi Thalib—sahabat sekaligus sepupu Nabi Muhammad. Namanya besar, riwayatnya panjang, dan perannya monumental dalam sejarah Islam. Tapi tahukah Anda? Ada seorang sepupu lainnya yang disebut mirip dengan Nabi, baik dari rupa maupun akhlak, dan sangat dicintai beliau. Ia bukan hanya seorang pejuang, tapi juga diplomat ulung. Namanya Ja’far bin Abi Thalib.
Ja’far adalah kakak Ali dan termasuk generasi awal yang memeluk Islam. Bersama para sahabat awal, ia merasakan pahit getir menjadi seorang Muslim. Meskipun sejarah jarang menyorotnya, perannya tak kalah menentukan dalam fase-fase awal kehadiran Islam di tanah Arab.
Salah satu peran terpenting Ja’far adalah ketika ia memimpin rombongan sahabat dalam hijrah ke Habasyah, salah satu kerajaan Kristen besar di Afrika, di tengah tekanan keras kaum Quraisy. Misi ini bukan sekadar mencari perlindungan, tetapi sekaligus menandai diplomasi Islam pertama yang keluar dari tanah Arab.
Di istana Raja Najasyi, Ja’far berdiri sebagai juru bicara kaum Muslimin. Situasinya tegang, dengan tekanan penguasa Quraisy yang ingin memulangkan rombongan itu. Dengan tenang dan penuh hikmah, Ja’far menjelaskan kedatangan mereka dan memperkenalkan Nabi Muhammad sebagai pembawa risalah Islam. Ketika ditanya tentang Isa putra Maryam, ia membacakan ayat-ayat Surah Maryam. Suaranya mengalun, menyampaikan pesan kelahiran suci dan kenabian yang mulia. Raja Najasyi meneteskan air mata, begitu pula para pendeta di sekitarnya. Hari itu, Islam menang bukan dengan pedang, tetapi dengan kata-kata yang tulus. Habasyah pun menjadi tanah aman bagi kaum Muslimin, dan Ja’far dikenang sebagai simbol diplomasi Islam pertama.
Kisah Ja’far tidak berhenti di situ. Bertahun-tahun kemudian, dalam Perang Mu’tah, Nabi menunjuk tiga komandan secara berurutan. Setelah Zaid bin Haritsah gugur, panji perang berpindah ke tangan Ja’far. Pertempuran melawan pasukan Romawi berlangsung sengit. Dalam riwayat disebutkan, tangan kanannya terputus saat memegang panji, lalu berpindah ke tangan kiri. Ketika tangan kirinya pun terputus, ia tetap memeluk panji dengan kedua lengannya yang tersisa hingga akhirnya gugur sebagai syahid.
Rasulullah yang berada di Madinah sangat berduka. Beliau menunjukkan empati yang mendalam kepada keluarga Ja’far, dan bersabda bahwa Allah mengganti kedua tangannya dengan dua sayap di surga, sehingga ia terbang bersama para malaikat. Sejak itu, ia dikenal sebagai Ja’far ath-Thayyar—Ja’far yang Terbang.
Ada sesuatu yang istimewa dari diri Ja’far. Ia berani di medan perang, matang dalam argumentasi, kuat secara fisik, dan kokoh secara intelektual serta spiritual. Ia tahu kapan harus berbicara dengan hikmah, dan kapan harus bertindak dengan keberanian total.
Mungkin sejarah lebih sering menyorot Ali dalam diskursus Islam. Namun Ja’far mengajarkan dimensi lain: pengorbanan yang tulus, keteguhan yang total, dan keberanian yang tak selalu butuh sorotan. Ia bukan sekadar sepupu Nabi; ia adalah cermin bagaimana iman bekerja dalam kata, tindakan, dan pengorbanan.
- Penulis: Pepi Al-Bayqunie

Saat ini belum ada komentar